Connect with us

METROPOLITAN

Kisah Reva Aulia, Balita yang Meninggal Terjangkit DBD di Huntara Korban Tsunami Selat Sunda

Published

on

Kedua orang tua Reva Aulia (4) saat menunjukan foto anaknya semasa hidup. (Istimewa).

Pandeglang – Reva Aulia (4) menghembuskan napas terakhir di halaman parkir RSUD Bekrah Pandeglang pada Sabtu 11 Januari 2020.

Anak dari pasangan suami istri, Eman Rusmana (38) dan Ene (33) itu meninggal setelah menjalani masa kritis, karena terkena Demam Berdarah Deungeu (DBD).

Baca Juga: Kasus DBD di Sumur Pandeglang Bertambah, 56 Warga Terjangkit 1 Meninggal

Reva adalah salah satu dari 56 warga di Kecamatan Sumur, Pandeglang yang terkena DBD. Dia meninggal setelah mendapat perawatan dari RSUD Berkah Pandeglang.

Keluarga korban tsunami yang tinggal di Hunian Sementara atau Huntara di Kampung Pasir Malang, Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumur itu tidak bisa berbuat banyak setelah mengetahui anaknya terkena DBD.

BACA :  Begini Sosok Kakek Beristri Tiga di Pandeglang yang Cabuli Anak Kandung

Bahkan saat di minta dokter rumah sakit agar Reva di rujuk ke RS Krakatau Steel (KS), keluarga malah meminta agar Reva di rawat di RSUD Berkah saja.

Eman mengaku sudah tidak memiliki biaya untuk merujuk Reva ke RS KS. Mengingat, BPJS yang dia miliki raib bersama rumahnya saat diterjang tsunami selat sunda tahun lalu.

“Saat dokter meminta agar si Dede (Reva) di rujuk ke KS. Kami minta di rawat disana saja dengan semaksimalnya, karena saya sudah tidak memiliki biaya,” kata Eman, Kamis, 16 Desember 2020.

Kemudian dokter menyarankan agar Eman mengurus Surat Keterangan Miskin (SKM) ke Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pandeglang untuk meringankan beban pengobatan Reva.

BACA :  Kelurahan Pabuaran Tangerang Minta THR ke Pengusaha

Namun, waktu itu Eman ingin melihat kondisi anaknya membaik terlebih dahulu, mengingat dalam mengurus SKM harus menghadapi regulasi yang panjang, dari mulai rekomendasi Kepala Desa, Camat baru ke Dinsos.

Sementara kondisi keluarga waktu itu sangat panik, melihat kondisi Reva yang terus memburuk.

“Dokter ngasih solusi pakai SKM, tapi SKM itu harus ngurus dulu, kalau anak saya sudah mendingan baru saya mau ngurus,” jelasnya.

Dalam kondisi panik, terbesir pirasat tidak enak menyelimuti Eman, kemudian Eman berunding bersama keluarga untuk membawa pulang Reva. Setelah izin kepada dokter ingin membawa pulang anaknya, akhirnya mereka pulang, dengan keadaan Reva yang masih kritsis.

“Kami izin ke dokter mau di bawa pulang saja, dokter juga nanya kenapa di bawa pulang? saya bilang, yaudahlah dok, biaya saya sudah menipis. Dokter nanya lagi, udah berunding dengan keluarga? Saya bilang sudah. Kemudian dokter tanya lagu, mau di antar pakai ambulans atau gimana, saya bilang enggak usah, karena ada saudara yang jemput pakai mobil,” ujarnya.

BACA :  Pemuda Diminta Tak Mudah Terprovokasi Opini Menyesatkan

Setelah hendak keluar dari RSUD, dan membayar parkir sekitar pukul 17:50 WIB, perjuangan bocah itu melewati masa kritis sia-sia, nyawanya sudah tidak terolong lagi.

“Setelah di izinin dokter, anak saya bawa pulang, ketika keluar dari parkiran, anak saya meninggal dunia,” tandasnya.

Editor: Fariz Abdullah



Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Terpopuler