Connect with us

Berita Utama

1.000 Armadanya Beroperasi di Banten, Jabar dan DKI; CEO Bus Ini Pilih Selamatkan Kru Meski Rugi Rp 45 M Per Bulan selama Pandemi Covid-19

Published

on

Bus Primajasa jurusan Tanjung Priok – Rangkasbitung saat berada di Terminal Mandala, Rangkasbitung, Mei 2020 lalu. Primajasa harus merugi Rp 45 M per bulan sejak relaksasi operasional transportasi massal akibat Covid-19. (Dok.BantenHits.com)

Tangerang – Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB selama pandemi Covid-19, mengguncang dunia usaha.

Bidang transportasi, khususnya usaha angkutan penumpang, menjadi salah satu usaha yang paling terdampak.

Sejak ditetapkannya virus corona sebagai bencana nonalam, angkutan bus mulai tidak dioperasionalkan untuk mengurangi risiko penularan.

Perusahaan Otobus Primajasa yang mengoperasikan kurang lebih 1.000 armadanya di Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, turut merasakan guncangan akibat pandemi Covid-19.

Dikutip BantenHits.com dari Pikiranrakyat-Bekasi.com, CEO Primajasa, H. Amir Mahpud mengatakan, selama pemberlakuan relaksasi operasional transportasi massal dari pemerintah, pihaknya tidak akan mengoperasionalkan bus karena lebih mengutamakan keselamatan masyarakat dan kru.

BACA :  Siap Nyalon DPR RI, Thoni Fathoni Mukson Tunggu Restu Ketua Umum

Keputusannya tersebut jelas sangat berdampak karena perusahaannya harus merugi hingga Rp 45 miliar per bulan.

“Sejak ada pelonggaran pun tidak mau memaksakan beroperasi. Yang perlu diselamatkan itu SDM, kru, dan masyarakat pemakai jasa angkutan,” tutur Amir, Rabu, 3 Juni 2020.

“Meski harus kehilangan pendapatan yang besar, kami yakin Allah dalam hal ini sedang menginstal ulang kehidupan kita. Mana yang bisa bertahan dalam masa sulit ini,” Sambungnya.

Meski begitu, Amir mengatakan, selama Covid-19, hak karyawan tetap dipenuhi. Tidak ada satupun karyawan yang kena PHK, apalagi sampai pengurangan THR atau gaji dipotong. Ada sebanyak 5.000 karyawan yang bekerja di Primajasa.

Saat disinggung kapan akan beroperasi, Amir menyatakan lebih memilih untuk melihat grafik Covid-19 turun ketimbang risiko kesehatan masyarakat.

BACA :  Tinggal di Rumah Mewah, Terduga Teroris Tangsel Dikenal sebagai Pengusaha Furniture

Karena sampai saat ini secara nasional grafik masih terus meningkat dan belum menuju penurunan signifikan.

“Prediksi saya bisa Desember tahun ini grafik covid baru turun. Namun ekonomi akan kembali normal sampai benar normal seperti sebelumnya itu di 2024,” katanya.

Ia mengatakan dampak Covid-19 juga tak hanya memukul sektor transportasi angkutan penumpang, namun juga properti dan wisata.

“Saya yakin pengusaha yang bisa bertahan itu, benar-benar juara bertahan menghadapi Covid-19 di kehidupan normal, benar-benar normal nanti,” ujarnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler