Connect with us

METROPOLITAN

Aktif Transaksi Uang Korupsi Suami sepanjang 2006-2010, Persidangan Pernah Ungkap Deretan Dugaan Keterlibatan Airin Rachmi Diany

Published

on

Wakil Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany dan Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie. (Dok. Banten Hits)

Jakarta – Sidang perdana terdakwa kasus korupsi pengadaan alat kesehatan pada RSUD Banten dan Puskesmas Tangsel, serta tindak pidana pencucian uang (TPPU), Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis, 31 Oktober 2019.

Wawan yang merupakan Komisaris Utama PT Balipasific Pragama (BPP) Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan didakwa merugikan negara Rp 94,3 miliar terkait pengadaan alat kesehatan (alkes) Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan.

Jaksa KPK dalam dakwaannya menyebutkan, perbuatan Wawan disebut memperkaya diri sendiri, orang lain dan korporasi. Dalam dakwaan juga disebutkan pihak-pihak yang kecipratan uang korupsi Wawan, di antaranya mantan gubernur Banten yang kini anggota DPR RI dari PDIP Rano Karno.

BACA JUGA: Rano Karno dalam Pusaran Korupsi Alkes Wawan; Lebih Tiga Kali Disebut dalam Sidang hingga Kuitansi Penerimaan Uang Beredar

Dilansir IDN Times, selain Rano Karno, istri Wawan yang juga Wali Kota Tangsel dua periode Airin Rachmi Diany juga termasuk pihak yang aktif transaksi menggunakan uang hasil korupsi Wawan.

Airin tercantum dalam surat dakwaan KPK sebagai orang yang ikut menyetor, mentransfer dan menarik uang itu.

Dalam surat dakwaan KPK nomor perkara: 99/Pid.Sus-TPK/2019/PN Jkt.Pst, halaman 321 poin nomor 1. Airin tercatat lakukan setor tunai ke rekening BNI atas nama Yayah Rodiah dengan berita acara berjudul ‘Untuk Proyek’ dengan nilai Rp 1 miliar.

Transaksi itu terjadi pada 21 Maret 2006. Transaksi-transaksi dengan judul berita acara serupa di rekening ini terjadi sampai 21 Oktober 2010. Hal sama terjadi pada rekening OCBC NISP atas nama pemilik yang sama. Bedanya pada OCBC NISP, Airin banyak melakukan tarik tunai.

Dalam catatan KPK di surat dakwaannya, Airin juga tercantum melakukan pembukaan rekening deposito atas nama dirinya di Bank OCBC NISP pada 11 Agustus 2009 yang diduga menggunakan uang hasil korupsi Wawan.

Selain banyak tercantum pada transaksi keuangan Bank, Airin juga banyak tercatat dalam transaksi pembelian mobil. Salah satunya pembelian Toyota Kijang Innova yang dilakukan pada tahum 2009 atas nama dirinya yang kemudian mobil tersebut dibelikan ke Wakil ketua DPD PDI-P Banten, Gussuyadi.

“Selanjutnya Gussuyadi menjual mobil Kijang Innova tersebut sebesar Rp. 140 juta, dan Gussuyadi menyerahkan sebagian dari hasil uang penjualan sebesar Rp. 10 juta kepada KPK,” tulis surat dakwaan KPK pada halaman 344.

BACA :  Hadapi UN Online, SMAN 2 Kota Serang Siapkan Genset

Penyidikan TPPU Lima Tahun

Sebelumnya, Juru bicara KPK Febri Diansyah mengungkap, penyidikan TPPU Wawan membutuhkan waktu sekitar lima tahun karena tim harus mengidentifikasi secara rinci proyek-proyek yang dikerjakan, dugaan keuntungan yang didapatkan secara tidak semestinya, aliran dana, penelusuran aset yang berada di sejumlah lokasi dan kerjasama lintas negara.

Diduga Wawan melalui perusahaannya telah mengerjakan sekitar 1.105 kontrak proyek dari pemerintah Provinsi Banten dan beberapa Kabupaten yang ada di Provinsi Banten dengan total nilai kontrak kurang lebih sebesar Rp 6 triliun.

Salah satu proyek yang diduga dikorupsi adalah pembangunan proyek alat kesehatan dan fisik RSUD serta Puskesmas Tangsel tahun 2010-2012.

Pengadilan Tipikor telah menjatuhkan putusan untuk sejumlah terdakwa seperti Tubagus Chaeri Wardana, Dadang M. Epid, mantan Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, mantan anggota DPR RI dari PDIP Herdian Koosnadi, anggota DPRD Banten Desy Yusandi, serta sejumlah nama lainnya.

BACA JUGA: Terbukti Korupsi RSUD Tangsel, Suami Airin Hanya Divonis Setahun

Yang menarik, selama persidangan sejumlah saksi yang dihadirkan pernah mengungkapkan fakta-fakta mencengangkan seperti berikut:

1. Airin Sering Pimpin Rapat di Pemkot Tangsel Ditemani Wawan

Pada persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Serang, Selasa, 4 Agustus 2015, Dadang M. Epid mengungkapkan bagaimana Wawan bersama istrinya Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany selalu menghadiri rapat dinas di empat SKPD di Tangsel.

“Pak Wawan datang dalam rapat, dia cerdas dalam prioritas pembangunan dia juga ngomong jangan ini dulu tapi ini dulu (proyek, red) kebanyakan kita ikut beliau. Kita rapat dengan sekda, dan kadang Wali kota Airin Rahmi Diany hadir dalam rapat tersebut. Atuh saya tidak tahu pak Wawan hadir dalam rapat tersebut sebagai apa tapi yang jelas kalau empat SKPD selalu hadir,”  ungkap Dadang M. Epid di persidangan.

BACA JUGA: Dadang M.Epid Sebut Wawan dan Airin Sering Hadir Bersama dalam Rapat Dinas

Dalam rapat tersebut, kata Dadang, Tb Chaeri Wardana kuasanya melebihi dari Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rahmi Diany. Wawan juga sering menanyakan proses persiapan lelang dan memberikan nama-nama plotting perusahaan yang bakal mengerjakan proyek.

“Pak Wawan tanyakan dalam rapat ada uang berapa? (anggaran, red), kapan mulai lelang? Apa persyaratannya? Dari situ kita dikasih plotting nama-nama yang mengerjakan proyek, semua SKPD kayak gitu, kalau engga prosesnya bisa dibatalkan lagi di tingkat ULP,” kata Dadang.

2. Rapat Dinas Digelar di Rumah, Kantor Wawan dan Hotel Ritz Carlton

Mantan Sekda Kota Tangsel Dudung E. Diredja pernah menyampaikan kesaksian juga di Pengadilan Tipikor Serang. Dalam persidangan, Selasa, 8 September 2015, Dudung menyebut, rapat dinas Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) pernah digelar di rumah pribadi Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany di Jalan Denpasar IV, No 35, Kelurahan Setiabudi, Jakarta Selatan.

BACA :  Pejabat Diskominfo Banten Disomasi Warga Lebak

Selain di rumah pribadi, rapat dinas juga pernah digelar di Hotel Ritz Carlton, Bandara Soekarno Hatta, bahkan di kantor PT Bali Pacific Pragama (BPP), perusahaan milik suami Airin yang jadi terpidana korupsi, Tubagus Chaeri Wardana di Gedung The East. Di tempat ini, diketahui Wawan dua kali hadir.

BACA JUGA: Terungkap, Rapat Dinas Tangsel Digelar di Hotel Ritz Carlton dan The East

“Yang mengundang wali kota melalui ajudannya. Biasanya dadakan, agar saudara datang ke Jakarta, (rumah Airin) untuk melaporkan dan membahas progres kegiatan di empat dinas prioritas,” kata Dudung saat ditanya oleh JPU KPK Sugeng.

Dalam rapat tersebut, kata Dudung, hadir dalam rapat yakni para kepala dinas kesehatan, pendidikan, bina marga dan tata Kota Tangsel. Bahkan, hadir pula  suami Airin, Tubagus Chaeri Wardana.

3. Airin dan Benyamin Davnie Kecipratan THR

Pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany-Benyamin Davnie, mendapatkan tunjangan hari raya (THR) dari Dinas Kesehatan Tangsel yang saat itu dipimpin Dadang M.Epid.

Hal itu diungkapkan Dadang M.Epid saat menjadi saksi kasus korupsi alkes Tangsel dengan terdakwa Dadang Prijatna di Pengadilan Tipikor Serang, Selasa, 1 September 2015.

Dadang yang mantan anak buah Airin itu bersaksi, Airin mendapat jatah THR dari dinas yang dipimpin Dadang sebesar Rp 50 juta, Benyamin Rp 30 juta, dan Sekda Tangsel Dudung Erwan Direja mendapat Rp 20 juta.

BACA JUGA: Terungkap dalam Sidang Kasus Alkes, Airin-Banyamin Dapat THR dari Dinkes

Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim J Purba, Dadang M.Epid menyebut THR untuk Airin-Benyamin dan sejumlah pejabat di Tangsel ini sebagai setoran liar.

“Di rapat ploting besaran setoran sudah ditentukan, ada arahan wali kota namun terkait prioritas pembangunan saja, infrastruktur, pendidikan, pokoknya ada enam skpd yang sudah diploting,” katanya.

4. Saksi Dipaksa Tutup Mulut di KPK

Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany diam-diam menyediakan pengacara untuk bertemu dengan saksi kasus dugaan korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) Kedokteran Umum Puskesmas Kota Tangsel APBD-P 2012 senilai Rp 23,5 miliar.

Melalui pengacaranya, Airin memerintahkan supaya saksi tak menyebutkan dan tidak mengenal nama Direktur Utama Java Medika Yuni Astuti jika ditanyakan oleh penyidik KPK.  

BACA :  Bupati Iti ke ASN Lebak: Tak Boleh Keluar Daerah, Jika Positif Covid-19 Saya Riksus

Hal tersebut terungkap dalam sidang lanjutan untuk mendengarkan keterangan lima orang saksi yang dihadirkan, termasuk ketua tim Panitia Pemeriksa Hasil Pekerjaan (PPHP) dalam pengadaan barang alat kesehatan (alkes) kedokteran umum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang Selatan (Tangsel) tahun anggaran 2012  dr Tulus Mualdiono dan Ahmad Bazury selaku Panitia Pengadaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Serang, Selasa, 25 Agustus 2015.

BACA JUGA: Airin Sediakan Pengacara Paksa Saksi Tutup Mulut di KPK

“Pak Kadis (Dadang M Epid) pernah bilang, nanti kita ketemu dan dikenalkan dengan pengacara yang disediakan oleh wali kota (Airin),” kata Bazury.

Tak hanya Airin, suaminya yang kini menjadi narapidana di LP Sukamiskin, Tb Caheri Wardana alias Wawan,  melalui pengacaranya menginstruksikan kepada sejumlah pihak untuk tidak membeberkan semua yang menyangkut kasus dugaan korupsi pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) Kedokteran Umum Puskesmas Kota Tangsel APBD-P 2012 senilai Rp 23,5 miliar itu.

5. Airin Bagikan BlackBerry Berkode Khusus

Wali Kota Tangerang Airin Rachmi Diany diketahui membagikan BlackBerry kepada terdakwa korupsi alkes dan pembangunan Puskesmas Tangsel tahun 2012, Dadang Prijatna, Yayah Rodiah, Dadang Supena, dan Sukatma. BlackBerry dibagikan untuk mempermudah koordinasi dan menerima arahan dari Wawan yang saat itu berada dalam tahanan KPK.

Fakta tersebut diungkapkan Manajer Oprasional PT Bali Pcific Pragama Dadang Prijatna di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu, 30 September 2015. Dadang yang merupakan tangan kanan Wawan mengungkapkan, ada perintah dari Wawan yang meminta kepada terdakwa Dadang Prijatna agar berbohong mengenai pembagian nilai proyek alkes yang diterima oleh PT BPP sebesar 43,5 persen.  

Dadang yang merupakan tangan kanan Wawan tersebut mengungkapkan bahwa adanya perintah dari Wawan yang meminta kepada terdakwa Dadang Prijatna agar berbohong mengenai pembagian nilai proyek alkes yang diterima oleh PT BPP sebesar 43,5 persen.

Pemberian BlackBerry kepada Dadang dimaksudkan untuk mempermudah melakukan komunikasi dan arahan dari Wawan. Telepon genggam tersebut diberikan sekitar November 2013 di salah satu rumah makan di daerah Serpong Tangsel oleh Yayah Rodiyah kepada Dadang Priajtana.

BACA JUGA: Airin Bagikan BlackBerry Supaya Wawan Bisa Beri Arahan dari Tahanan KPK

“Kata Bu Yayah itu BB (BlackBerry) dari Bu Airin. Kodenya B1 itu untuk Pak Wawan, i untuk Airin, YH untuk Yayah Rodiyah, DS untuk Dadang Supena, dan SKT untuk Sukatma,” kata Dadang saat menjawab pertanyaan pengacaranya Sutiyono di hadapan majelis hakim yang diketuai Jasden Purba.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler