Connect with us

METROPOLITAN

Keren! Teknologi Ini Bisa Mendeteksi Rantai Pasokan dan Produktivitas Petani Kopi secara Geografis untuk Cegah Kerusakan Hutan

Published

on

(Dari kiri ke kanan) Direktur Eksekutif Aliansi Hutan Tropis, Justin Adams; Rekan Pendiri dan Kepala Eksekutif Grup Olam  Sunny Verghese; dan Presiden dan CEO dari Wildlife Conservation, Cristián Samper. (Istimewa)

Sumatera Selatan – Meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani kopi di seluruh pelosok Indonesia, ternyata bisa diwujudkan dengan tetap mencegah kerusakan hutan akibat perambahan untuk lahan pertanian kopi.

Lagi-lagi, teknologi telah menjadi solusi. Sebuah usaha kolaboratif antara Wildlife Conservation Society (WCS) dengan pemasok makanan dan agrobisnis global, Olam International, baru-baru ini menjadi harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan petani sekaligus untuk kelestarian hutan.

Dalam kolaborasi ini, Olam International, akan memberi izin penggunaan platformnya, Olam Farmer Information System (OFIS) kepada WCS untuk mengatasi pelanggaran batas hutan di lanskap Bukit Barisan Selatan (BBSNP), Sumatera Selatan.

Co-Founder dan CEO Grup Olam, Sunny Verghese mengatakan, berbagi kemampuan digital dengan WCS adalah salah satu upaya Olam Internasional untuk membayangkan kembali sistem pangan dan agrikultur global agar menjadi lebih baik.

BACA :  Bikin Resah, Pengedar Sabu di Pondok Aren "Ketangkap Basah"

“Kolaborasi ini memberi contoh bahwa kerja sama antara LSM dan perusahaan dapat menghasilkan banyak dampak positif bagi petani dan planet kita, serta mengurangi biaya dan risiko terkait bagi masing-masing pihak,” ungkap Sunny melalui keterangan tertulis yang diterima BantenHits.com.

“Selain itu, hal ini mempercepat upaya menciptakan lanskap yang mampu menangani deforestasi, memperbaiki lahan, dan menyejahterakan petani,” sambungnya.

Teknologi Berbasis GPS

OFIS berhasil dikembangkan Olam Internasional pada 2014 dengan sistem pemetaan GPS, sehingga rantai pasokan petani kecil dapat dilacak secara geografis dan dukungan produktivitas bisa lebih disesuaikan untuk kebutuhan individu petani. Hingga kini, sebanyak 370.000 petani berbagai tanaman sudah terdaftar di rantai pasokan Olam Internasional.

Lalu bagaimana platform tersebut bisa digunakan untuk mencegah perambahan hutan?

Ilustrasi petani kopi. (Foto: Republika.co.id)

Indonesia adalah salah satu produsen kopi terbesar di dunia, yang mayoritas kopinya ditanam oleh petani kecil di daerah terpencil.

Para petani itu menghadapi berbagai masalah umum seperti, pohon yang menua, kurangnya akses informasi, pelatihan, dan keuangan. Oleh karena itu, hasil pertaniannya rendah. Daerah terpencil dan rantai pasokan yang panjang dan rumit juga membuat Keterlacakan sulit dilakukan.

BACA :  Survei BPH Imadiklus Untirta Sebut Warga Tak Puas Revitalisasi Banten Lama, Pemkot Serang Beri Tanggapan

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang memiliki luas 3.140 km2 di Sumatera Selatan adalah salah satu daerah penghasil kopi utama di Indonesia, juga merupakan salah satu suaka gajah dan harimau Sumatera terakhir, serta daerah penting penyerap karbon dioksida.

Akan tetapi, Taman ini semakin menyempit karena ada setidaknya 10% area taman ini yang diubah menjadi kebun kopi.

Pada tahun 2018, untuk membalikkan kondisi ini, WCS mengadakan Kemitraan Komoditas Lestari Bukit Barisan Selatan (BBS KEKAL). Kemitraan beberapa pemangku kepentingan yang menjadi pionir ini berlandaskan prinsip ‘tanggung jawab bersama’, di mana perusahaan bekerja sama dan berkolaborasi dengan pemerintah setempat dan nasional, petani, dan warga sipil untuk mencari cara baru melindungi hutan Bukit Barisan sambil meningkatkan kesejahteraan.

Kemitraan ini mendukung petani yang beroperasi dalam jarak 1,3 km dari batas taman nasional agar beralih menjadi lahan produksi kopi bebas deforestasi, seiring upaya restorasi dan konservasi Taman Nasional.

BACA :  Pabrik Petasan di Kosambi Terbakar, Ini Kata Kadisnaker Tangerang

Melalui kolaborasi ini, tim proyek BBS KEKAL yang dipimpin oleh WCS akan menggunakan OFIS untuk menyurvei pertanian yang berpartisipasi di perbatasan hutan, mencatat, dan memantau data tentang batas-batas pertanian, hasil kebun dan produktivitas kopi, jumlah dan usia pohon kopi, infrastruktur kesehatan, sosial, dan ekonomi, serta ekosistem di sekitarnya.

Hal ini memungkinkan Kemitraan memberikan pelatihan dan insentif khusus kepada petani untuk mewujudkan produksi kopi yang sah dan tanpa merambah hutan. Bersamaan dengan itu, hal ini memungkinkan perusahaan yang berpartisipasi untuk mengurangi risiko mendapat pasokan kopi dari area Taman Nasional dan memberi solusi di area prioritas.

Presiden dan CEO Wildlife Conservation Society Cristián Samper saat menjadi pembicara di New York selama Climate Week PBB mengatakan, menghentikan deforestasi adalah hal yang sangat penting.

“BBS KEKAL menunjukkan bagaimana perusahaan harus bekerja sama dan berkolaborasi dengan pemerintah dan LSM agar mendapatkan solusi baru untuk mengatasi deforestasi,” jelasnya. 

“Hanya dengan tindakan kolektif dan dengan mendukung petani di daerah rawan, kita bisa menyelamatkan masa depan lanskap penting ini. Keterlibatan Olam dalam kemitraan ini merupakan pemicu perubahan dari komitmen menjadi tindakan,” tegasnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

 



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler