Connect with us

METROPOLITAN

Diskusi Tokoh Muslimah Tangerang; Radikalisme Diembuskan untuk Tutupi Gagalnya Hadirkan Keadilan

Published

on

Sedikitnya 60 tokoh muslimah Tangerang hadir dalam diskusi membahas kondisi sosial kekinian masyarakat Indonesia, Sabtu, 4 Januari 2020.(Foto: Istimewa)

Tangerang – Kondisi sosial masyarakat Indonesia tak kunjung membaik hingga kurun 2019. Hal itu bisa dilihat dari kemiskinan, ketimpangan hukum, pengangguran, hingga utang luar negeri.

Alih-alih fokus menyelesaikan masalah-masalah tersebut, energi bangsa ini seolah habis terkuras untuk merespons isu radikalisme yang ditengarai sengaja diembuskan untuk menutupi kegagalan menghadirkan keadilan di negeri ini.

Demikian terangkum dalam diskusi tokoh muslimah Tangerang di sebuah rumah makan di Tangerang, Sabtu, 4 Januari 2020. Hadir sedikitnya 60 tokoh muslimah dalam acara tersebut.

Dalam keterangan tertulis yang diterima BantenHits.com, diskusi tokoh muslimah menghadirkan dua narasumber, yakni Agnes Harlina dan Wiwing Noeraini.

BACA :  Empat Pelaku Judi Togel, Ditangkap Satreskrim Polres Cilegon

“Sungguh disayangkan permasalahan umat tak kunjung usai bahkan semakin memburuk. Kemiskinan, ketidakadilan, pengangguran, penghinaan terhadap agama, hutang, penjajahan perekonomian seolah menjadi borok yang sulit terobati,” kata moderator sebelum memulai diskusi.

Memasuki sesi diskusi, Agnes menyampaikan tentang kritik atas berbagai kebijakan kekinian dari pengelola negara. Menurutnya, saat ini tengah terjadi salah urus negara yang menyebabkan kerusakan sistemik. 

“Model negara korporatokrasi yaitu dimana negara juga berperan sebagai pengusaha. Sehingga hukum dipermainkan untuk mendapatkan keuntungan. Mengapa bisa muncul korporatokrasi? Karena negara kita menganut sistem kapitalis,” jelasnya.

Menurut Agnes, salah satu ciri kapitalisme adalah dengan ide kebebasan memiliki harta–termasuk kekayaan alam untuk kekayaan individu/swasta semata. Negara dalam sistem kapitalisme perannya amat minim, ekonomi diserahkan pada mekanisme pasar. Negara tidak berdaya. Layanan publik jadi mahal.

BACA :  Porkot Tangerang Digelar Setahun Sekali, Ini Penjelasan Dispora

“Bukan hanya rakyat secara umum yang jadi korban. Tapi secara khusus juga perempuan. Perempuan dieksploitasi demi keuntungan,” lanjutnya.

Sementara itu, Wiwing menambahkan, penguasa saat ini terlalu fokus membahas radikalisme di tengah-tengah banyaknya masalah di Indonesia.

“Ada masalah kemiskinan, ekonomi, korupsi. Mengapa membahas radikalisme terus-terusan? Yaitu supaya bisa menutupi kegagalan penguasa menciptakan keadilan,” jelasnya.

Propaganda radikalisme itu, lanjutnya, ibarat pisau bermata dua, yakni menghalangi ajaran Islam diterapkan dan membungkam para pejuang.

Wiwin menambahkan, dalam politik ekonomi Islam fokusnya adalah agar barang dan jasa bisa distribusi ke seluruh rakyat. Kebutuhan seperti pangan, papan, sandang pendidikan kesehatan wajib diberikan kepada seluruh rakyat secara gratis. 

BACA :  Ini Identitas Keempat Orang yang Tenggelam di Pantai Tanjung Cilegon

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler