Connect with us

METROPOLITAN

Empat Saksi Ahli dan Delapan Gurandil Diperiksa, Polisi Buru Pemilik Tambang Emas Ilegal di Lebak

Published

on

Satgas PETI saat mengamankan sejumlah gelundungan pengolahan emas di Kecamatan Lebakgedong dan Cipanas. (Istimewa).

Serang- Sedikitnya 12 saksi telah diperiksa Satuan Tugas (Satgas) Penambangan Tanpa Izin (PETI) atau penambang emas ilegal di Kabupaten Lebak. Delapan diantaranya merupakan gurandil sedangkap empat diantaranya saksi ahli baik dari pengawas ataupun pekerja.

Pemeriksaan dilakukan menyusul Polda Banten kembali melakukan penutupan terhadap empat tambang emas ilegal di Kecamatan Lebakgedong dan Kecamatan Cipanas.

Keempatnya masing-masing dua lokasi di Kampung Cikomara, Desa Banjar Irigasi, Kecamata Lebakgedong, Kampung Hamberang, Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas dan Kampung Tajur, Desa Mekarsari, Kecamatan Cipanas.

Baca Juga: Polda Banten dan Polres Lebak Segel Dua Tambang Emas Kosong di Gunung Julang

BACA :  Perpustakaan Saidjah Adinda Pasang Target, 19 Ribu Pengunjung Tahun Ini

Dalam siaran pers yang diterima BantenHits.comKapolda Banten Irjen Pol Agung Sabar Santoso mengungkapkan penutupan tambang emas ilegal dan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dilakukan berdasarkan laporan bahwa salah satu faktor penyebab banjir bandang di Lebak akibat adanya PETI.

“Investagasi yang kita lakukan, berdasarkan keterangan yang kita peroleh, bahwa penyebab terjadinya banjir bandang dan longsor di Kabupaten Lebak, akibat curah hujan yg sangat tinggi, tanahnya labil, adanya garapan sawah di TNGHS dan salah satunya adalah aktivitas PETI,”kata Sabar.

Ia mengungkapkan Satgas PETI telah berhasil mengamankan beberapa barang bukti alat pengolahan emas atau gelundung, mercury hingga batu yang akan diolah menjadi emas. Beberapa saksipun turut diperiksa.

BACA :  Balita di Pandeglang dengan Benjolan Wajah Mulai Jalani Pemeriksaan

“Sudah ada 8 orang saksi dari 4 lokasi tersebut yang kita mintai keterangan. Para pekerja dan pengawas juga sudah kita lakukan pemeriksaan, pekerja bagian glundung dengan upah Rp 100 ribu per hari, pemecah urat emas dari batu menjadi serbuk dengan upah perkarung Rp. 25 ribu per karung, sedangkang untuk saksi ahli ada 4 orang yang telah memberikan penjelasan,” ungkapnya.

Sabar menegaskan saat ini polisi masih melakukan penyelidikan dan pengembangan. Apalagi dari ke 4 lokasi pengolahan pada saat dilakukan pengecekan sedang tidak beroperasi atau tidak ada kegiatan pengolahan emas.

“Para pemilik juga belum kita periksa, karena saat dilakukan penyisiran dan tindakan di lokasi, mereka sedang tidak di rumah, Namun akan terus kita lakukan interogasi dan pemeriksaan, untuk mengetahui peran dan tanggung jawab nya,” tandasnya.

BACA :  Balita Anak Tiri Ojek Online di Jatiuwung Tewas Diduga Dianiaya Ibu Kandungnya

Editor: Fariz Abdullah



Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Terpopuler