Connect with us

METROPOLITAN

Duit Nasabah BRI Dibobol Menggunakan ATM Bank Lain, Kenali Kejahatan Ini supaya Tak Jadi Korban

Published

on

Ilustrasi pelaku skimming. Seorang nasabah BRI Depok diduga menjadi salah satu korban kejahatan ini. (Foto: CNNIndonesia.com)

Jakarta – Pratama Guittara, seorang nasabah BRI Cabang Depok, Jawa Barat, menjadi korban pembobolan bank. Uang dalam rekening BRI miliknya Rp 14 juta mendadak raib.

Yang mengejutkan, setelah Pratama mencetak mutasi diketahui uang dalam rekeningnya diambil oleh seseorang dengan lokasi di Bali dengan menggunakan ATM bank lain.

BACA JUGA: Hati-hati! Nasabah BRI Ini Uangnya Raib dari Rekening, Pelakunya Ketahuan Tarik Tunai Pakai ATM Bank Lain

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BRI, Indra Utoyo mengatakan, kejadian yang menimpa Pratama patut diduga merupakan kejahatan skimming.

“Dugaan kuat ini kejahatan skimming yang memang perkembangan selalu kejar-kejaran dengan fraudsters-nya,” kata Indra seperti dilansir JawaPos.com, Kamis, 12 September 2019.

Lebih lanjut Indra menuturkan, pelaku skimming biasanya adalah jaringan sindikat internasional. Modus dan teknologi yang digunakan para pelaku pun terus berkembang.

Indra menambahkan, saat ini emiten berkode BBRI itu tengah menelusuri apa yang menimpa korban. Selanjutnya, perseroan akan mengambil tindakan atas kejadian tersebut.

Kenali Skiming dan Modus Pelaku

Skiming adalah istilah untuk kejahatan pencurian informasi dari kartu kredit dan debit. Kejahatan ini bisa mengintai setiap nasabah perbankan.

Pengamat keamanan siber Vaksin.com Alfons Tanujaya mengungkap kejadian skimming ATM bisa bersumber dari dalam dan luar.

Dari dalam, artinya ada kebocoran database perbankan dan terjadi masif. Sementara dari luar artinya bisa terjadi skimming di mesin ATM atau skimming mesin EDC disertai kamera pengintip pin. Skimming ATM dilakukan dengan mengkloning kartu.

“Kalau kloning, kartu harus fisik digesekkan ke alat yang biasanya disamarkan,” ujar Alfons seperti dilansir CNNIndonesia.com, Jumat, 13 September 2019.

Alfons menambahkan alat skimming bisa dikendalikan dari jauh. Namun, intinya ada alat skimming yang menempel untuk menggesekkan kartu.

Dia menjelaskan alat skimming biasanya kecil dan tipis. Bentuk yang kecil ini membuat sulit mengindentifikasi potensi skimming dalam ATM atau EDC.

“Alat pencuri PIN pun sudah canggih. Kalau kamera kecil kan terlihat. Ini bentuknya seperti keypad yang ditumpuk di atas keypad asli,” papar Alfons.

Dia menegaskan pengguna ATM harus waspada khususnya lokasi yang sepi.

“Selalu waspada khususnya ATM yang sepi atau mulut ATM yang aneh dan pin pad yang terlalu menonjol,” ungkap Alfons.

Alfons mengungkap masih ada potensi menghindari skimming dengan menggunakan kartu chip. Pasalnya, kartu ATM yang menggunakan chip data sudah terenkripsi. Enkripsi artinya proses pengamanan informasi dengan membuat informasi tidak dapat dibaca tanpa bantuan kode atau ilmu khusus.

“Maka dari itu, sebaiknya bank mengganti kartu ATM dengan teknologi chip,” ujar Alfons.

Dia menambahkan hingga saat ini rata-rata kartu masih gabungan chip dan magnetik karena masa transisi. Sehingga bank perlu menonaktifkan EDC dan ATM magnetik secara perlahan.

Melihat dari kasus Pratama tersebut, Alfons menilai ada dua yang terjadi yakni kartu berhasil dikloning dan pin ATM berhasil diketahui.

Alfons menilai ATM yang digunakan kemungkinan masih magnetik artinya kalau sudah ada chip pun masih gabungan belum 100 persen chip.

“Logikanya itu kemungkinan besar magnetik. Sehingga bisa dijadikan sumber skimming. Atau bisa saja skimming di daerah lain. Lihat saja di histori penggunaan kartu korban,” papar Alfons.

Dari histori tersebut, menurut Alfons sumber skimming mudah dilacak.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending