Connect with us

Berita Terbaru

Ada 6.196 Balita dan Anak di Pandeglang Menderita Stunting, Bupati Ngaku Sulit Menangani karena Anggaran Minim

Published

on

Bupati Pandeglang Irna Narulita saat membuka acara rembug stunting di salah satu hotel yang ada di Pandeglang. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pandeglang, saat ini ada 6.196 balita dan anak di Pandeglang menderita stunting. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Pandeglang – Kasus stunting atau gagal tumbuh pada anak di Kabupaten Pandeglang masih sangat tinggi. Saat ini, masih ada 6.196 balita dan anak menderita stunting.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Pandeglang mencatat sejak tahun 2018 terdapat 8.715 anak menderita stunting, pada tahun 2019 menurun menjadi 5.613, sedangkan tahun 2020 angka stunting menjadi 6.196. Angka itu tersebar di 35 Kecamatan yang ada di Pandeglang.

Namun saat ini, Pemerintah Kabupaten Pandeglang memfokuskan penanganan stunting di 6 kecamatan, yakni Kecamatan
Kecamatan Banjar, Koroncong, Kaduhejo, Sindangresmi, Saketi dan Cipeucang.

BACA :  Rumah Petani di Malingping Ludes Terbakar

“Harapan kami tahun ini gerak lagi, meskipun ada keterbatasan di tengah pandemi Covid-19. Tapi jangan sampai nanti ada musibah baru lagi dengan bertambahnya anak-anak gizi buruk atau stunting,” kata Bupati Pandeglang, Irna Narulita, Senin, 27 Juli 2020.

Menurut Irna penanganan stunting di tengah Covid-19 memang sangat sulit. Lantaran anggaran minim, ditambah Pemkab Pandeglang memiliki keterbatasan dalam anggaran.

“Tapi saya sampaikan swasta masuk (Bantu Penanganan Stunting) Kementerian Agama undang, supaya pas nanti mereka menikahkan pasangan calon yang sehat dengan membawa bukti sehat dari Puskesmas,” tutupnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Pandeglang, Raden Dewi Setiani menyebut, pengentasan stunting yang sebelumnya direncanakan terselesaikan tahun 2022 justru tidak bakal bisa tercapai.

BACA :  Polres Cilegon Lepas PNS Mantan Ajudan Wali Kota yang Diduga Nyabu

Sebab saat ini dia menilai, perekonomian negara dalam penurunan lantaran bencana Covid-19. Hal itu berdampak terhadap asupan makanan bergizi yang diterima masyarakat.

“Kalau bebas stunting tidak optims karena masyarakat sedang ada bencana Covid-19. Dan kemiskinan akhirnya jadi bertambah dan daya beli bagi masyarakat untuk makanan bergizi juga sangat tidak bisa dipastikan. Kalau pun target itu sebetulnya perencanaan di luar pada saat sebelum terjadinya Covid,” kata Dewi.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

 



Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Terpopuler