Connect with us

METROPOLITAN

15 Tahun Penjara Dirasa Belum Efektif, P2TP2A Banten Dorong Hukuman Bagi ‘Predator’ Anak Ditambah

Published

on

Ketua P2TP2A Banten Ade Rosi Khaerunisa saat memberikan keterangan pers mengani pemberatan hukuman bagi predator anak. (BantenHits.com/Engkos Kosasih).

Pandeglang – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak  (P2TP2A) Provinsi Banten akan mendorong masa hukuman bagi pelaku pencabulan atau pelecehan terhadap anak, lebih berat lagi.

Karena masa hukuman maksimal 15 tahun yang tercantum dalam Undang-Undang Perlindungan Anak belum efektif menimbulkan efek jera bagi predator anak.

Ketua P2TP2A Provinsi Banten, Ade Rosi Khaerunisa mengakui sejauh ini belum ada pembahasan revisi Undang-Undang tersebut di DPR RI. Akan tetapi, dengan posisinya sebagai legislator di Komisi III DPR RI, wanita yang akrab disapa Aci ini akan mengusulkan perubahan regulasi tersebut ke Badan Legislasi parlemen di Senayan.

BACA :  Dua Tahun Kasus Penyidik Senior KPK Tak Kunjung Terungkap, Mahasiswa: Ada Apa dengan Polri?

“Sampai saat ini dalam Prolegnas 2020 belum ada revisi UU Perlindungan Anak. Tetapi apabila masukan dari masyarakat membutuhkan hukuman yang lebih maksimal lagi sehingga bisa menimbulkan efek jera bagi pelaku, tentu kami akan coba usulkan kepada Badan Legislasi di DPR agar merevisi UU Perlindungan Anak. Mungkin ditahun 2021,” ujarnya usai bertemu dengan awak media disalah satu kafe di Pandeglang, Jumat, 14 Februari 2020.

Wacana itu muncul seiring dengan mencuatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak di Pandeglang yang meningkat dalam satu bulan terakhir. Baginya, hal tersebut menjadi sebuah keprihatinan tersendiri.

“Informasi masih tingginya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, saya menyayangkan dan miris,” katanya.

BACA :  'Polisi Tidur' di Jalan Multatuli Diprotes, ITW: Langgar UU Lalu Lintas

Aci menegaskan pihaknya akan memaksimalkan pemahaman masyarakat tentang perlindungan anak dan perempuan. Mengingat kasus tersebut bak fenomena gunung es dimana persoalan yang muncul hanya bagian kecil dari masalah besar yang terjadi di bawah.

“Sosialisasi harus terus dilaksanakan, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi semua stekholder, masyarakat, pemuka agama, agar UU Perlindungan Perempuan dan Anak bisa terus disampaikan ke masyarakat,” jelasnya.

Aci menekankan kepada seluruh elemen masyarakat, untuk aktif mengawasi predator anak. Lebih dari itu, para orang tua juga diingatkan untuk selalu menjaga dan mengawasi buah hatinya agar terhindar dari perilaku predator anak.

“Kami ingatkan kepada orang tua untuk menjaga dan mengawasi, memberi kasih sayang kepada anak agar mereka tidak mencari perhatian di luar keluarga masing-masing,” tandasnya.

BACA :  Tinggal Sebatang Kara, Kakek Sarpin Tewas Terbakar

Editor: Fariz Abdullah

  • Ketua P2TP2A Banten Ade Rosi Khaerunisa saat memberikan keterangan pers mengani pemberatan hukuman bagi predator anak.

Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Terpopuler