Connect with us

METROPOLITAN

Ustaz Berpengaruh Pengagum Kiai dari Banten Tiba-tiba Ungkap Kisah Ulama Besar yang Difitnah PKI dan Dipenjara Penguasa

Published

on

UAS Hadiri Tabligh Akbar di UNIS Tangerang

Ustaz Abdul Somad (UAS) yang merupakan salah satu ustaz berpengaruh saat hadiri tabligh akbar di UNIS Tangerang. UAS juga mengaku mengagumi sosok kiai dari Banten.(Dok.BantenHits.com)

Tangerang – Ustaz Abdul Somad (UAS) yang masuk deretan ustaz paling berpengaruh saat ini, pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap kiai dari Banten, KH Abuya Dimyati Cidahu.

Hal tersebut disampaikan UAS saat memberikan tausiah dalam Tabligh Akbar yang digelar Pemkab Pandeglang di Alun-alun Pandeglang, Jumat malam, 25 Januari 2019 lalu.

BACA JUGA: Ustaz Abdul Somad Ungkap sejak 15 Tahun Lalu Ingin ke Pandeglang untuk Temui Sosok Kiai Ini

Ustaz yang pernah menjadi korban pengadangan saat ceramah, bahkan menjadi korban fitnah jelang Pemilu 17 April 2019 lalu, tiba-tiba mengunggah kisah mengenai sosok Buya Hamka, ulama besar asal Sumatera Barat.

Buya Hamka, kata UAS, pernah mengalami kisah tragis saat dihina dan difitnah pemerintah yang berkuasa.

Buya Hamka ditangkap dan dituduh dengan tuduhan tidak masuk akal, kemudian dijebloskan ke penjara seperti dialami oleh sejumlah ulama dan tokoh lainnya.

Dirinya dimasukkan ke penjara dan sang pelaku menaikkan kaki ke atas meja dengan sepatunya sambil menuding Buya Hamka dengan telunjuknya untuk menghinanya.

Perlakuan ini sangat menyakitkan hati Buya Hamka, yang merupakan ulama yang sangat dihormati itu.

“Hei Hamka, kamu pengkhianat negara! Kamu mau jual negara ke Malaysia,” kata UAS menirukan tuduhan kepada Hamka seperti dilansir tribunnews.com, Sabtu, 1 Juni 2019.

Pelaku menunjuk dengan telunjuk untuk menghina Buya Hamka, yang hatinya berkecamuk dan sangat terhina diperlakukan seperti itu.

Selain dipenjara, Buya Hamka mengalami penyiksaan hebat. Akibat penyiksaan itu, Buya Hamka harus menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Persahabatan, yang dibangun sebagai hibah dari Uni Soviet.

“Sempat terlintas untuk mengakhiri saja hidupnya saat nampak pisau silet, bisikan-bisikan bahwa dia orang terhormat, gelarnya datuk, di Universitas Al Azhar bergelar Doktor Al Azhar, saking geramnya, kisah itu dituliskan dalam Tasawuf Modern,” ucap UAS.

Di saat menjelang akhir hayatnya, dia minta anaknya untuk mengambilkan buku yang ditulisnya tersebut.

“Ambilkan buku itu, aku mau mengenang sakitnya masa itu,” ucap UAS menirukan.

Ulama besar itu, lanjut UAS, dipenjarakan atas tuduhan yang dibuat-buat pemerintah seperti dilakukan juga pada sejumlah kalangan lainnya.

Mereka ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan melawan pemerintah.

“Sampai akhirnya, PKI pun tumbang, Buya Hamka dibebaskan dari penjara,” ungkap UAS.

Setelah itu, Buya Hamka menjalani hidupnya untuk berdakwah dan menjadi imam seperti dijalani sebelum itu.

Memafkan Tokoh yang Memfitnahnya

Meski menjadi korban kesewenangan, namun Buya Hamka justru membalas dengan perilaku mulia kepada pelakunya.

“Ketika dia sedang duduk di rumah, datang seorang membawa surat, dibacanya surat itu,” katanya.

Surat itu berasal dari orang yang kejam pada Buya Hamka, orang itu juga menyiksanya.

“Isinya, kalau aku mati nanti, tolong yang menyolatkan jenazah adalah Buya Hamka,” katanya.

Yang menyiksa dan memenjarakan Buya Hamka selama 4 tahun itu akhirnya mati.

“Saya penasaran bacanya, mau tidak beliau, mau tidak, ternyata mau,” kata Ustadz Abdul Somad.

Saking gemasnya karena tindakan seperti itu, Ustadz Abdul Somad menutup buku Tasawuf Modern itu.

Meski kemudian, Ustadz Abdul Somad melanjutkan kembali untuk membaca buku tersebut.

Ada versi yang menyatakan bahwa orang yang minta disolatkan jenazahnya adalah Presiden RI I, Soekarno alias Bung Karno.

Meski Ustadz Abdul Somad tidak bersedia menyebutkan nama orang yang dimaksud telah memenjarakan Buya Hamka dan minta jenazahnya agar disolatkan itu.

“Kok mau dia. Kok Mau Buya Hamka (menyalatkan). Andai saya lah (yang mengalami) itu, dipenjara orang, disiksa orang, lalu datang utusannya, terus bilang, andai aku mati, tolong yang mengimami aku adalah saya, saya suruh cari ustadz yang lain.”

“Aku tak mau, sampai mati, tak akan aku solatkan,” katanya.

Ustadz Abdul Somad menjelaskan, itulah yang membedakan antara Buya Hamka dan kebanyakan orang lainnya.

“Baru saya tahu, lembut hatinya, lunak.Dia tidak pernah belajar di Al Azhar, sekali pun tidak. Al Azhar memanggil dia memberikan gelar Doktor, sedangkan Ustadz Abdul Somad sudah 4 tahun kuliah di Al Azhar, gelarnya cuma LC,” terangnya.

Menurut Ustadz Abdul Somad, dia sadar diri karena tidak selevel dengan Buya Hamka.

Namun, sejumlah fakta terungkap bahwa orang yang dikisahkan tersebut adalah Bung Karno.

Dituduh Plagiat di Koran Lekra

Dalam bagian lainnya, UAS juga mengungkapkan bagaimana Buya Hamka menjadi korban fitnah yang dilakukan kelompok terafiliasi PKI.

“Kala itu, PKI sedang berkuasa dan mempunyai koran Lekra. Tuduhan keji diberikan oleh Pramoedya Ananta Toer. Buya Hamka dituduh novelnya itu plagiat diambil dari sastrawan Mesir, ditulis di Harian Lekra, PKI,” katanya.

Menurut Ustadz Abdul Somad, Buya Hamka tidak melawan, hingga akhirnya kejayaan PKI jatuh dan NKRI kembali tegak berdiri.

“Akhirnya isu itu hilang, PKI jatuh, NKRI bangkit kembali tetap tegak berdiri. Setelah itu, datang seorang perempuan bermata sipit dengan suaminya, mualaf yang mau belajar Islam dengan sepucuk surat.”

“Kamu siapa?”

“Saya disuruh ayah saya ke mari mengantar calon suami saya belajar Islam,” kata tamu tak dikenal tersebut.

“Nama ayah kamu siapa?” tanya Buya Hamka.

Kemudian dijawab bahwa ayahnya adalah Pramoedya Ananta Toer yang telah menjatuhkan nama Buya Hamka dengan cara menyebarkan fitnah dan kebencian itu ke seluruh dunia.

Menurut Ustadz Abdul Somad, mungkin, itu cara Pramoedya Ananta Toer minta maaf.

“Dia tak datang ke rumah Buya Hamka, tapi anak dan menantunya diutus bertemu dengan Buya Hamka untuk belajar Islam.”

“Buya Hamka kemudian mengajarkan Islam tersebut, begitu mulianya beliau padahal fitnah luar biasa,” jelas UAS.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending