Connect with us

METROPOLITAN

Buset! Warga Lebak Sebulan Isap 111 Miliar Batang Rokok

Published

on

Pusat Kajian Kesehatan (Puskakes) Uhamka menggelar pertemuan lintas OPD Pemkab Lebak dalam rangka penyusunan raperda kawasan tanpa rokok. (FOTO: Dok. Puskakes Uhamka)

Lebak – Jumlah perokok di Kabupaten Lebak termasuk salah satu wilayah tertinggi di Provinsi Banten. Saat ini Kabupaten Lebak menghadapi tantangan tingginya prevalensi perokok.

Menurut laporan BPS, pervalensi perokok di Kabupaten Lebak pada 2017 adalah 36,84 persen. Angka ini di atas rata-rata Provinsi Banten, yakni 31, 5 persen, atau prevalensi Indonesia 28, 9 persen.

Dengan jumlah penduduk usia di atas 15 tahun sebanyak 876,653 jiwa, maka jumlah perokok di Kabupaten Lebak diperkirakan sekitar 322,941 jiwa, dengan rata-rata konsumsi 86 batang rokok per minggu atau 12 batang per hari, penduduk Lebak mengkonsumsi 27 miliar batang per minggu atau 111 miliar batang per bulan.

Indeks Keluarga Sehat Rendah

Kabid Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak Dr. Firman menyatakan, prevalensi perokok di Kabupaten Lebak meningkat dari 34,7 persen pada 2007 menjadi 35,5 persen pada 2013.

“Memang perlu ada aturan yang memaksa untuk mendorong orang meninggalkan kebiasaan merokok. Masyarakat perlu menerapkan pola hidup sehat” kata Firman melalui keterangan tertulis.

Menurut Firman, tingginya angka perokok di Kabupaten Lebak berpengaruh terhadap indeks keluarga sehat (IKS). Saat ini, keluarga yang dikategorikan keluarga sehat di Lebak baru mencapai 11persen dari target 35 persen. Salah satunya karena banyak keluarga yang merokok” tambahnya.

Perda Kawasan Tanpa Rokok

Tingginya prevalensi dan tingkat konsumsi rokok, berkaitan erat dengan masih tingginya berbagai penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, hipertensi, dan gangguan pada jantung.

Penanganan masalah rokok menjadi penting di Kabupaten Lebak. Apalagi hingga saat ini, Lebak merupakan salah satu dari 3 daerah di Banten yang belum memiliki peraturan daerah soal rokok seperti diamanatkan oleh UU Kesehatan.

Fakta ini pula yang mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka untuk menyelenggarakan pertemuan lintas organisasi perangkat daerah untuk memasukkan rancangan pembuatan perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Asisten Daerah (Asda) III Bidang Administrasi Umum dan Kesra, Sekretariat daerah (Setda) Lebak, Dedi Lukman Indepur menyatakan Pmerintah Kabupaten Lebak berkomitmen terhadap pengendalian konsumsi rokok.

“Peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sesuai dengan visi kabupaten Lebak untuk mewujudkan lebak kota sehat dan bersih” ujar Dedi.

Dedi juga mengucapkan apresiasi kepada Uhamka yang akan membantu menyusun naskah akademik dan draft rancangan peraturan dearah soal KTR.

Lina Budiarti, Kepala Bagian Hukum Pemda Lebak menyampaikan bahwa rancangan peraturan daearh soal kawasan tanpa rokok ini akan dimasukkan sebagai salah satu usulan Program Legislasi Daerah (Prolegda) Kabupaten Lebak untuk tahun 2020. Berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Lebak menyambut baik inisiatif untuk menyusun soal Perda KTR ini.

Editor: Darusalam Jagad Syahdana

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending