Connect with us

Berita Utama

Harga Minyak Dunia Sedang Murah-murahnya Lalu Rakyat Juga Hadapi Cobaan Berat akibat Covid-19, Kenapa Harga BBM Tak Turun?

Published

on

Pekerja PT Elnusa Petrofin (EPN) anak usaha dari PT Elnusa Tbk tengah memasang selang pengisian ke tangki BBM. Para pekerja ini tetap harus bekerja untuk memenuhi ketersediaan BBM dan gas kepada masyarakat di tengah mewabahnya Corona. (Istimewa)

Tangerang – Fenomena langka terjadi dalam dunia perdagangan minyak mentah dunia, Senin atau Selasa pagi ini, 20 April 2020 waktu Indonesia bagian barat.

Karena kelebihan pasokan yang disebabkan hantaman virus corona, pertama kalinya dalam sejarah, harga minyak mentah berjangka AS anjlok di bawah nol dolar AS pada akhir perdagangan.

Dikutip BantenHits.com dari JPNN.com, para pedagang yang putus asa membayar untuk menyingkirkan minyak yang kontraknya akan berakhir Selasa ini.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei merosot 55,9 dolar AS atau lebih dari 305 persen, menjadi menetap di -37,63 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, setelah menyentuh titik terendah sepanjang masa -40,32 dolar AS per barel.

BACA :  Milad ke-15, SMK Negeri 2 Rangkasbitung Komitmen Kembangkan Potensi dan Kreativitas di Era Milenial

Harga minyak negatif menyiratkan bahwa produsen akan membayar pembeli untuk mengambil minyak dari tangan mereka.

Ini menandai pertama kalinya kontrak berjangka minyak diperdagangkan negatif dalam sejarah, menurut Dow Jones Market Data. Kontrak Mei berakhir pada Selasa.

Harga BBM Indonesia Bergantung Minyak Olahan

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, Mulyanto mendesak Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mencabut Keputusan Menteri No. 62K/MEM/2020 yang mengatur harga jual BBM berdasarkan harga minyak olahan (MOPS) di Singapura.

Kepmen yang dikeluarkan 20 Februari 2020 ini mengganti ketentuan sebelumnya yang menetapkan harga BBM berdasarkan harga minyak mentah (crude) dunia.

Menurut Mulyanto, Kepmen ESDM tersebut sangat aneh karena mengembalikan ketentuan lama yang banyak digugat. Perhitungan harga jual BBM berdasarkan harga minyak olahan diduga banyak kalangan sarat kepentingan pihak perantara. Sehingga harga jual minyak jadi tinggi.

BACA :  Bayi Mungil Ini Ditemukan di Semak-semak Kebun, Tubuhnya Dikerubuti Semut

“Karena ditentang oleh berbagai kalangan maka kebijakan tersebut diganti dengan menghitung harga jual BBM berdasarkan harga minyak mentah dunia. Bukan harga minyak olahan,” kata Mulyanto melalui keterangan tertulis, Selasa, 21 April 2020.

Mulyanto menilai, perhitungan menggunakan harga minyak mentah dunia itu lebih transparan. Setiap orang dapat memantau perubahan harga minyak dunia secara langsung

“Sementara untuk harga minyak olahan tidak terbuka. Dalam harga minyak olahan terdapat komponen biaya lain yang tidak terbuka. Di sinilah para perantara atau calo mengambil untung,” ujarnya.

Wakil Ketua Fraksi PKS ini mendesak Menteri ESDM mengembalikan ketentuan perhitungan harga BBM berdasar harga minyak mentah dunia. Selanjutnya Menteri ESDM langsung menetapkan harga BBM yang sudah disesuaikan. Sehingga rakyat mendapat hak yang semestinya. 

BACA :  Pemkot Tangerang Siapkan Perda Soal Kantong Plastik Berbayar

Mulyanto minta Menteri ESDM berpihak pada kepentingan rakyat. Bukan pada kepentingan pebisnis yang ingin untung di saat harga minyak dunia anjlok hingga USD 11/barel.

Mulyanto mengingatkan bahwa penyediaan BBM dengan harga layak bagi rakyat merupakan amanah konstitusi. Jika terdapat harga yang lebih murah harusnya rakyat yang lebih dulu menikmati. Sebab tugas Pemerintah adalah melayani rakyat banyak bukan segelintir investor.

“Saya khawatir jika Pemerintah bertahan dengan kebijakan sekarang akan menimbulkan ketidakpuasan rakyat. Pemerintah dianggap mengabaikan hak rakyat dan berpihak pada kelompok pemodal. Jika demikian wajar jika rakyat menganggap Pemerintah dikuasai para mafia,” tegas Mulyanto.

Mumpung masih ada kesempatan, kata Mulyanto, sebaiknya Pemerintah mau mendengar aspirasi rakyat. Saat ini rakyat butuh pertolongan dengan berbagai kebijakan yang meringankan.

Rakyat sedang menghadapi cobaan yang berat akibat pandemi Covid 19. Sudah seharusnya Pemerintah meringankan beban tersebut, salah satunya dengan menurunkan harga BBM. 

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler