Connect with us

Berita Utama

Dihantui Bayangan Tsunami 2018, Kepanikan Warga Menjadi-jadi saat Gunung Anak Krakatau Meletus

Published

on

Rekaman letusan gunung anak krakatau milik petugas Pos Pantau GAK di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang. (Istimewa) 

Pandeglang – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali mengalami erupsi, Jumat, 10 April 2020, pukul 22.35 WIB. Hingga Sabtu dini hari, 11 April 2020,letusan disertai luapan lahar masih terus berlangsung.

Tinggi kolom letusan sekitar 500 meter dari puncak GAK yang tingginya 357 meter dari permukaan laut (DPL). Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 2.284 detik.

Terpantau dari rekaman CCTV milik
petugas Pos Pantau GAK di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah utara.

BACA :  Kunjungi Kedubes Tunisia, DPRD Banten Bahas Kerjasama Soal Investasi sampai Beasiswa

Warga Serang-Pandeglang Panik

Sejumlah warga di sekitar pesisir pantai, seperti Pasauran, Kabupaten Serang dan Sumur, Kabupaten Pandeglang mengalami kepanikan. Mereka khawatir kejadian seperti akhir tahun 2018 lalu kembali terulang.

“Laharnya terlihat jelas di pinggir pantai mah, makanya kami langsung menjauh dari pinggir pantai, karena khawatir terjadi tsunami,” Rusli Susanto warga di Kecamatan Sumur, Sabtu, 11 April 2020.

Menurut Rusli, sebagian warga terpaksa harus lari ke dataran yang lebih tinggi, dan sebagian warga lainnya masih ada yang berjaga di sekitar pesisir pantai untuk melihat kondisi air laut.

“Sebagian warga memang ada yang mulai mengungsi ke daratan yang lebih tinggi. Namun sebagian lagi ada yang berjaga-jaga di pantai,” jelasnya.

Erupsi Gunung Anak Krakatau

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Juni 2018. (Dok. Banten Hits)

Nelayan di Laut Minta Dijemput

BACA :  Dinas Kependudukan Tangerang Masih Bingung Soal Kartu Identitas Anak

Rusli menyebut, banyak juga nelayan yang merasa ketakutan melihat lahar GAK, sehingga para nelayan yang tengah melaut itu meminta untuk dijemput. Meski takut, Rusli mengaku sudah memulangkan para nelayan ke rumahnya masing-masing.

“Alhamdulillah kondisi saat ini meskipun was-was kami beserta warga sudah menjemput para nelayan dan semuanya sudah ada di rumah masing-masing, terus terang kami masih trauma dengan kejadian Tsunami Selat Sunda tahun lalu,” pungkasnya.

Warga Dilarang Mendekati GAK 

Kordinator Balawista Serang, Sahrudin mengaku masih melakukan pemantauan di Pos Pantau GAK Pasauran, Kabupaten Serang. Dia pun mengakui, bahwa warga di Pasauran merasa sangat panik.

Oleh karena itu, dia meminta agar warga tetap tenang dan waspada, serta menjauhi GAK lebih dari 2 Kilometer, karena saat ini, Gunung yang pernah membawa tsunami itu masih terus mengeluarkan lahar.

BACA :  Musawamah Bantah Palsukan Dokumen Koperasi Tirta Niaga Pantura

“Ya panik, tetapi sudah kami tenangkan. Insya allah dari hasil pantauan kami di Pos Pantau GAK Pasauran masih aman, jadi jangan panik,” jelasnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Terpopuler