Connect with us

Berita Pemda

Target Pendapatan APBD-P Pemprov Banten Turun, Wagub: Daya Beli Masyarakat Turun

Published

on

Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy saat memberikan penjelasan soal SiLPA APBD Banten 2018 yang mencapai Rp 1,07 triliun. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Serang- Pemerintah Provinsi Banten menyebutkan target pendapatan pada perubahan APBD 2019 menurun dibanding target APBD murni 2019. Penyebabnya karena terjadinya penurunan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Nasional pada semester I tahun 2019 yang semula LPE sebesar 5,4% menjadi 5,1%.

Hal tersebut juga berdampak terjadinya penurunan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Provinsi Banten pada semester I tahun 2019 yang semula 5 diproyeksikan sebesar 5,9% menjadi 5,4%.

Dalam siaran pers yang diterima BantenHits.com, Wakil Gubernur Banten Adika Hazrumy mengatakan penurunan LPE tersebut terjadi khususnya pada sektor-sektor yang merupakan komponen PDRB (produk dometik regional bruto), antara lain sektor industri yang masih tumbuh di bawah proyeksi LPE yang disebabkan oleh pelemahan investasi dan persaingan ekspor khususny ekspor alas kaki.

Sektor pertanian juga disebutkan belum baik sehubungan dengan banyaknya alih fungsi lahan. Di sektor transportasi terjadi penurunan jumlah penumpang pesawat karena tiket mahal. Begitu juga di sektor pariwisata belum recovery sepenuhnya setelah bencana tsunami. Lalu di sektor perdagangan khususnya ekspor permintaan pasar disebutkan menurun.

“Kesemuanya itu berdampak pada menurunnya daya beli masyarakt termasuk kemampuan untuk membeli kendaraan bermotor baru yang terjadi pada hampir seluruh wilayah provinsi lainnya,”kata Andika saat membacakan pidato jawaban Gubernur Banten pada rapat paripurna DPRD Banten dengan agenda jawaban gubernur atas pandangan fraksi-fraksi DPRD terhadap nota pengantar perubahan APBD 2019 di gedung rapat paripurna DPRD Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Curug, Kota Serang, Kamis, 22 Agustus 2019.

Andika menambahkan pemberlakuan tarif baru untuk pajak kendaraan bermotor (PKB) di Provinsi Banten yang per tanggal 11 maret 2019 sebesar 1,75% dari tarif sebelumnya sebesar 1,5% dan pemberlakukan tarif baru bea balik nama kendaraan bermotor baru sebesar 12,5% dari tarif sebelumnya sebesar 10%, juga menjadikan harga kendaraan bermotor baru di Provinsi Banten menjadi lebih mahal dibanding dengan harga kendaraan baru untuk wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat. 

“Sehingga terjadi kecenderungan konsumen untuk membeli kendaraan di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat,” imbuhnya.

Terkait itu, kata wagub, langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan dalam upaya  meningkatkan pendapatan asli daerah yaitu bersama dengan pihak kepolisian melakukan razia pada lokasi-lokasi tertentu untuk mengetahui kepatuhan dalam membayar pajak kendaraan bermotor. Lalu juga memberikan kemudahan dalam pelayanan pembayaran pajak kendaraan bermotor tahunan melalui e-samsat pada kanal pembayaran, dengan cukup menunjukan STNK asli tanpa harus menunjukan KTP.

“Kemudahan ini se-Indonesia untuk pertama kali diterapkan di Provinsi Banten wilayah hukum Polda Banten, dan dengan kemudahan tersebut dalam kurun waktu dua bulan mampu menghimpun penerimaan pendapatan sebesar Rp1,4 miliar,”jelasnya.

Untuk diketahui, dalam rapat paripurna sebelumnya, Fraksi Partai Golkar, Fraksi Partai Demokrat,  Fraksi PKS, Fraksi PDIP, Fraksi Partai Gerindra, dan Fraksi Amanat Partai Persatuan Pembangunan, menanyakan penurunan target pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan langkah-langkah peningkatan pendapatan dalam pandangan fraksinya terhadap nota pengantyar gubernur tentang rancangan Perda Perubahan APBD 20019. 

Editor: Fariz Abdullah

Trending