Connect with us

METROPOLITAN

Orang Tua Ungkap Kronologi 15 Siswa SMK Negeri 3 Pandeglang yang Sedang PKL Diikat dan Disiksa di Atas Kapal

Published

on

15 Siswa SMK Negeri 3 Pandeglang yang mengalami kekerasan saat PKL di sebuah kapal pencari ikan. Mereka mengaku diikat dan disiksa di atas kapal. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Pandeglang – Asep Komarudin (45), warga Kampung Laba, Desa Cigondang, Kecamatan Labuan resah saat mendengar kabar anaknya, Eli Suherli menjadi korban kekerasaan fisik ketika melaksanakan Peraktik Kerja Lapangan (PKL) di sebuah kapal nelayan.

Asep tadinya berharap, Eli Suhari mendapat ilmu dan pengalaman dari kegiatannya itu. Namun, sebaliknya malah kabar buruk yang menyertai sang anak.

Asep mendapatkan soal peristiwa yang dialami anaknya setelah sang anak menelepon dari Timika, Papua, beberapa saat setelah berhasil kabur dari kapal bersama teman-temannya.

BACA JUGA: Diikat dan Kerap Disiksa di Atas Kapal, 15 Siswa SMK Negeri 3 Pandeglang Berhasil Kabur saat Sandar di Timika Papua

Eli beserta 14 rekannya dari SMK Negeri 3 Pandeglang melaksanakan PKL di sebuah kapal penangkapan ikan. Mereka berangkat dari Pelabuhan Perikanan di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, menggunakan kapal untuk mencari ikan hingga Perairan Papua.

Selama kurang lebih dua bulan berlayar, Eli dan rekan-rekannya, mendapat perlakuan semena-mena. Bahkan, makan saja kerap di beri makan sisa oleh Anak Buah Kapal (ABK) senior.

“Dia (Eli) kan berangkat ke Papua mau PKL. Harapan orang tua anak saya supaya sukses, punya pengalaman. Tau-taunya begini,” kata Asep kepada BantenHits.com, Selasa, 5, November 2019.

Menurut Asep, para siswa SMK Negeri 3 Pandeglang itu, berangkat sejak bulan September dari sekolah menuju pelabuhan Perikanan di Kecamatan Juwana menggunakan mobil bus. Sejak saat itu, Asep dan anaknya tidak pernah berkomunikasi.

“Berlayarnya dua bulan setengah, belum pernah komunikasi. Ketika bersandar di Timik, Papua baru ngasih kabar, baru anak saya cerita kalau disana dia bersama temannya mendapat kekerasan fisik,” jelasnya.

Beruntung mereka dapat kabur, saat kapal bersandar di Timika, Papua Barat, dengan dibantu sopir taksi, meski tidak langsung pulang ke Pandeglang.

“Anak saya dan rekannya tidak langsung pulang, mereka menginap dulu selama 1 minggu di kontarakan temannya sopir taksi tadi. Kenapa tidak langsung pulang, karena khawatir ABK, menghubungi pelabuhan perikanan di Juwana,” ungkapnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Trending