Connect with us

CITARASA

Kala Kelezatan Angeun Lada Menghapus Ingatan Tsunami Selat Sunda

Published

on

Angeun lada tersedia di Pasar Kalitjaa, Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang. Angeun lada adalah makanan khas Pandeglang yang telah dinobatkan jadi warisan budaya.(BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Minggu siang, 18 Agustus 2019. Langit cerah. Meski terik, cahaya matahari seperti sedang ramah. Aroma khas daun walang seperti menusuk hidung setelah tertiup angin Pantai Tanjung Lesung.

Daun walang bagi masyarakat lokal Banten, terutama Pandeglang telah identik dengan makanan khas Kota Badak: angeun lada alias sayur pedas.

Angeun lada sangat terkenal di Pandeglang, karena hanya di sini tumbuh daun walang. Saking jarangnya orang yang memiliki tanaman walang saat ini, angeun lada pun jarang ditemui di Banten. Padahal, angeun lada di masa lalu adalah olahan wajib setiap warga, terutama jika hari-hari besar tiba, seperti Lebaran.

Saat ini, selain sudah menghilang dari rumah-rumah warga, angeun lada sudah sulit dijumpai di rumah makan. Paling hanya beberapa rumah makan saja yang masih menyediakan olahan ini.

Lalu, bagaimana bisa angeun lada hadir di Tanjung Lesung siang itu?

Adalah Bisri, seorang chef di Villa Tanjung Lesung yang menjadi segala muasal tentang cerita angeun lada bermula di Tanjung Lesung hari itu. Bisri menyajikan angeun lada untuk tamu yang berkunjung ke Pasar Kalitjaa, Tanjung Lesung, Pandeglang.

Di balik stand berukuran sekira 2 x 2 meter di Pasar Kalitjaa, Bisri terlihat sibuk menyajikan angeun lada kepada pengunjung yang terlihat antre. Wartawan BantenHits.com Engkos Kosasih turut dalam antrean tersebut.

Bisri, pedagang angeun lada di Pasar Kalitjaa, Tanjung Lesung. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Segera saja rasa penasaran pelan-pelan mulai terobati saat angeun lada tersaji di atas meja. Aroma rempah dengan campuran bumbu dapurnya terasa kuat sehingga menciptakan rasa pedas. Tak salah jika olahan ini disebut angeun lada. 

Daging menjadi bahan utama pada angeun lada. Pemilihan jenis daging bergantung selera. Ada yang menggunakan daging sapi, daging kerbau, kambing atau pun daging ayam.

Tekstur daging yang lembut dengan kuah kaya rempah menciptakan rasa lezat. Hmmm…. Menikmati setiap suap angeun lada siang itu, membuat ingatan tentang tsunami Selat Sunda mendadak hilang.

Angeun lada sebenarnya sangat cocok bila dimakan dengan nasi liwet panas. Sayangnya, di Pasar Kalitjaa, Tanjung Lesung tidak tersedia nasi liwet. Hanya ada nasi timbel yang dibungkus menggunakan daun pisang.

Jika Anda berkunjung ke Pasar Kalitjaa dan ingin membeli angeun lada di pasar ini, pengunjung diwajibkan menukarkan uang rupiah dengan koin yang terbuat dari kayu. Karena, uang rupiah tidak berlaku di pasar ini. Untuk harga per mangkok, relatif murah. Hanya cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 10 ribu.

Selain angeun lada, di Pasar Kalijtaa ini juga tersedia makanan khas yang masih asing di telinga masyarakat di luar Pandeglang, seperti jojorong, papais, dan lempis.

“Di pasar ini ada pasar kuliner, pasar khusus untuk makanan khas yang ada di Pandeglang yang belum begitu dikenal,” kata Direktur Operasional PT Banten West Java (BWJ) Kunto Wijoyo, Minggu, 18 Agustus 2019.

PT BWJ adalah pengembang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung. PT BWJ sengaja menyajikan makanan khas Pandeglang di Pasar Kalitjaa yang akan menjadi agenda tahunan Tanjung Lesung, agar makanan ini dapat dikenal.

“Belum begitu dikenal, tetapi kami harapkan makanan khas ini bisa di kenal oleh seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Dilansir dari laman travelingyuk, angeun lada ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Sejak 2016 oleh Kementerain Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Penetapan ini ditandatangani pada 14 September 2016.

Sebagai informasi, warisan budaya tak benda ini termasuk tradisi, seni pertunjukan, ekspresi lisan (misalnya bahasa pengetahuan, ketrampilan, alat-alat, praktek, benda alamiah, dan artefak). Serta tidak ketinggalan ruang budaya yang diakui oleh berbagai komunitas. 

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Trending