Connect with us

Berita Terbaru

Pulau Panaitan; Sorganya Peselancar dan Penyelam yang Kaya Peninggalan Sejarah

Published

on

Seorang peselancar tengah berselancar di atas ombak Panaitan Pulau Panaitan yang dikenal memiliki daya tarik istimewa. (Dok.Pribadi/Heryanto)

Bagi para peselancar, istilah one palm points, napalms, apocalypse, dan pussy, mungkin sudah tidak asing. Ya istilah-istilah tersebut adalah sebutan bagi ombak yang ada di Pantai Pulau Panaitan, Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang.

Bagi para peselancar, Pulau Panaitan adalah surga tersembunyi yang ada di Ujung Barat Pulau Jawa. Namun, ombak seperti itu hanya bisa ditemui pada waktu-waktu tertentu seperti pada April sampai November.

Biasanya, pada bulan-bulan itu, banyak wisatawan dari belahan dunia sengaja datang ke Pulau Panaitan untuk menikmati tarian ombak. Selain itu Pulau ini juga, memiliki spot diving atau menyelam karena di bawah laut Pantai Pulau ini tumbuh terumbu karang yang sangat mempesona.

BACA :  Rapat Bareng ASN Positif Covid-19 di Pemprov Banten Selama 3 Jam, Pejabat di Lebak Jalani Isolasi Mandiri  

Heryanto salah satu guide lokal surfing mengaku, akan membawa tamu dari negara Hawaii, tamu-tamu tersebut sengaja datang kesana untuk menikmati ombak. Hanya saja, Heryanto khawatir dampak dari Virus Corona membuat tamu tersebut batal berkunjung ke sana.

“Tapi mereka (wisatawan) sudah booking,” singkatnya.

Peninggalan Sejarah

Dilansir dari situs resmi Taman Nasional Ujung Kulon, pulau dengan luas 17.000 hektar ini memiliki nilai sejarah sejak peradaban Hindu kuno. Hal itu dibuktikan dengan adanya arca atau patung batu Ganesha di Puncak Gunung Raksa.

Gunung Raksa yang memiliki tinggi 360 Mdpl bisa diakses para wisatawan. Dulu selain Arca Ganesha di puncak gunung ini juga ditemukan Arca Siwa.

BACA :  Angka Pengangguran Banten Tertinggi di Indonesia, Wahidin Halim Izinkan Industri Beroperasi saat PSBB

Namun sayangnya Arca Siwa sudah tidak ditemukan lagi sekarang, Arca itu hilang di curi oleh orang, tetapi pada akhirnya bisa ditemukan kembali. Namun, sayangnya, Arca itu tidak dibawa lagi ke tempat asalnya, melainkan disimpan di Museum sri Baduga, Bandung. 

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Terpopuler