Connect with us

BERITA KANDIDAT

Akademisi Unma Banten Bedah “Jeroan” Irna Narulita; Dari Gestur hingga Modal Politik

Published

on

Bupati Pandeglang Irna Narulita ketika memberikan sambutan pada acara Bimtek peningkatan kapasitas Apartur Desa di Kecamatan Cisata, Senin, 17 Juni 2019.

Pandeglang – Bupati Pandeglang Irna Narulita mengaku belum memutuskan maju kembali pada Pilkada Pandeglang 2020. Namun, sejumlah pihak memprediksi Irna dipastikan maju sebagai petahana.

BACA JUGA: Sadar Banyak Janji Kampanye Belum Terwujud, Irna Belum Pasti Maju di Pilkada 2020

Dalam berbagai kesempatan di hadapan publik, Irna kerap melontarkan pernyataan kekinian ala Dylan yang lagi hits di kalangan millenials, yakni “Menjadi bupati itu berat. Biar ibu aja.”

Pengamat politik yang juga akademisi Universitas Mathla’ul Anwar Eko Suprianto menangkap ungkapan tersebut sebagai afirmasi hasrat politik Irna.

“Menurut argumen pandangan saya (ungkapan itu) adalah bahasa politik dan sebuah ikhtiar atau upaya untuk menjaga ‘status quo’,” kata Eko dalam wawancara dengan wartawan BantenHits.com Engkos Kosasih lewat pesan WhatsApp, Sabtu, 6 Juli 2019.

Demam Politik Dinasti

Jika, Irna benar-benar maju dalam Pilkada Pandeglang 2019, maka langkah politik Irna semakin menguatkan gejala demam politik dinasti. Pasalnya, saat ini suami dan anak Irna merupakan anggota legislatif terpilih pada Pemilu 2019.

“Dilihat dari diagnosisnya adalah gejala-gejala yang disebut dengan ‘demam dinasti politik’. Dalam teori, dinasti politik adalah sebuah candu yang akan terus membangun jejaring kekuasaannya dengan kuat hingga mampu menguasai apapun,” jelas Eko.

Saat ini, rna Narulita merupakan calon bupati paling diunggulkan. Namun, Eko berpandangan, sukses tidaknya Irna Narulita jadi cabup kembali sangat bergantung pada optimalnya pengaruh sang suami, Dimyati Natakusumah.

“Tentunya, sudah pasti Dimyati Natakusumah akan memutuskan kebijakan yang paling tepat mendukung istrinya mati-matian buat masa depan PKS, dinasti dan masa depan Irna Narulita,” ungkapnya.

“Kekuatan Irna Narulita salah satunya adalah kekuatan Dimyati Natakusumah. Hampir mustahil Irna Narulita tanpa pengaruh atau beseberangan dengan Dimyati Natakusumah,” sambungnya.

Kader Partai Demokrat yang Tak Berpengaruh

Eko mengungkapkan, Irna Narulita bukan siapa-siapa alias tak memiliki pengaruh apa-apa di dunia politik Pandeglang. Satu-satunya penyokong adalan Irna adalah Dimyati Natakusumah.

“Karena Dimyati Natakusumah adalah orang paling berpengaruh di Pandeglang. Bagi Irna Narulita penting supaya Dimyati Natakusumah jadi pelindung,” ujarnya.

“Irna Narulita bukanlah kader yang memiliki pengaruh kuat di Partai Demokrat. Irna Narulita melihat bahwa orang yang diandalkan dia adalah Dimyati Natakusumah, dialah yang merupakan ‘resource person’ bagi Irna Narulita,” lanjutnya.

BACA JUGA: Ogah Khianati Warga Pandeglang yang Pernah Marah Helikopter Prabowo Dilarang Mendarat, Gerindra Tak Akan Dukung Irna Narulita

Salah satu alasan kenapa Dimyati Natakusumah dan Rizki Dimyati Natakusumah menjadi anggota DPR-RI Dapil Pandeglang-Lebak, jelas Eko, tak lain adalah sebagai salah satu cara mempertahankan dukungan partai terhadap Irna saat menjadi Bupati Pandeglang kembali.

“Dalam konteks pandangan masyarakat juga terdapat upaya menjaga status quo di daerahnya dengan mendorong kalangan keluarga atau orang dekat kepala daerah menggantikan petahana,” urainya.

Eko menerangkan, sebenarnya dinasti politik dan politik dinasti adalah dua hal yang berbeda. Dan di Pandeglang kedua unsur tersebut terpenuhi.

“Dinasti politik adalah sistem reproduksi kekuasaan yang primitif karena mengandalkan darah dan keturunan dari hanya beberapa orang. (Sementara) politik dinasti adalah proses mengarahkan regenerasi kekuasaan bagi kepentingan golongan tertentu, contohnya keluarga elite,” terangnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. Dede suhandi

    08/07/2019 at 01:59

    Kepada para milenial, berpikirlah yg jenius, peka terhap situasi dan kondisi pandeglang saat ini, keluarga yg haus dgn kekuasaan.
    Dulu provinsi banten oleh keluarga yg haus kekuasaan, apa yg terjadi di banten,
    “Sangat tidak menghargai para pejuang pendiri provinsi banten”
    Saya yakin pandeglang pun tdk akan jauh berbeda jika di pimpin oleh klrga yg haus kekuasaan ( mana gelar pandeglang sebagai kota santri) mampukah pemimpinnya berbuat amanah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four − four =

Trending