Connect with us

METROPOLITAN

Jadi Tersangka Kerusuhan Asrama Papua, Aktivis HAM Veronica Koman Pernah Lakukan Ini di Tangerang

Published

on

Aktivis HAM Veronica Koman. (Foto: SindoNews.com)

Tangerang – Polda Jawa Timur telah menetapkan aktivis HAM Veronica Koman tersangka penyebaran berita bohong atau hoaks dan provokatif yang menyebabkan kerusuhan di asrama Papua di Jawa Timur hingga meluas ke Papua dan Papua Barat.

Veronica Koman dijerat pasal berlapis yakni UU ITE KUHP Pasal 160 KUHP, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang penghapusan suku, etnis dan ras. Hasil gelar yang dilakukan tim penyidik dan berdasarkan bukti permulaan yang cukup yaitu dari foto dari HP dan keterangan warga masyarakat, akhirnya Veronica ditetapkan tersangka.

“Bahwa VK sangat proaktif saat berada di peristiwa atau kejadian yang berkaitan dengan Papua. Karena itu VK (Veronica Koman) kami tetapkan sebagai tersangka baru dalam kasus ini, dan saat ini VK sudah berada di luar negeri,” tegas Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, Rabu, 4 September 2019 seperti dilansir Suara.com jaringan BantenHits.com.

Berdasarkan catatan BantenHits.com, Veronica Koman pernah mendampingi aksi mahasiswa Papua yang berkuliah di STKIP Surya, Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Selasa, 1 Desember 2015.

BACA :  Posisinya Dievaluasi Wali Kota Syafrudin, Sekda Kota Serang: Tunggu Hasilnya

Mahasiswa Papua di Tangerang kala itu hendak mengikuti aksi “Kebebasan Papua” di Jakarta menggunakan dua unit angkutan umum warna kuning-hitam B 1266 GTX dan B 1149 GTX jurusan Kelapa Dua-Gading-Malabar.

Keberangkatan para mahasiswa tersebut berusaha dicegah polisi. Nahas, Kanit Intel Polsek Kelapa Dua Iptu Habib dan Brigadir Wiwit justru mengalami luka setelah diduga dikeroyok mahasiswa Papua di SPBU 34-15807, Jalan Raya Gading Serpong, Kavling 4 Nomor 1, Kelurahan Pakulonan Barat, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang

Menyusul aksi pengeroyokan ini, PJR Ditlantas Polda Metro Jaya langsung melakukan pengejaran dan penangkapan terhadap sedikitnya 22 orang mahasiswa Papua.

Wakasat PJR Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Eko BW mengatakan, 22 orang mahasiswa yang menggunakan dua angkutan umum itu ditangkap di Pintu Keluar Tol Senayan, Jakarta Pusat.

BACA JUGA: Bentrok di Gading Serpong, Polda Metro Jaya Amankan 22 Mahasiswa STKIP Surya Asal Papua

BACA :  Peserta UN di SLB Butuh Waktu Tambahan

Veronica Koman dari LBH Jakarta yang melakukan pendampingan terhadap para mahasiswa tersebut, saat dihubungi BantenHits.com kala itu mengatakan, pihaknya tak mengetahui sampai ada polisi yang dirawat di rumah sakit.

“Setahu saya ada satu orang polisi tangannya dibalut, tapi bentuknya masih manusia. Tak ada itu luka serius. Saya bertemu dia karena sama-sama diperiksa tadi (di Polda Metro Jaya),” kata Veronica.

Pernyataan polisi yang menyebutkan dua anggotanya luka serius dan harus dirawat di rumah sakit, disebut lebay oleh Veronica. Justru, kata Veronica, tiga orang massa pengunjuk rasa saat ini menjalani perawatan di rumah sakit.

BACA JUGA; Kuasa Hukum Pengunjuk Rasa yang Dituding Mengeroyok Sebut Polisi Tangerang Lebay

Ihwal bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi, Veronica menganggap hal itu kesengajaan polisi yang tidak mau massa Papua mengikuti aksi di Jakarta. Padahal aksi tersebut resmi karena pengunjuk rasa sudah menyampaikan pemberitahuan.

Libatkan Interpol

BACA :  Pangdam III/Siliwangi Pastikan TNI Netral di Pilkada Serentak Banten

Kekinian, Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Polisi Dedi Prasetyo mengatakan Polri akan bekerjasama dengan Interpol untuk melacak keberadaan Veronica Koman di luar negeri.

Aktivis HAM tersebut dicari lantaran telah ditetapkan sebagai tersangka terkait penyebaran berita bohong atau hoaks dan provokatif yang menyebabkan kerusuhan di asrama Papua di Jawa Timur hingga meluas ke Papua dan Papua Barat.

“VK kan masih warga negara Indonesia, karena keberadaan di luar negeri maka nanti dari Interpol akan membantu untuk melacak yang bersangkutan,” kata Dedi di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 4 September 2019 seperti dilansir Suara.com.

Dedi menjelaskan pelibatan Interpol dalam kasus Veronica Koman lantaran yang bersangkutan kekinian masih berstatus sebagai warga negara Indonesia (WNI). Beda halnya dengan kasus Ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Benny Wenda dimana Polri tidak melibatkan Interpol lantaran yang bersangkutan merupakan warga negara asing (WNA).

“Beda dengan kasusnya BW, BW itu beliau sudah negara asing,” ujarnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler