Connect with us

OPINI

Pengembangan Wisata Tanjung Lesung

Published

on

Eko Supriatno, M.Si, M.Pd. (Istimewa).

BantenHits- Pantai Tanjung Lesung merupakan kawasan yang saat ini menjadi destinasi utama kepariwisataan di provinsi Banten. Pantai Tanjung Lesung sudah menjadi salah satu destinasi utama turis mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Kawasan ini terkenal akan pantainya yang indah dengan airnya yang jernih berpasir putih dan panoramanya yang elok.

Akhir 2018 lalu, Selat Sunda mengalami bencana tsunami yang mengakibatkan insfrastruktur, objek wisata, dan fasilitas lainnya mengalami kerusakan. Namun, setelah recovery selama tiga bulan, Selat Sunda mulai bangkit.

Tanjung Lesung merupakan salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata yang ditargetkan menjadi ’10 Bali Baru’. Bahkan, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menargetkan bisa mendatangkan satu juta wisatawan mancanegara (wisman) ke KEK Tanjung Lesung atau setara dengan 1 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Pantai Tanjung Lesung terletak di Pandeglang, Banten atau berjarak 160 kilometer dari Ibu Kota Jakarta, sehingga bisa ditempuh dengan perjalanan darat. Pantai ini memiliki pasir putih dan lokasinya dekat Taman Nasional Ujung Kulon, Gunung Krakatau, dan Pulau Umang.

Potensi wisata di Tanjung Lesung sebenarnya tidak kalah dibanding dengan Pulau Dewata maupun Pulau Lombok. Bahkan Raja Ampat yang terletak di ujung timur Nusantara. Potensi wisata pantai yang masih alami ini menjadi daya tarik tersendiri. Sepertinya tidak bosan berjam-jam di kawasan pantai menikmati panorama laut dengan airnya yang jernih ditemani ribuan ikan berbagai jenis.

Daya tarik keelokan kawasan Kepulauan Tanjung Lesung yang seluruhnya terdiri atas pulau-pulau ini berhasil mendatangkan puluhan investor, dari dalam dan luar negeri.

Pengembangan kepariwisataan di kepulauan Tanjung Lesung saat ini bisa dibilang belum dilakukan optimal. Hal ini bisa dilihat dari ketersediaan fasilitas publik maupun infrastruktur yang masih minim selain itu juga belum dibangun secara terstruktur sehingga masih dikeluhkan oleh investor maupun wisatawan.

Upaya pengembangan kepariwisataan sebenarnya sudah dilakukan banyak pihak, termasuk mendatangkan para pemangku kepentingan terutama di pemerintahan baik pusat maupun daerah. Namun belum tertuang konsep baku dalam pengembangan kepariwisataan di Tanjung Lesung.

Di lain pihak investor yang masuk dan menanamkan investasinya masih terfokus di kawasan pantai yang memang memiliki potensi ekonomi yang luar biasa. Sementara kawasan lain juga tidak kalah potensinya kalau digarap secara serius. Tidak dipungkiri ada beberapa investor yang saat ini AKAN menanamkan investasinya di Tanjung Lesung.

Tiga perusahaan dari Indonesia, Cina, dan Singapura berkomitmen akan menjadikan Pantai Tanjung Lesung, Banten, sebagai objek wisata berkelas dunia.

Komitmen tersebut diwujudkan dalam bentuk MoU pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung senilai 1 miliar dolar AS yang ditandatangani Chairman Yunnan Ice Sea Investment Group Wei Xiao Lin (Cina), Direktur Utama PT Jababeka Budianto Liman (Indonesia), dan Direktur Eksekutif Octagon Universal Gabriel Lin (Singapura) di Kunming, Provinsi Yunnan, Sabtu (18/Mei/2019).

Pemerintah juga telah mengumumkan rencana pembangunan bandar udara di Pandeglang, Banten, sehingga wisatawan asing hanya membutuhkan waktu 1,5 jam penerbangan dari Bandara Changi di Singapura.

Belum Terkelola

Wilayah Pandeglang pun masih stagnan denyut perekonomiannya, bahkan dalam bidang pembangunan pariwisata, pertumbuhannya kalah menggeliat dibandingkan Kabupaten lain di Banten.

Pandeglang memiliki 256 potensi objek wisata. Hanya saja belum terkelola dengan baik. Terutama untuk di wilayah paling barat Provinsi Banten.

Pandeglang dengan potensi yang sedemikian besar tidak akan berkembang optimal kalau pengembangannya dilakukan setengah-setengah bahkan terkesan dibiarkan berkembang tanpa penataan di semua lini. Dalam mengembangkan kawasan Tanjung Lesung, kita bisa mencontoh pengembangan Pulau Batam, walau tidak bisa kita adopsi secara keseluruhan.

Pulau Batam pada saat itu hanya merupakan pulau yang dihuni oleh segelintir penduduk lokal dan pengungsi dan seolah-olah tidak memiliki kelebihan. Padahal memiliki potensi luar biasa mengingat letak geografisnya yang berdekatan dengan Singapura, disamping terletak berdekatan dengan jalur perdagangan internasional yakni Selat Malaka.

Dasar dari munculnya gagasan penerapan KEK ini adalah Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 mengenai Kawasan Ekonomi Khusus. Salah satunya berisi aturan tentang kawasan khusus pariwisata.

Dengan diberlakukan kawasan ekonomi khusus (KEK), Tanjung Lesung dikelola secara khusus di bawah pengelolaan sebuah badan seperti Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Badan ini berada di bawah Dewan Nasional (Pusat), Dewan Kawasan (Provinsi) dan Administrator yang dibentuk oleh Dewan Kawasan. Dengan dikelola oleh Badan Pengelola yang dibentuk oleh administrator beserta Dewan Kawasan, kawasan ekonomi khusus bisa tumbuh menjadi kawasan yang maju.

Tadinya, dengan diberlakukannya kawasan ekonomi khusus di Tanjung Lesung, diharapkan banyak investor baik lokal maupun asing yang menanamkan investasinya seperti yang terjadi di Mandalika, ataupun Batam. Sehingga Tanjung Lesung tidak saja menjadi destinasi utama pariwisata internasional, tetapi juga banyak menyerap tenaga kerja.

Harapannya dapat mengurangi tingkat kemiskinan di Provinsi Banten. Selain itu Tanjung Lesung akan tumbuh menjadi kawasan yang dikenal luas dan menjadi kebanggaan masyarakat Provinsi Banten.

Langkah Strategis

Pembangunan kawasan pariwisata yang megah, terintegrasi, dan berstandar internasional memang sudah saatnya menjadi prioritas pemerintah ke depan, termasuk Pemprov Banten.

Di tengah era perdagangan bebas dan persaingan global yang semakin ketat, pemerintah dituntut untuk melakukan inovasi dalam penyediaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) agar semakin banyak investor terutama dari mancanegara yang melirik Indonesia sebagai tempat untuk menancapkan investasinya.

Adanya KEK Tanjung Lesung menjadi modal berharga sekaligus pembuktian bagi Pemprov Banten untuk menjadikan wilayah ini sangat cocok sebagai tempat berinvestasi.

Jika sektor industri pariwisata Banten semakin terdongkrak, maka semakin membawa kesejahteraan bagi warga Banten. Selain melalui penyerapan tenaga kerja, roda ekonomi yang berputar di dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dapat mengungkit perekonomian masyarakat.

Untuk itu, beberapa langkah taktis dan strategis harus segera dilakukan Pemprov Banten demi mengimplementasikan pendongkrakan industrialisasi pariwisata di wilayah tersebut seiring berdirinya KEK, yaitu:

Pertama, menyiapkan pembangunan bandara dengan fasilitas yang berstandar internasional setelah tol. Sebab, dengan adanya bandara dengan lokasi sekitaran Tanjung Lesung akan membuat investor semakin tertarik masuk ke KEK. Terlebih, kondisi arus lalu lintas dari bandara menuju Pandeglang hingga kini masih rusak, padat dan seringkali terjadi kemacetan.

Kedua, mempercepat pembangunan jalan tol Serang-Panimbang dalam waktu setahun ke depan, sebab kehadiran jalan tol akan membuat waktu kunjungan wisatawan menjadi lebih cepat. Selain, menyediakan banyak transportasi umum yang memadai.

Ketiga, Untuk mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang berdaya saing, sangat dibutuhkan peran dan keterlibatan aktif pemerintah daerah. Di tengah momentum yang sudah diciptakan pemerintah pusat tersebut, Pemprov Banten sudah seharusnya semakin intens menggali potensi kepariwisataan di Banten yang sejatinya masih sangat besar. Promosi yang gencar dan inovatif, sangatlah urgen dilakukan demi menggaet para investor terutama dari mancanegara agar berkenan menancapkan bisnis terutama di sektor industri pariwisata.

Konsep Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan perlakuan khusus sebenarnya sama dengan konsep bonded zone yakni lebih mengedepankan penetapan kawasan peruntukan industri dalam tata ruang wilayah atau daerah. Selanjutnya, ada jaminan penyediaan infrastruktur dan (bila diperlukan) ditetapkan main industri yang akan menjadi penghela (prime mover) dan seterusnya sampai industri hulu dan hilir yang akan menjadi penyertanya.

Konsep ini sama dengan konsep penciptaan lapangan kerja yang sifatnya segmented atau pilihan yang didukung kebijakan daerah yang sejalan dengan kebijakan nasional. Percepatan penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi wilayah yang ujungnya pada penurunan angka kemiskinan dapat dilakukan lewat pendekatan yang tidak selalu regulatif.

Pembangunan infrastruktur juga dapat dilakukan dengan cara patungan antara pemerintah/pengelola dan perusahaan penghuni kawasan dengan pengaturan yang jelas. Dalam konteks Pandeglang (atau kabupaten/kota lainnya) konsep ini dapat dilaksanakan melalui keterpaduan eksekutif dan legislatif dalam penyediaan dana daerah.

Konsep pemikiran itu memang masih memerlukan struktur lain yakni promosi investasi secara komprehensif dan targetted. Komprehensif yakni melalui pembauran pemasaran atau mix marketing dan dilakukan secara profesional.

Targetted dimaksudkan bahwa industri harus terpilih dengan term and condition yang konkret untuk menumbuhkan perkembangan perkonomian wilayah dan pengurangan angka pengangguran.

Penulis berharap berbagai pengembangan program dan fasilitas baru yang dibangun di Tanjung Lesung dapat menarik dan menggaet wisatawan untuk berkunjung, sehingga pariwisata dikawasan KEK Tanjung Lesung kembali bergairah.

Penulis: Eko Supriatno, M.Si, M.Pd. (Staf Pengajar Tetap Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP UNMA Banten)

Trending