Connect with us

BERITA KANDIDAT

Pak Prabowo, Dukunglah Masyarakat Cilegon yang Inginkan Perubahan!

Published

on

Cilegon – Poros perubahan di Kota Cilegon disinyalir akan dipecah pada Pilkada Kota Cilegon 2020. Terpecahnya kelompok perubahan di Kota Cilegon praktis akan membuat salah satu kelompok, terutama calon petahana diuntungkan.

Analisis tersebut disampaikan aktivis Tubagus Mufti Bangkit Sanjaya. Untuk memecah poros perubahan, Mufti menduga bakal ada pasangan calon boneka pada Pilkada Kota Cilegon 2020.

“Dugaan adanya bakal calon ‘boneka’ yang menjadi bagian dari setingan kepentingan kelompok politik kubu tertentu yang berkolaborasi dengan elit partai-partai di tingkat wilayah maupun pusat yang tentu saja melahirkan rekayasa, intervensi dan deal-deal tertentu yang mencederai proses seleksi dan lain sebagainya,” kata Mufti dalam keterangan tertulis kepada BantenHits.com.

“Indikasi calon-calon yang ada, jelas hanya berbagi peran saja dalam kontestasi dan bagian dari pusaran (politik) transaksional,” bebernya.

BACA :  10 Januari, Iti Octavia-Ade Sumardi Daftar ke KPU Lebak

Berharap Partai Gerindra

Lebih lanjut, Mufti mewanti-wanti agar Partai Gerindra yang diyakini bisa menjadi corong perubahan di Cilegon, tidak salah memberikan rekomendasi kepada pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Cilegon 2020-2025.

Sejauh ini, sosok yang digadang-gadang akan dicalonkan Partai Gerindra, yakni mantan Kasatintelkam Polres Cilegon, Awab yang sudah menjadi Ketua DPC Partai Gerindra Kota Cilegon, dinilai tidak memiliki modal elektoral yang mumpuni.

“Reputasi H. Awab sendiri di Kota Cilegon tidak begitu baik atau kalau boleh dikatakan ketokohannya tidak menonjol. Ia bahkan disandingkan dengan calon wakil wali kotanya yang dijagokan Partai Amanat Nasional H. Iye,” terangnya.

Mufti menyebut, masyarakat Kota Cilegon yang menginginkan perubahan berharap Partai Gerindra mempertimbangkan kapabilitas dan integritas terhadap pasangan calon yang akan diusung.

BACA :  Kata Andika Hazrumy soal Partisipasi Pemilih Pilkada Tak Capai Target

Jika partai besar seperti Gerindra mengabaikan harapan masyarakat, lanjutnya, dipastikan hal itu akan memuluskan oligarki di Kota Cilegon.

“Terkadang ada yang tidak sadar dan tidak juga berhitung akan kalkulasi potensi diri dan peluangnya, tapi lebih mengedepankan ambisi dalam pencalonan. Padahal kenyataannya cuma dimanfaatkan oleh kelompok lain untuk memecah gelombang kuat kelompok suara perubahan. Sehingga merugikan kelompok dan masyarakat pro perubahan. Sebab hasil survey terakhir memastikan bahwa 70% masyarakat Cilegon ingin perubahan,” tegasnya.

Mufti menambahkan, meski secara politik setiap calon sah melakukan manuver-manuver apapun, namun semestinya elit tidak mencederai moral dan kemanusiaan dalam berpolitik.

“Mereka melakukan bentuk pengkhianatan terhadap rakyat. Juga mereka yang terlibat dalam pusaran tersebut sejatinya telah membodohi juga membohongi warga Cilegon. Karena ketika ia lolos dan maju sebagai cawalkot, ternyata perannya hanya sebagai pemecah suara calon lainnya,” bebernya.

BACA :  Kabupaten Tertinggal Ini Terpaksa Pangkas Biaya Pembangunan Gara-gara Pilkada

“Semoga di tingkat pengambil keputusan pemberi tiket calon kepala daerah di ranah elit partai politik pusat setidaknya memfilter kembali usulan nama nama bacalon yang disodorkan olet elit di tingkat wilayah agar lebih memprioritaskan nama nama yang benar benar berorientasi kepada keinginan perubahan masyarakat Cilegon,” tandasnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana




Photos

  • Videos


  • Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    1 of 3
    Video Redaksi
    2 of 3
    Video Redaksi
    3 of 3
  • Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

    Terpopuler