Connect with us

METROPOLITAN

Panggung Perdamaian GMKI Serang Tolak Tindakan Fasis dan Rasis Terhadap Mahasiswa Papua

Published

on

Salah satu mahasiswa Papua saat berorasi di Panggung perdamaian GMKI di Kampus Untirta. (Istimewa).

Serang – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Serang menggelar aksi berbentuk panggung perdamaian di dalam kampus A Untirta, sebagai bentuk solidaritas. Tujuannya agar tindakan fasis maupun rasis terhadap mahasiswa Papua yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia bisa dihentikan.

Panggung perdamaian ini juga sengaja dilaksanakn untuk  menyikapi banyaknya insiden yang melibatkan mahasiswa Papua di beberapa tempat. Padahal sebagai negara yang berideologikan pancasila sudah seharusnya masyarakat di masing-masing wilayah mamlu menjaga keutuhan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kepala Bidang Aksi dan Pelayanan pada GMKI Cabang Serang, Martin Ronaldo, mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas yang pihaknya lakukan, atas insiden yang terjadi pada mahasiswa Papua.

“Aksi ini sebagai bentuk solidaritas kami terhadap mahasiswa Papua, dimanapun mereka berada. Karena mereka secara tidak langsung, telah mendapat tindakan fasis dan rasis dari pemerintah,”kata Martin kepada awak media, Rabu 21 Agustus 2019.

Menurutnya, tindakan yang dilakukan oleh aparat kepolisian maupun TNI, merupakan bentuk marginalisasi terhadap mahasiswa Papua.

“Adanya pemukulan dan pembubaran terhadap aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Papua, itu adalah bentuk marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah,” tegasnya.

Selain itu, ia menuturkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh kepolisian dalam membubarkan aksi mahasiswa Papua, telah melanggar aturan yang berlaku. Menurutnya, Polisi tidak boleh bertindak represif, dalam melakukan pembubaran.

“Dalam Perkapolri, itu sebenarnya tidak boleh aparat Kepolisian melakukan pembubaran dengan cara represif dan kekerasan. Itukan sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan juga,” jelasnya.

Sehingga melalui aksi ini, lanjut Martin, juga sebagai bentuk penyadaran kepada pihak aparat Kepolisian maupun TNI, agar dalam menjalankan tugasnya dapat berlandaskan aturan yang berlaku.

“TNI dan Polri yang katanya kuat bersama rakyat, seharusnya mengikuti kode etik dan aturan yang berlaku dalam tugasnya. Inilah yang kami ingatkan melalui aksi ini,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa Papua yang mengikuti aksi, Oskar Klouw, mengatakan bahwa dirinya sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh aparat kepolisian dan TNI. 

Menurutnya, Kepolisian seharusnya mencari tahu kebenaran, apakah benar mahasiswa Papua melakukan pengerusakan terhadap bendera merah putih.

“Sangat disayangkan, semoga kedepannya jangan terjadi lagi. Karena seharusnya, dalam menanggapi sesuatu, pihak Kepolisian dapat mencari kebenaran dibalik kejadian tersebut. Ternyata kan tidak benar mahasiswa Papua melakukan pengerusakan,” katanya seusai melakukan orasi.

Ia pun menginginkan kejadian yang terjadi kemarin, tidak merusak keutuhan dan kesatuan dari NKRI. Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini, seharusnya lebih berfokus untuk bagaimana memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Papua.

“Kita ingin Indonesia bersatu, tetap utuh dan rukun. Agar kita bisa berfokus untuk memajukan  SDM, terutama yang ada di Papua,” pungkasnya.

Editor: Fariz Abdullah

Trending