Connect with us

METROPOLITAN

7.000 Ton Batubara Tumpah di Laut Pandeglang, Pemprov Banten Diam

Published

on

Kapal tug boat (TB) Alpine Marine 25 yang menggandeng tongkang berisi muatan batubara terdampar setelah dihantam gelombang di Perairan Pandeglang. Muatan 7.000 ton batubara diduga tumpah ke laut saat proses evakuasi. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Serang – Satpolairud Polres Pandeglang memastikan 7.000 ton batubara di dalam Tongkang BG Nautika yang digandeng TB Alfine Marine 25, tumpah ke Laut Pandeglang, tepatnya di Perairan Selatan Ujung Pulau Jawa, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Minggu, 14 Juli 2019.

Kasat Polairud Polres Pandeglang Iptu David A Kusuma mengatakan, saat dilakukan evakuasi oleh TB Alfine Marine 19, batubara yang berada di tongkang tersebut baru tumpah sebagian. Namun, karena diterjang cuaca buruk, batubara tumpah semua.

BACA JUGA: Kapal Tongkang Dihantam Gelombang, 7.000 Ton Batubara Diduga Tumpah ke Laut Pandeglang

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, TB. Soleh Ahmadi mengungkapkan, perusahaan pengangkut batubara mesti bertanggungjawab dengan kejadian tersebut.

Tumpahan batubara diyakini akan menimbulkan pencemaran lingkungan, baik di laut ataupun udara. Namun, Soleh Ahmadi mengaku heran karena pemerintah diam terkait kasus tumpahnya 7.000 ton batubara ini.

“Ini jelas kejahatan lingkungan. Negara harus meminta pertanggungjawaban perusahaan batubara tersebut. Peran pengawasan pemerintah daerah patut dipertanyakan, karena pencemaran wilayah laut di Perairan Banten bukan kali pertama terjadi. Pemerintah juga harus melakukan audit lingkungan terhadap industri-industri di Banten yang menggunakan batubara,” ungkap Soleh kepada BantenHits.com, Sabtu 20 Juli 2019.

Selain kasus tumpahnya 7.000 ton batubara ke Laut Pandeglang, ternyata Kamis, 18 Juli 2019, batubara yang akan dikirim kapal PLTU Suralaya di Merak, Kota Cilegon, tiba-tiba mengepul mengeluarkan asap pekat.

BACA JUGA: Nelayan Pesisir Merak Khawatir Muncul Kepulan Asap Batu Bara di Tengah Laut

Ekosistem Laut Rusak

Pengkampanye Energi dan Perkotaan Walhi Dwi Sawung mengatakan, tampak dari batu bara yang tumpah ke laut itu mengakibatkan kerusakan terhadap terumbu karang dan ekosistem khas laut dangkal, padang lamun serta satwa yang hidup di dalamnya.

“Dampak lingkungannya ke terumbu karang dan padang lamun dan satwa yang hidup di dalamnya biasanya banyak yang mati. Kalau pantainya pasti akan terkotori, biasanya juga ada logam berat di dalamnya, tapi karena laut biasanya akan terbilas. Tapi nanti kerang-kerangan dan idang logam beratnya tinggi dari normal,” katanya saat dihubungi BantenHits.com, Sabtu 20 Juli 2019.

Lembaga yang concern dalam isu lingkungan ini, sejak awal menolak penggunaaan batubara di Indonesia, seperti halnya Green Peace.

“Kalau kami memang menolak PLTU batubara, karena selain polusinya tinggi juga menimbulkan masalah di tambangnya, termasuk pencemaran selama proses pengangkutannya,” jelas Eknas Sawung yang aktif dalam kampanye tolak PLTU batubara.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Trending