Connect with us

METROPOLITAN

Hati-hati Gunakan Istilah Radikalisme! Rektor UMT Beberkan Analisis Ini

Published

on

Rektor UMT Ahmad Amrullah saat menyampaikan orasi saat milad satu dasawarsa UMT, 3 Agustus 2019.(Dok.BantenHits.com)

Tangerang – Rektor UMT atau Universitas Muhammadiyah Tangerang Ahmad Amrullah meminta publik berhati-hati menggunakan istilah radikalisme yang acap disematkan kepada umat Islam.

Radikalisme, kata Amrullah, merupakan diksi yang dikembangkan negara barat kepada di Indonesia yang mayoritas berpenduduk Muslim dengan tujuan untuk memecah belah umat.

Hal tersebut disampaikan Amrullah saat mengikuti pengajian bulanan Universitas Muhamadiyah Tangerang,Sabtu 12 Oktober 2019 sore.

” Pelaku perusakan dan pembunuhan seharusnya disebut bar-bar atau primitif dan bukan radikalisme,” kata Amrullah.

“(Radikalisme) itu adalah diksi yang dikembangkan oleh negara barat dan itu berhasil menghipnotis negara berkembang termasuk Indonesia yang mayoritas Muslim,” sambungnya.

Pria yang sedang berproses untuk meraih gelar profesor ini menilai, penggunaan radikalisme belakangan ini lebih condong diarahkan kepada umat Islam.

“Itulah kemudian kita harus hati hati menggunakan kata radikalisme. Persoalannya adalah bagaimana motif yang akan diarahkan oleh orang orang yang menggunakan diksi radikal. Bagaimana niatnya. Sesungguhnya orang orang yang berbuat kerusakan lebih pas disebut bar-bar, primitif,” jelasnya.

Kekerasan Verbal

Senada, mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah Din Syamsudin menilai, tuduhan radikalisme akhir-akhir ini cenderung tendensius karena mengarah kepada umat Islam. Tuduhan radikalisme tanpa disertai bukti menjadi bentuk kekerasan verbal.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia itu mendesak pejabat pemerintah ataupun aparat penegak hukum untuk meminta maaf kepada umat Islam atas tuduhan radikalisme tanpa bukti tersebut.

Sebelumnya, publik dibuat geger menyusul aksi nekat sepasang suami istri menyerang Menko Polhukam Wiranto dan rombongan di Alun-alun Menes, Kabupaten Pandeglang, Kamis, 10 Oktober 2019.

Akibat penyerangan tersebut, Wiranto mengalami dua luka tusukan di perut, sementara tiga lainnya juga menderita luka.

Editor: Darussalam Jagad Syhadana

Trending