Connect with us

PERSONA

Kisah Sukses Petani Rumput Laut di Pesisir Carita, Berhasil Bangkit dari Bayang-bayang Tsunami

Published

on

Azis, petani rumput laut di Pesisir Carita, Kabupaten Pandeglang, yang berhasil bangkit dari bayang-bayang Tsunami Selat Sunda.(BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Pagi-pagi sekali, Azis (65) sudah keluar dari rumahnya di Kampung Cibenda, Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Dengan mengayuh sepeda tuanya, Azis bergegas menuju ke pesisir pantai untuk mencari rumput laut.

Rutinitas itu, sudah menjadi kebiasaan lelaki tua asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, setiap harinya. Azis sudah lama memanfaatkan rumput laut di wilayah pesisir Carita sebagai penopang ekonomi keluarganya.

Sejak 1980, Azis menginjakkan kakinya di Kecamatan Carita. Sejak saat itu, dia menggeluti profesi sebagai nelayan. Namun, karena kurang menguntungkan, juga usia sudah menua, Azis pun beralih profesi menjadi petani rumpur laut.

BACA :  Berbagi Ilmu di Taman Bacaan Surga

Rumput laut yang diambil Azis, tumbuh subur di karang dan bebatuan yang ada di pesisir Pantai Carita. Dia mengaku tidak melakukan budidaya, karena tidak memiliki modal. Sementara jika mengambil rumput yang liar, tak butuh modal besar, hanya perlu tenaga yang cukup, lelaki lima anak itu mampu mengumpulkan rumput laut sekitar 5-8 karung per hari.

“Sudah puluhan tahun mengambil rumput laut disini. Dulunya saya nelayan,” kata Azis kepada BantenHits.com, Rabu 25 Desember 2019.

Satu per satu karung berwarna putih yang dibawa Azis, dipenuhi rumput laut. Karung berisi rumput laut itu kemudian dibawa Azis ke lahan kosong milik orang untuk memulai proses pengeringan.

Rumput laut menjadi komoditi andalan nelayan di Pesisir Carita setelah ekonomi mereka hancur akibat tsunami Selat Sunda. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Di atas terpal berwarna biru, Azis mengeringkan rumput laut dengan hanya mengandalkan panasnya matahari. Dalam satu hari rumput laut yang diambil Azis, sudah kering dan siap dijual.

BACA :  Tajudin, Warga Pinggiran Baduy yang Sukses Duduk di Parlemen

“Biasanya ada yang ngambil ke sini, 10 hari sekali. Harga per kilogramnya Rp1.400, satu karung kering paling dapat 8-10 kilogram,” jelasnya.

Jika kondisi tubuhnya sedang stabil, dan cuaca sedang baik, Azis mampu mengumpulkan 1-2 ton rumput laut dalam 10 hari. Jika dikalikan, keuntungan yang didapat Azis dari hasil jerih payahnya tersebut, mencapai Rp2.800.000 dalam 10 hari.

Selain Azis, di lahan itu terlihat beberapa orang yang juga sibuk mengeringkan rumput laut. Menurut Azis, ada sekitar 50 petani rumput laut yang tersebar di Kecamatan Carita.

“Kesulitannya cuma satu doang, kalau cuaca buruk. Apalagi kalau musim barat, ngambil rumput lautnya nyolong-nyolong, ombak rada mending, cepat-cepat ngambil,” ujarnya.

BACA :  Sukasuki88 Sodorkan Pengalaman Makan Menarik Ala Street Suki di Jepang

Ekomomi Sempat Lumpuh karena Tsunami

Pasca Tsunami Selat Sunda yang menerjang wilayah Kecamatan Carita, pada 22 Desember 2018, Azis sempat berhenti beberapa bulan mengambil rumput laut, karena harus bertahan di pengungsian, meski rumahnya tidak terkena dampak.

Dengan kondisi seperti itu, Azis kerap berutang ke sana-sini untuk menutupi kebutuhan selama tsunami. Pada bulan Februari 2019, Azis memutuskan untuk turun lagi ke laut, padahal proses recovery pasca tsunami belum usai.

Azis mengaku terpaksa turun lagi ke laut karena terbentur ekomomi, sehingga dia harus memberanikan diri untuk mencari rumput laut.

“Mau gimana lagi, pasca-tsunami saya sampai minjem beras ke Pondok Pesantren. Akhirnya, turun lagi ke laut, butuh biaya makan anak dan istri,” kenangnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana




Photos

  • Videos


  • Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    1 of 3
    Video Redaksi
    2 of 3
    Video Redaksi
    3 of 3
  • Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

    Terpopuler