Connect with us

Berita Utama

Tradisi Memercayai Jimat Jadi Sebab Guru Ponpes di Padarincang Diduga Cabuli Santriwati

Published

on

Massa merusak gubuk tempat tinggal guru pondok pesantren cabul di Batu Kuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Serang – Ratusan massa yang mengatasnamakan santri dan warga, sejak Selasa pagi, 28 Juli 2020 hingga larut malam menjelang Rabu dini hari, berkumpul di area pondok pesantren di Batu Kuwung, Padarincang, Kabupaten Serang.

Massa yang sejak awal sudah meneriakkan kekecewaan, mulai merusak sebuah gubuk di area pesantren yang diduga dijadikan tempat guru di ponpes itu melakukan perbuatan cabul kepada santriwati.

Meski aparat kepolisian berada di lokasi, gubuk berdinding bilik yang ditinggali terduga pencabulan itu terus dilempari batu dan ranting oleh masa yang terus meminta kepolisian untuk segera menangkap terduga cabul.

Massa terus menerus mendesak agar aparat kepolisian segera membawa terduga pelaku pencabulan ke Polres Serang.

“Pokoknya bawa haji Acun ke Polres,” teriak massa.

Massa dan aparat kepolisian beberapa kalo terlibat perdebatan saat polisi berusaha menenangkan warga supaya suasana tidak memanas. Namun, mendadak ada teriakan menggunakan kata-kata kotor

“Katanya santri, santri kan punya etika,” kata seorang perwira polisi sepuh yang tetap tenang menghadapi massa.

BACA :  Dinkes Catat 20 Persen Masyarakat di Ibu Kota Banten Belum Sadar Imunisasi

Imbauan aparat kepolisian justru dibalas hardikan kelompok massa.

“Tak usah bawa-bawa etika di sini, Pak,” kata massa dari kerumunan.

Seorang petugas kepolisian terlibat perdebatan dengan massa yang menggeruduk pondok pesantren yang guru ya cabul. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Wakapolres Serang Kota Kompol Mirodin menjelaskan, pihaknya sejak pagi sudah melakukan penjagaan dan menerjunkan 50 personil untuk pengamanan masa guna menghindari adanya kekerasan dan hal-hal yang melanggar hukum serta meminta masa aksi untuk tenang.

Karena emosi masa yang sudah memanas, tokoh masyarakat dan tokoh agama pun dikumpulkan pihak kepolisian untuk meredakan emosi masa di lokasi.

“Di sini melakukan musyawarah tokoh agama tokoh masyarakat supaya hal ini dipercayakan kami pihak kepolisian agar supaya masyarakat bubar, kami segera bekerja mengungkap perkara ini,” katanya kepada awak media di lokasi, Selasa 28 Juli 2020.

Mirodin mengungkapkan bahwa saat ini pihak kepolisian Polres Serang Kota sudah melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku pencabulan santriwati di Padarincang, Kabupaten Serang.

“Anggota kami bekerja segera mencari dan menangkap terduga tersangka ini, mohon doanya. Apalagi doa dari alim ulama sini, dari masyarakat agar kami bisa segera mengungkap secepatnya,” tegasnya.

BACA :  Tiga Terminal Bus AKAP di Banten Jadi Sasaran Penyemprotan Disinfektan Gugus Tugas Covid-19 Pemprov Banten

Iming-iming Jimat

Sam’un (48), warga Mancak, Kabupaten Serang, salah seorang orangtua santri menuturkan anaknya yang jadi korban pencabulan semula tertutup.

“Saya tanya, ‘Emang diapain sama abah haji? (Anaknya jawab) Enggak. Enggak diapa-apain.’ Pokoknya sama sekali tak terbuka,” kata Sam’un saat ditemui awak media di Polres Serang Kota, Senin 27 Juli 2020.

Menurut Sam’un, aksi pencabulan yang dilakukan pelaku diawali dengan iming-iming akan memberikan jimat kepada korbannya.

Sejauh ini, lanjut Sam’un, sudah ada tiga santriwati yang diduga jadi korban dan sudah melaporkan kasusnya ke kepolisian.

“Kita datang ke sini sama keluarga lainnya, ditemani dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Serang,” katanya.

Sam’un (kanan), salah satu orang tua santriwati yang anaknya jadi korban pencabulan guru pondok pesantren di Batu Kuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Sam’un juga mengaku, bahwa tau anaknya menjadi korban pencabulan oleh salah satu guru Ponpes itu setelah ditangani P2TP2A Kabupaten Serang melakukan visum terhadap anaknya.

BACA :  Perempuan dari Kota Tangerang Ditarif Rp 1 Juta Jika Bersedia Disetubuhi di Batam

“Ada yang laporan dari orang desa ke saya, anak saya ditangani P2TP2A. Sampai kaget seperti ini,” jelasnya.

Sam’un menceritakan, anaknya yang berumur 17 tahun itu sudah satu tahun lebih menjadi murid ponpes di Padarincang tersebut. 

“Sudah satu tahun lebih mondok disitu. Kalau untuk masalah pelajaran kurag tau intinya anak-anak mondok di situ,” ujar Sam’un.

Sementara itu, Staff P2TP2A Kabupaten Serang, Laela Purnama Sari mengatakan, pihaknya sejauh ini sudah melakukan pendampingan terhadap empat korban pencabulan itu.

“Kita bantu pendampingan hukum ke Mapolres, terus kita juga mendampingi visum ke rumah sakit,” katanya.

Ia mengungkapkan, sejauh ini kondisi psikologis para korban cuku baik, hanya saja setelah mendengar pemberitaan yang sudah ramai di media sosial (medsos) membuat mereka khawatir dan merasa takut.

“Kita juga melakukan pendampingan psikologis kepada anak itu, cuman pas kita pulangkan anak itu sudah ceria. Malahan pas kasusnya sekarang viral mereka jadi merasa malu dan takut,” ujarnya.

Sementara, Kasat Reskrim Polres Serang Kota, AKP Indra Feradinata mengaku, kasus teraebut sudah masuk dalam tahapan penyelidikan kepolisian.

“Ya, kita menerima laporan itu (pencabulan) dari empat korban yang melaporkan ke kami,” ucapnya.

Ia menyebutkan, dari ke empat pelapor itu sudah diperiksa oleh pihaknya dan pemeriksaan itu dilakukan sejak kemarin sebagai saksi.

“Nanti kalau sudah waktunya kita sampaikan karena ini masih proses penyidikan. Karena ini lagi dilengkapi dulu,” tegasnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Terpopuler