Connect with us

Berita Terbaru

Bobrok PPDB di Provinsi Banten, Sekolah Tak Jelas Terapkan Jalur Penerimaan

Published

on

Lima pelajar beserta orang tua saat mendatangi kantor Tim Advokasi Fendi Ariwijaya. (BantenHits.com/Mursyid Arifin)

Serang- Lima peserta didik asal Kabupaten Lebak berencana melaporkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten ke Pengadilan Tata Usaha Negeri (PTUN). Mereka akan bekerjasama dengan Tim Advokasi Fendi Ariwijaya.

Keputusan itu diambil setelah ke lima peserta didik masing-masing Lisna, Amanda, Iriansyah, dan Warningsih gagal masuk di SMAN 20 Kabupaten Tangerang meski telah mengikuti prosedural.

Lilis sang ibu dari Gina menerangkan setelah dinyatakan tidak lolos, Ia pun mendatangi pihak sekolah untuk bermusyawarah dan berupaya agar anaknya dapat bersekolah.

Hal itu dilakukan karena di Kecamatan Pakuhaji hanya terdapat satu SMA yakni SMA Negeri 20 Kabupaten Tangerang.

BACA :  Nelayan di Panimbang Bingung untuk Perpanjang Kartu Asuransi Nelayan yang Didapat saat Era Menteri Susi Pudjiastuti

“Setelah saya datang ke Sekolah, kata salah satu panitia (Mr. Didi) pelaksana penerimaan siswa baru ada peluang menggunakan jalur tidak mampu. Panitia itu juga menjanjikan ke wali murid yang lain bisa masuk dengan jalur itu,”kata Lilis.

Kabar itu membuat Lilis kembali semangat dan memenuhi segala persyaratan agar anak wanitanya tersebut bisa menimba ilmu.

Namun apalah daya, Lilis tak juga mendapat keputusan dari pihak sekolah. Ia pun kembali mendatangi sekolah dan menanyakan hasil.

“Akhirnya dikasih info kalau anak saya tak masuk lagi dalam daftar penerimaan siswa baru,”ucapnya.

Melihat daftar nama-nama peserta didik yang dinyatakan lolos, Lilis pun merasa aneh. Pasalnya, ia mendapati salah satu nama peserta didik yang domisilinya lebih jauh dari tempat tinggalnya.

BACA :  Tukang Bengkel Motor di Lebak Nyambi Jadi Pengedar Narkoba; Barang Buktinya Bikin Geleng-geleng Kepala

“Kalau berpatokan pada jarak tempuh antara sekolah dengan rumah saya itu, dekat dan masuk syarat. Sebab jarak hanya 3 kilometer. Namun Ketika saya liat sendiri. Ko si anu masuk, padahal rumahnya lebih jauh. Saya tau itu karena saya liat langsung datanya. Bisa dibilang hampir tiap hari saya datang ke sekolah itu,” ungkapnya.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Bahrum H.S mengaku, dirinya sebagai warga Banten khususnya Kabupaten Tangerang turut menyesalkan kejadian tersebut. 

Ia menyarankan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten harus memproses secepatnya, jangan sampai gugatan itu bisa mengalahkan lembaga pendidikan di Provinsi Banten.

“Kita tegas! Kalau memang nanti ada oknum pihak sekolah yang dengan sengaja menyalahgunakan ketentuan program pendidikan di Provinsi Banten, kami minta dengan tegas Dinas Pendidikan (Dindikbud) Banten memberikan teguran atau sanksi kepada pihak sekolah itu sendiri,” tegas Bahrum kepada awak media, di Gedung DPRD Banten, Rabu sore, 12 Agustus 2020. 

BACA :  Dindikbud Catat¬†202 SMPN dan 778 SD di Kabupaten Lebak Akan Diperbaiki di Tahun 2019

“Saya minta kepada Dinas Pendidikan (Dindikbud) harus segera menangani agar siswa itu tetap sekolah, harus sekolah, wajib hukumnya harus sekolah,” tegas Bahrum. 

Editor: Fariz Abdullah



Pria kelahiran Cihara, Kabupaten Lebak ini, dikenal aktif berorganisasi. Sejak sekolah hingga kuliah, jabatan strategis dalam organisasi pernah diembannya. Mursyid dikenal memiliki daya juang dan dedikasi tinggi dalam pekerjaannya.

Terpopuler