Connect with us

METROPOLITAN

Sebut Perilaku Pembunuh Gadis Baduy seperti Binatang, MUI Lebak Menduga Faktor Ini Jadi Pemicu

Published

on

Polda Banten menunjukkan tiga pelaku pembunuh sadis terhadap gadis Baduy. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Lebak – Tiga pemuda di Leuwidamar, Kabupaten Lebak, yakin AMS alias E (20), F (19), dan A (16), membunuh sadis seorang gadis Baduy Luar kemudian mayatnya disetubuhi secara bergiliran.

Majelis Ulama Indonesia atau MUI Kabupaten Lebak, menilai pembunuh dan pemerkosa gadis Badui yang dilakukan tiga pelaku seperti binatang tanpa memiliki moral.

“Korban diperkosa oleh ketiga pelaku itu. Itu perilaku seperti binatang,” kata Ketua Umum MUI Kabupaten Lebak KH Pupu Mahpudin di Lebak, Selasa, 10 September 2019 seperti dilansir Suara.com.

Menurut Pupu, aksi pembunuhan disertai pemerkosaan terhadap gadis Baduy baru pertama kali terjadi di Kabupaten Lebak dan jangan sampai terulang kembali.

MUI Lebak sangat prihatin kasus pembunuhan dan pemerkosaan tersebut, karena korbannya masih gadis belia atau masuk kategori usia anak-anak.

Selain itu juga pelaku sangat sadis dengan melukai sekujur tubuh korban dengan senjata tajam.

“Kami mengapresiasi petugas kepolisian bergerak cepat menangkap ketiga pelaku pembunuh dan pemerkosa gadis Badui itu,” ucapnya.

Menurut dia, kasus pembunuhan dan pemerkosaan yang dialami gadis Badui dipastikan dipengaruhi pornografi karena begitu mudah diakses melalui teknologi jaringan internet maupun telepon seluler.

Selain itu juga karakter pelaku kurangnya kasih sayang dari keluarga. Karena itu, MUI Lebak mengajak seluruh komponen masyarakat, terutama orang tua dapat mengawasi dan mengontrol perilaku anak agar tidak menyimpang yang bisa membahayakan orang lain.

“Kami minta orang tua dapat mengawasi jika anaknya itu memiliki gawai guna mencegah perilaku seks menyimpang,” katanya.

Sementara itu, Kapolres Lebak AKBP Dani Arianto mengatakan ketiga pelaku pembunuh dan pemerkosa gadis Badui bisa dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana.

Hal itu karena pelaku sudah menyusun perencanaan pembunuhan dan pemerkosaan terhadap gadis Badui itu.

“Saya kira pelaku bisa dengan ancaman seumur hidup Pasal 340 KUHP itu,” katanya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending