Connect with us

Berita Utama

Politisi asal Banten di Senayan Sebut Pernyataan Menteri yang Bilang Pembahasan RUU HIP Ditunda Hanya untuk ‘PHP’ Rakyat

Published

on

Politisi asal Banten yang menjabat Wakil Komisi VII DPR-RI dari Fraksi Partai Keadilan (FPKS), Mulyanto meminta Presiden Indonesia Joko Widodo menerbitkan surat presiden atau Surpres terkait RUU HIP. (Foto: Dok. Tim Media Mulyanto)

Jakarta – Politisi asal Banten di Senayan, Mulyanto meminta Presiden Indonesia Joko Widodo menerbitkan Surat Presiden (Surpres) terkait Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila atau RUU HIP. Surpres ini penting segera diterbitkan untuk mengakhiri simpang-siur sikap pemerintah terhadap RUU HIP.

Mulyanto yang menjabat Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI menyebut, untuk menerbitkan Surpres tersebut Presiden tidak harus menunggu jatuh tempo tanggal 20 Juli 2020, mengingat aspirasi penolakan masyarakat sudah sangat meluas.

BACA :  Kabar Baik! ASN Pandeglang Dipastikan Dapat THR di Tengah Pandemi Corona, Kecuali ...  

“Kini bola RUU HIP ini ada di istana bukan di Senayan lagi,” tukas pria yang juga anggota Baleg DPR RI ini melalui keterangan tertulis kepada BantenHits.com.

Mulyanto menjelaskan, sesuai UU No.12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, maka paling lama 60 hari sejak itu, Presiden sudah harus membuat Surat Presiden (Surpres) tentang penunjukan Menteri yang mewakilinya dalam pembahasan RUU HIP serta DIM (daftar inventarisasi masalah), yang diperkirakan jatuh pada tanggal 20 Juli 2020.

Tapi sampai hari ini, kata Mulyanto, Presiden belum mengirimkan Supres tersebut ke DPR. Bahkan saat bertemu dengan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/7) Presiden Jokowi menegaskan pemerintah masih mengkaji RUU HIP tersebut.

BACA :  Si Melon Sempat "Hilang" di Pandeglang, Pertamina Langsung Salurkan Ratusan Ribu Tabung dan Minta Agen Menjaga Harga

“Jadi tidak benar kalau ada Menteri yang bilang Pemerintah menunda apalagi menolak RUU HIP ini. Itu hanya statemen PHP, lips servis, yang tidak berdasar. Nyatanya, Presiden mengakui sendiri belum mengambil sikap apa-apa,” jelas Mulyanto.

Menurut Mulyanto, semestinya pemerintah bersikap lugas dan aspiratif, tidak harus menunggu jatuh tempo terhadap RUU HIP yang sudah sangat luas mendapat penolakan publik ini mulai dari MUI dan ormas-ormas Islam besar, para tokoh agamawan, para tokoh purnawirawan TNI-Polri, para cerdik-cendekia, akademisi pengajar Pancasila, para Guru Besar yang tergabung dalam Forum Rektor Indonesia, ormas-ormas kepemudaan, keagamaan maupun kebangsaan, para tokoh dan ulama di berbagai daerah.

Mulyanto mengajak dalam kondisi pandemi Covid-19, Pemerintah dan masyarakat untuk fokus berkonsentrasi pada upaya penanggulangan musibah ini.

BACA :  PLTU Labuan Bantah Ingkar Janji soal Pemulihan Ekosistem Laut

“Jangan ganggu fokus penanggulangan covid-19 ini dengan hal-hal yang tidak penting dan mendesak. Apalagi kalau sampai memaksa masyarakat demo turun ke jalan secara bergerombol untuk menyampaikan aspirasi lagi,” tegasnya.

“Ini akan makin mempersulit upaya penanggulangan pandemi yang tengah kita hadapi,” sambungnya.

Aspirasi penolakan masyarakat terhadap RUU HIP ini, lanjut Mulyanto, sudah disampaikan secara luas dan mendalam. Tinggal kemauan Pemerintah untuk bersikap tegas dan formil. Tidak plin-plan atau mengulur waktu.

“Kita harus sama-sama menjaga, agar pandemi Covid yang diiringi dengan pandemi ekonomi ini, tidak meningkat menjadi pandemi politik. Pandemi multidimensi seperti ini harus kita cegah,” pungkasnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler