Connect with us

OPINI

Menengok Rumah Bersejarah yang Dibangun Sebelum Indonesia Merdeka di Pamegar Sari Pandeglang

Published

on

Rumah bersejarah yang dibangun 1939 sebelum Indonesia merdeka di Kampung Pamager Sari, Desa/Kecamatan Pandeglang. (Istimewa)

Rumah tua bersejarah milik Alm. H. Aweh Angkawidjaya dan Hj. Enok yang diisi oleh keturunannya Alm. H. Entoh (Kakek dari istri saya) yang terletak di Kampung Pamegar Sari, Ciherang Pasar, Desa/ Kecamatan Pandeglang Kabupaten Pandeglang, seharusnya menjadi salah satu warisan cagar budaya yang keberadaannya masih dijaga dan dilestarikan oleh keluarga hingga kini.

Kemarin kami sekeluarga khususnya istri saya bersilaturahmi juga bernostalgia mengingat momentum perayaan hari proklamasi Republik ini membuka mata kami sekeluarga untuk menelaah kembali nilai nilai patriotisme para leluhur kita dalam perjuangan memerdekaan negeri lewat sisi mengunjungi bangunan yang menyimpan historis tersebut.

Rumah panggung dengan dominasi kayu menggunakan dinding anyaman bilik bambu dan masih terdapat sumur tua dan pompa air engkol peninggalan jepang yang dibangun sekitar 1939 M, enam tahun sebelum Indonesia merdeka ini masih tegak kokoh berdiri.

Anehnya mungkin rumah tua ini dibangun dengam batin yang bersih seraya doa-doa ke hadirat Allah SWT sehingga kejadian gempa di daerah Pandeglang yang ditetapkan sebagai daerah rawan gempa pun tak membuat rumah ini rusak walau cuma berguguran cat tembok putih yang menempel di dindang bilik bambunya.

Penulis berfoto di dalam rumah bersejarah yang dibangun sebelum Indonesia merdeka.

Suasana asri dan damai sangat terasa begitu memasuki pekarangan rumah yang sudah berumur hampir kurang dari satu abad tersebut. Tapi siapa sangka, di balik itu semua, bangunan tersebut ternyata menyimpan kisah sekaligus saksi bisu salah satu awal pergerakan anak bangsa dalam mengusir penjajah di Nusantara tempo dulu khususnya para pejuang pergerakan kemerdekaan di Karesidenan Pandeglang.

Kisah tersebut tersimpan secara detail melalui beberapa literatur sejarah yang menjadi koleksi batin dan ingatan keluarga yang sudah sepuh yang kini masih hidup dan tinggal di rumah kuno ini. Siapa pun yang berkunjung ke rumah kuno itu bisa mendapat penjelasan gamlang soal asal muasal awal berdirinya bangunan tersebut.

Disebutkan di rumah ini adalah tempat berkumpulnya tokoh tokoh pejuang masa itu. Dan seiring berjalannya waktu diceritakannya kami bahwa di rumah ini Sang Singa Podium yang melegenda dari tanah Pandeglang yaitu Alm. KH. Entol Sutisna yang tak lain adalah ayahanda dari H. E. A. Ferdi Ligaswara pernah tinggal dan berjuang dari rumah ini.

Sungguh bagi kami kunjungan ini membangkitkan nilai-nilai patriotisme kami akan keluhuran sejarah serta menambah kecintaan kami akan bangsa dan negara yang tentu saja akan kami tanamkan kepada generasi yang akan datang khususnya anak cucu kami betapa pentingnya menjaga dan merawat persatuan dan kesatuan sebagaimana kemerdekaan ini telah diwariskan oleh para pahlawan dan para pendahulu kita.

Mari kita jaga Kemerdekaan ini dengan mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mari kita menjaga Banten agar harum dan mewangi kembali sesuai yang disiratkan para pejuang tanah Banten yakni ulama dan jawara. Tidak lupa mari kita bersama sama membangun lemah cai urang, tanah kalahiran urang supaya Pandeglang kembali menjadi pusat peradaban ilmu dan pengetahuan sesuai purwadaksinya, purwacaritanya dan purwanagaranya.

Pandeglang, 16 Agustus 2019
Dirgahayu NKRI ke-74

Penulis:

Tb. Mufti Bangkit Sanjaya, aktivis sosial tinggal di Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. 

Trending