Connect with us

METROPOLITAN

Kisah Gubuk Rombeng Dihuni Sembilan Kepala; Kemiskinan yang Hanya Berjarak ‘Selemparan Batu’ dari Istana

Published

on

Gubuk rombeng yang dihuni pasangan Enur dan Nurheti bersama tujuh anaknya di Kampung Pamatang Buah, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cibaliung, Pandeglang.(BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Berapa jarak Istana Negara Jakarta dengan Banten sebagai daerah tetangga? Untuk menggambarkan saking dekatnya jarak Jakarta-Banten, orang-orang menggunakan istilah ‘selemparan batu’.

Meski secara geografis jarak Jakarta-Banten sangat dekat, tak berarti sentuhan program pembangunan telah dirasakan merata. Wartawan BantenHits.com Engkos Kosasih mencoba menguar fakta soal ketimpangan yang ternyata ada di depan mata.

Liputan ini dimulai dari viralnya kisah Enur (60) dan Nurheti (50) di media sosial setelah mereka bersama tujuh anaknya yang masih kecil tinggal di sebuah gubuk tidak layak huni di sebuah perkebunan di tengah hutan yang ada di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Kabar viral itu mengundang berbagai perhatian dari kalangan relawan sosial di Pandeglang, termasuk BantenHits.com.

Sabtu, 14 September 2019, BantenHits.com bersama para relawan sosial menelusuri keberadaan tempat tinggal pasutri yang viral itu.

Lokasi tempat tinggal pasutri itu berada di Kampung Pamatang Buah, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cibaliung, Pandeglang. Jarak menuju ke lokasi perkebunan sekitar 5 Kilometer dari Kampung Dahu Satu, Desa Cihanjuang sebagai kampung terakhir yang bisa dilalui kendaraan.

Jalan utama menuju Kampung Pamatang Buah, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang. Jika hujan, jalanan berubah licin dan mirip kubangan kerbau. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Selanjutnya, akses menuju rumah pasutri itu harus melalui jalan yang sulit dilalui  kendaraan roda empat sejenis minibus atau sedan. Hanya kendaraan dengan spesifikasi offroad yang bisa melalui jalur yang belum tersentuh aspal ini. Permukaan jalan hanyalah pengerasan yang didanai oleh dana desa (DD).

Ujung dari perjalanan berat ini adalah rumah Johana, Ketua RT/RW 003/007. Tapi lokasi ini bukanlah tujuan akhir. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menyusuri perkebunan warga. 

Suasana kampung itu masih sangat terisolir. Hal itu dilihat dari akses jalan yang buruk. Perumahan warga yang jumlahnya sekitar 29 Kepala Keluarga (KK) semuanya semi permanen. Bahkan, musala di kampung tersebut terbuat dari bilik bambu dan atap rumbia.

Setelah menyusuri perkampungan dan perkebunan warga, sekitar 500 meter barulah sampai ke tempat tinggal Enur dan Nurheti. Sesampainya di gubuk, para relawan langsung mengelus dada.

Gubuk panggung berukuran sekitar 6×5 meter itu kondisinya sangat memprihatinkan. Dinding yang terbuat dari bilik bambu dan atap rumbia, sudah lapuk dan terlihat bolong di beberapa bagian.

“Saya tinggal di sini (Kebun) sudah 6 tahun, kami terpaksa tinggal di lahan milik Perum Perhutani, karena tidak memiliki lahan untuk di jadikan tempat tinggal,” kata Enur di rumahnya.

Gubuk itu hanya memiliki satu ruangan; sebagai ruang keluarga, ruang menerima tamu sekaligus tempat tidur. Tak terlihat, kasur di tempat itu. Hanya ada tikar tipis untuk dijadikan tempat tidur oleh keluarga yang jumlahnya 9 orang.

“Tiap malam kedinginan, kalau turun hujan, ya kehujanan karena atapnya bolong,” ujarnya.

Tempat tersebut diisi oleh Enur, Nurhaeti dan ke 7 anak-anaknya yang masih belia. Ke 7 anaknya itu dua orang sudah duduk di bangku sekolah dasar, sementara yang lainnya ada yang putus sekolah dan melanjutkan pendidikan di pesantren. Sebenarnya, mereka memiliki 10 anak. Namun, ketiga anaknya yang lain sudah berumah tangga di Bangka Belitung.

“Tidurnya begitu aja di sini. Anak-anak saya dua yang sekolah dasar. Tapi kalau hujan, enggak sekolah, karena harus melewati sungai, ditambah sekolahnya jauh,” jelasnya.

Pernyataan Enur diperkuat oleh Mini (7), anaknya. Dia mengaku, harus berjalan kaki menempuh jalan berkilo-kilometer untuk berangkat ke sekolah. 

“Sekolah di SDN Cihanjuang, tiap berangkat sekolah jalan kaki. Enggak-enggak capek,” jelas Mini.

Pasangan Enur dan Nurheti bersama tujuh anaknya berbincang bersama relawan di gubuk rombeng yang mereka huni. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Pernah Dapat PKH Tapi Dicoret

Nurhaeti mengaku pernah terdafar sebagai kekuarga penerima manfaat (KPM) Keluarga Penerima Harapan (PKH) sewaktu tinggal di Kampung Babakan, Desa Cibaliung, Kecamatan Cibaliung. Namun setelah pindah ke Kampung Pamatang Buah, namanya sebagai penerima manfaat pun di coret.

“Sekarang punya kartu BPNT (Bantuan Pangan non Tunai) dari Dinsos, suka ada bantuan beras sama telur,” jelasnya.

Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan ( TKSK) Kecamatan Cibaliung, Deden saat di rumah pasutri itu mengamini, jika nama Nurhaeti sudah tidak terdaftar sebagai penerima PKH, karena perpindahan tempat tinggal tadi. Deden mengaku akan segera mencarikan solusi agar keluarga itu bisa mendapat tempat tinggal yang layak.

“Iya betul sudah dicoret, karena pindah. Kalau untuk rumahnya sementara kita bawakan terpal dulu untuk menutupi yang bocor sebelum menemukan lahan pembangunan rumah,” jelasnya.

Kepala Desa Cihanjuang, Adhadi yang turut ikut ke rumah itu sempat membujuk agar keluarga tersebut bisa tinggal di lahan pribadi miliknya. Agar, bisa terpantau aktivitas keluarganya.

“Saya sudah ada lahan milik pribadi untuk pembangunan rumah, sementara dari hasil swadaya dulu,” ungkapnya.

Relawan di Pandeglang berfoto bersama anak-anak pasangan Enur dan Nurheti di dalam gubuk yang mereka tinggali.(BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Perjuangkan Nasib Anak!

Enam anak Enur dan Nurhaeti masih di bawah umur. Hanya satu yang dewasa. Mereka terlihat tidak terurus dan dekil. Sehingga di khawatirkan mudah terserang penyakit. Selain itu, nasib anak-anak mereka dengan ketertinggalan yang dimiliki bisa terganggu. 

Oleh karena itu, relawan sosial perlindungan anak, Aank Ahmed dan teman-temannya mengaku akan melakukan pendampingan kepada ke enam anak tersebut. Bahkan, mereka juga siap memfasilitasi anak-anaknya untuk bisa sekolah.

“Saya akan perjuangkan hak-hak anaknya, agar masa depan mereka lebih baik. Kasian lah, kalau tidak sekolah kita akan perjungkan sekolahnya juga. Tadi Kades sudah memberikan solusi agar tinggal di tanahnya, tinggal kemauan dari pihak kekuarga saja,” tambahnya.

Dalam kunjungan itu, para relawan membawa sejumlah logistik seperti beras, lauk pauk, susu dan seperangkat alat sekolah. Selain itu, mereka juga memberikan sejumlah uang yang dititipkan oleh seorang dermawan.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Trending