Connect with us

METROPOLITAN

Digadang-gadang Jadi Cawagub Banten hingga Jabat Asisten Deputi Menkopolhukam, Ini Sederet Karir Jenderal TNI yang Ditangkap Densus 88

Published

on

Teroris di Tangerang Ditangkap

Ilustrasi: Densus 88 tangkap teroris di Tangerang beberapa waktu lalu. (Dok.BantenHits.com)

Tangerang – Laksamana Pertama (Purn) SS ditangkap tim gabungan Polda Metro Jaya dengan Densus 88 bersama lima orang lainnya setelah diduga merencanakan demo berujung ricuh.

Jenderal bintang satu ini ditangkap di rumahnya di Perumahan Taman Royal 2, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Sabtu, 28 September 2019.

SS diketahui pernah bekerja di Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) menjabat Asisten Deputi bidang Kesatuan Bangsa saat Luhut Binsar Pandjaitan menjabat Menkopolhukam.

Salah seorang anak SS, Abdul Hakim Santoso saat ditemui di rumah orangtuanya, Senin, 30 September 2019 mengatakan, ayahnya itu penah menjadi pejabat di Deputi Penanganan Pemberdayaan Masyarakat.

“Iya (pernah), terakhir pas menterinya Luhut Pandjaitan. Ganti Wiranto terus pensiun. Deputinya di Penanganan Pemberdayaan Masyarakat ” kata Hakim seperti dilansir Kumparan.com.

Usai purna dari TNI dan pensiun dari Kemenkopolhukam, SS kerap menjadi dosen dan pembicara di berbagai universitas dan ruang diskusi. Hakim mengungkapkan ayahnya itu kerap mengisi materi soal kebangsaan.

BACA :  Pemkab Lemkab Launching Aplikasi Lebak Smart Tax untuk Maksimalkan Informasi Pajak

“Kan bokap dosen. Dosen reguler di Universitas Methodist Indonesia, Medan, dosen hukum. Kadang-kadang jadi dosen tamu beberapa universitas. Ngajar-ngajar tentang kebangsaan. Makanya gua bilang ngapain bokap jadi mujahidin,” jelasnya.

Di bidang politik, SS juga diketahui mencoba peruntungan Pileg 2019 dengan menjadi caleg DPR dari Partai Berkarya. Namun SS gagal karena suara Partai Berkarya tak lolos ambang batas suara parlemen.

“Tahun ini, 2019 (maju caleg) DPR RI dari Berkarya,” terang Hakim.

Dalam situs infopemilu.kpu.go.id, Pria kelahiran 13 Maret 1960 itu merupakan caleg Dapil Banten II (Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon) dengan nomor urut 4.

Selain itu, SS juga pernah menjadi bakal calon wakil gubernur Banten pada 2016 lalu dari jalur independen, namun gagal berkompetisi.

SS ditangkap bersama 4 orang lainnya di Tangerang karena diduga merencanakan demo ricuh dan telah menyiapkan sejumlah bom molotov. Dalam penangkapan itu, polisi juga menangkap seorang dosen IPB bernama Abdul Basith.

BACA :  Penertiban PKL di Pandeglang Diwarnai Adu Mulut

Namun hingga kini, polisi belum mau mengungkapkan secara gamblang dan lengkap peran mereka dalam kejadian ini.

Jadi Penasihat Warga

SS dikenal sosok baik di mata tetangga. Pensiunan TNI AL dengan pangkat terakhir laksamaan pertama (laksma) atau bintang satu ini kerap menjadi penasihat bila warga ada persoalan.

Karena itu, penangkapan SS terkait kasus demo ricuh mengagetkan warga.

“Ya beliau baik, supel. Enggak tertutup. Kita setiap ada masalah warga nih, beliau menjadi penasihat. Karena bisa dibilang beliau sesepuhlah, yang dituakan,” beber Harry, Ketua RT 07/16 Perumahan Taman Royal Tangerang, yang ditemui di lokasi, Senin, 30 September 2018, seperti dilansir Kumparan.com.

Seingat Harry, SS sudah 10 tahunan tinggal di kompleks itu. SS tinggal bersama anak dan istrinya. Selain yang dituakan di kompleks itu, SS juga sosok yang disegani.

“Ya namanya beliau jenderal, warga agak seganlah. Enggak bisa segaul-gaul kaya kita sama warga gimana, gitu. Karena kan beliau pensiunan tentara, jenderal juga. Jadi kita juga sungkan. Tapi kita tetap monitorlah,” urai Harry.

BACA :  Mahasiswa dan Pengusaha di Banten Disebut Terlibat Jaringan Teroris

“Beliau dosen, dosen tamu di beberapa universitas. Ya itu juga saya baru tahu dari warga, ternyata beliau dosen,” tambahnya.

Karena SS tokoh yang disegani, penangkapan SS jelas membuat warga heran. Apalagi, mantan caleg Partai Berkarya itu disebutkan sampai meracik bom molotov.

“Tapi kalau sekarang, ya warga pada kaget, shock, apalagi dicurigai membuat bom. Dengan melihat kehidupannya sehari-hari kaya enggak masuk akal gitu. Putra beliau juga kan caleg NasDem pemilu kemarin,” urai Harry.

Harry juga mengaku tidak tahu persis soal proses penangkapan SS. Saat diberi kabar soal penangkapan itu, dia tengah berada di Puncak, Bogor.

“Saya enggak tahu persis, ya. Waktu proses penangkapan dan penggeledahan saya masih di Puncak. Malam Kamis saya berangkat ke Puncak. Minggu dini hari kan katanya kejadiannya (penangkapan). Saya dapat kabarnya dari security,” beber Harry.

Penangkapan SS ini sebelumnya ramai diperbincangkan di media sosial dan menyebar di WhatsApp Group. Isinya SS dan beberapa orang ditangkap terkait demo ricuh dan penemuan bom molotov.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler