Connect with us

METROPOLITAN

Tujuh Tahun Lalu Banten Jadi Primadona, Kini Investor Ramai-ramai Hengkang dari Tanah Jawara

Published

on

Ribuan pencari kerja padati Job Fair Kota Tangerang. BPS merilis angka pengangguran di Banten tertinggi di Indonesia. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyebut 25 pabrik sepatu di Banten sejak Juni 2019 tutup sehingga memicu pengangguran. (Foto: Dok. BantenHits.com)

Tangerang – Tujuh tahun lalu, Banten jadi primadona investasi asing dan dalam negeri. Namun, kini perlahan pamornya mulai pudar, setidaknya untuk industri padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja.

Dilansir CNBCIndonesia, sektor industri alas kaki atau sepatu memilih angkat kaki dari Banten karena persoalan upah yang tinggi. Padahal sektor ini satu pabrik bisa menyerap puluhan ribu tenaga kerja.

Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menjadi primadona baru investasi di Indonesia dari investor baru dari luar maupun relokasi dari provinsi lain.

Upah yang masih murah menjadi daya tarik investor menanamkan modal di Jateng terutama di sektor padat karya. UMP di Jateng pada 2020 saja masih Rp 1,7 juta, kurang dari separuh dari UMK-UMK di Banten dan Jabar.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam akun media sosialnya, sempat memamerkan kegiatan pemda se-Jateng bertemu dengan calon investor dari China, Jepang, Korea dan lainnya dalam forum Central Java Investment Business Forum (CJIBF).

“Menghasilkan rencana nilai investasi hingga Rp 49,9 triliun dan US$430 juta,” kata Ganjar dikutip CNBC Indonesia, Senin, 11 November 2019.

25 Pabrik Sepatu Hengkang

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri mengatakan sampai Juni 2019, sudah ada 25 pabrik alas kaki termasuk dari Tangerang, Banten hijrah ke Jateng. Alasannya utamanya upah minimum yang masih rendah di Jateng, sedangkan upah di Banten khususnya Tangerang makin tinggi termasuk upah minimum sektoral alas kaki.

Saat ini, akan ada tambahan baru lagi yang relokasi, menurutnya ada dua kemungkinan, ada investor Taiwan masuk Jateng, yang saat ini existing investor Taiwan dari Banten relokasi ke Jateng. Kemungkinan kedua, adalah investor dari Taiwan yang sama sekali belum pernah investasi di Indonesia sekarang mau investasi ke Jateng.

Firman mengatakan konsekuensi dari relokasi pabrik dari Tangerang ke Banten adalah soal tenaga kerja.

“Kalau relokasi itu tidak mungkin karyawannya ikut diboyong,” katanya.

Ia mengilustrasikan satu pabrik alas kaki saja bisa mempekerjakan puluhan tenaga kerja. Bahkan ada pabrik alas kaki yang mencapai 50 ribu tenaga kerja.

Upah di Banten memang terbilang tinggi, UMK di Tangerang saja pada 2019 mencapai Rp 3,8 juta. Sedang upah minimum sektoral bisa mencapai Rp 4 juta untuk sektor alas kaki misalnya, sektor lain ada yang sampai Rp 4,4 juta.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah mengamini industri ramai-ramai pindah dari Banten ke Jawa Tengah.

Ida menilai, tutupnya banyak pabrik di Banten memang karena adanya kesenjangan upah. Pemilik pabrik lebih memilih wilayah provinsi dengan upah rendah ketimbang Banten yang tergolong masih tinggi.

“Memang masih ada kesenjangan upah kan. Banyak itu karena mereka kemudian mengalihkan ke Jawa Tengah,” jelas Ida ketika ditemui di komplek Istana Kepresidenan, Selasa, 12 November 2019.

Kartu Prakerja

Industri-industri padat karya khususnya 25 pabrik sepatu di Banten memilih relokasi ke Jawa Tengah, praktis memicu bertambahnya jumlah pengangguran di Banten. Ida berpendapat, Kartu Prakerja yang digulirkan Jokowi-Ma’ruf bisa mengantisipasi hal itu.

“Makanya mengantisipasi itu di antaranya adalah kartu prakerja,” ucapnya.

Dia menjelaskan, kartu prakerja tidak hanya ditujukan bagi para pencari kerja. Tetapi juga mereka yang berpengalaman kerja dan membutuhkan upskilling atau reskilling.

“Atau para pekerja yang kemungkinan terjadi PHK. Jadi mereka kemudian mendapatkan pelatihan,” urainya.

Berdasarkan BPS pada Agustus 2019, tingkat pengangguran terbanyak berada di provinsi Banten sebesar 8,11% dan kedua adalah Jawa Barat 7,99%.

Sumber: CNBC Indonesia

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

 

Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Trending