Connect with us

OPINI

Adiksi Gawai Dalam Bersosial Media

Published

on

Riansyah Saputra. (Istimewa).

BantenHits- Belakangan ini teknologi tengah menguasai sendi-sendi kehidupan, gawai adalah salah satu contoh teknologi  yang paling banyak digunakan populasi manusia diplanet ini. Dengan berbekal teknologi smartphone, gawai menjadi salah satu teknologi yang tidak bisa terlepas dari genggaman tangan siapapun saat ini. 

Menawarkan segala keringkasan dalam penunjang aktifitas manusia, gawai bak ibarat wabah, yang mudah menginfeksi penggunanya menjadi candu dan ketergantungan. Alih-alih memanfaatkan keterbukaan informasi saat ini yang bersifat masif, penggunanya mampu terhipnotis dan diajak kedimensi lain, dimana ia bisa menggenggam dunia dengan hanya menggenggam telpon gengamnya dan bermodalkan jaringan internet.

Beruntunglah ia yang mampu bijak dalam penggunaannya,  gawai yang dimilikinya bisa mengakses segala macam informasi ter-update untuk dirinya sehingga dampak positif bisa dirasakan, manfaatnya terasa ternodai dikala jari-jari hanya bisa mengusap-ngusap keatas dan kebawah layar saat bersosial media, yang menuntun kita terus melihat dan melihat tanpa ada pembaruan informasi yang penting, hanya ada pemenuhan rasa hiburan yang berlebihan dan memakan waktu berjam-jam hilang begitu saja. 

BACA :  Banten Darurat Korupsi (Lagi)

Dampak dari perbuatan itu membuat kita nyaman, dan candu yang berujung malas-malasan, bahkan kini kita tidak lagi mencari segelas air putih saat bangun tidur. Kita hanya butuh gawai dan kembali mengusap-mengusap layar dengan jari-jari kita dan tadaaa! kita kembali berselancar dimedia sosial. Terus diulang dan terus kembali terulang hingga menjadi sesuatu ritual yang wajib dilakukan.

Ketika semua rasa  itu terus terawat, kepuasaan didapat, seseorang akan mulai terobsesi ketika melihat hal-hal yang didapatnya di media sosial, mulanya ia akan mencotoh hal yang mampu dilakukan dirinya , selanjutnya ia akan mencoba melampaui kemampuan dasar dirinya guna melakukan hal yang menjadi obsesinya. Dan tidak sedikit yang berujung petaka dan terjerat kasus yang mengakibatkannya harus berhubungan dengan pihak berwajib.

Tentunya tindakan seperti itu adalah bentuk sebagai seorang individu yang normal, kita memiliki keinginan atau sebuah rencana yang bisa membuat energy di dalam tubuh kita lebih fokus lagi, namun jika kita menyatukan sebuah keinginan yang lebih banyak menggunakan emosi dan juga dilakukan tanpa terkendali hal tersebut juga merupakan hal yang tidak baik untuk dilakukan.

BACA :  Semangat Perjuangan Menuju Indonesia Maju

Contoh yang gamblang adalah ketika seseorang yang terobsesi dengan hidup gaya mewah yang ditampilkan para selebgram yang mengahantarkan ia pada ketenaran dan pujian,  orang yang terobsesi seperti itu yang tidak memiliki kemampuan akan berusaha membuktikan dirinya hidup mewah seperti selebgram tersebut, entah dengan cara terpuji atau tidak ia akan menghalalkan segala cara demi meraih predikat itu dan pengharagaan dari teman-teman didunia mayanya tersebut.

Jika efek seperti itu terus bergulir, akan menghantarkan seseorang tergilas dan tertinggal, dan menghasilkan manusia tanpa kemauan dengan kehidupan palsu yang hanya merepotkan diri sendiri. Kecanduan ini sendiri bisa disandingkan dengan kecanduan narkoba karena kemiripannya. 

Ketergantungan terhadap sebuah sumber kesenangan tertentu, begitu parah hingga kita merasa sakit jika tidak mendapatkannya. Tetapi ketika kita mendapatkan Like, Komentar Baik atau follower baru di jejaring sosial media dan ditampilkan dalam notifikasi di atas layar smartphone secara tidak langsung kita merasa senang karena otak merespon seakan mendapat hadiah. Para Psikolog telah mencatat hal seperti itu yang memicu riliskan hormon dopamin, mirip ketika kita mengkonsumsi opionid.

BACA :  Pemuda Lebak dan Tantangan Pembangunan Otonomi Daerah Kabupaten Lebak

Tapi inilah gambaran sisi lain dari kemajuan teknologi, ketika kita terus dicekoki segudang teknologi dan keterbukaan informasi yang masif. Kita harus mampu menjadi pemain utama dalam pertandingan, jangan menjadi bola bundar yang hanya dipermainkan dan diarahkan kemanapun. 

Karena teknologi dan kemajuan adalah dua unsur yang jika dihadapkan akan menjadi sesuatu yang brilian, dengan catatan jika dibarengi dengan literasi media manusia itu sendiri dalam menggunakan. Jangan sampai teknologi yang dibuat untuk membantu menunjang segala bentuk aktifitas kita malah menjadi penghambat dalam beraktifitas.

Penulis: Riansyah Saputra (Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jakarta)



Terpopuler