Connect with us

Pemilu

Tak Tergiur Kekuasaan, PKS Konsisten bersama Gerindra di Koalisi Prabowo-Sandi karena Alasan Ini

Published

on

Pasangan Capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat debat perdana.

Pasangan Capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno saat debat perdana. Pasangan Prabowo-Sandi diusung koalisi parpol yang ramping, di antaranya Gerindra, PKS, PAN, Demokrat dan Partai Berkarya.(Foto: Merdeka.com)

Jakarta – Koalisi partai politik pendukung Jokowi dan Prabowo dinilai harus tetap ada untuk menjaga kualitas kompetisi dalam demokrasi. Kualitas kepemimpinan dalam memimpin sangat penting dalam menentukan kualitas demokrasi.

Koalisi juga diperlukan sebagai sarana pembelajaran partai politik, dengan syarat mengedepankan akhlak politik yang dewasa.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, sebagai respons atas pernyataan Wasekjen Demokrat Rachland Nashidik yang mengusulkan agar koalisi Jokowi serta Prabowo di Pilpres 2019 dibubarkan.

“Pembubaran koalisi justru menyulitkan pengambilan keputusan politik. Biarkan ini jadi pembelajaran bersama dengan syarat semua mengedepankan akhlak politik yang dewasa,” kata Mardani dalam keterangannya, Minggu, 9 Juni 2019 seperti dilansir kumparan.com.

BACA JUGA: Bukan Demokrat, Dua Parpol Pendukung Prabowo Ini Ukir Sejarah Sukses Gulingkan Golkar dan PDIP di DPRD Banten

Konsisten bersama Prabowo-Sandi

Mardani juga memastikan mengenai sikap PKS yang akan terus bersama Koalisi Adil Makmur yang mengusung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.

“PKS insyaallah istiqomah bersama Koalisi Adil Makmur,” tutur dia.

Lebih lanjut, Mardani mencontohkan pentingnya keberadaan koalisi, bagaimana capres Amerika Serikat John McCain di Pilpres 2008 yang mengoreksi pernyataan pendukungnya yang saat itu mengkritik lawannya di Pilpres Barrack Obama.

“Ingat saat Capres McCain mengoreksi pernyataan seorang pendukungnya yang mencap lawannya Capres Barrack Obama sebagai bukan orang Amerika, sikap McCain jelas: Obama orang Amerika yang baik dan kompetitor saya dalam mencintai Amerika,” jelas Mardani.

Dari sinilah, kata Mardani, Indonesia bisa belajar menghormati kompetitor, bukannya mengusulkan adanya pembubaran koalisi.

“Kita bisa bersaing dan tetap saling menghormati kompetitor,” tutur dia.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending