Connect with us

Berita Utama

Biaya Influencer hampir Rp 1 Triliun, Wakil Rakyat Asal Banten Ungkap Anggaran Riset Vaksin Covid-19 Hanya Rp 5 Miliar

Published

on

Evakuasi 111 WNA Thailand yang terjebak pandemi Covid-19 di Indonesia menggunakan pesawat Thai Lion Air. (Foto: Dok. Lion Air)

Jakarta – Beredarnya temuan ICW tentang dana hampir sebesar Rp 1 triliun yang digelontorkan pemerintah untuk keperluan sosialisasi kebijakan melalui jasa influencer (tokoh berpengaruh) membuat geram wakil rakyat di DPR RI asal Banten, Mulyanto.

Pasalnya, pada saat yang sama anggaran untuk lembaga riset saat ini sedang bekerja keras menyiapkan vaksin virus Corona atau Covid-19 hanya diberi anggaran sekitar Rp 5 miliar. Padahal hasil kerja para peneliti vaksin ini sangat dibutuhkan masyarakat agar bisa keluar dari pandemi Covid 19.

“Pemerintah terkesan lebih mementingkan citra daripada kesehatan dan keselamatan rakyat,” kata Mulyanto melalui keterangan tertulisnya.

BACA :  Kualitas Lembar Jawaban UN Dikeluhkan

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS menilai, ketimpangan alokasi anggaran ini sangat tidak wajar dari segi kepentingannya.

“Saat ini orang lebih butuh vaksin hasil riset para peneliti daripada celoteh para influencer,” tegas Mulyanto.

Mulyanto mendesak Pemerintah untuk lebih serius mendorong riset vaksin Merah Putih yang tengah dikembangkan Konsorsium Riset Covid Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

Konsorsium yang dimotori oleh LBM Eijkman dengan lembaga litbang nasional lainnya, termasuk pihak industri BUMN Kimia Farma, sedang berupaya menemukan formula vaksin yang tepat untuk melawan Covid 19.

Untuk itu Mulyanto minta Pemerintah lebih serius mendukung kerja peneliti vaksin Covid 19 dengan cara menambah anggaran yang lebih memadai.

BACA :  9.573 Botol Miras Hasil Cipkon di Tangerang Digilas

Anggaran yang besar itu, jelas Mulyanto, lebih baik dialokasikan untuk kepentingan riset vaksin. Nanti, ketika vaksin sudah diproduksi, Pemerintah dapat menghemat anggaran triliunan rupiah yang sebelumnya dialokasikan untuk keperluan impor vaksin.

“Presiden Jokowi saat Pidato di Sidang MPR 2020 pekan lalu menyampaikan telah mengalokasikan anggaran Rp 25 triliun dari APBN 2021 untuk pembelian vaksin dan alat kesehatan terkait penanganan Covid 19. Dengan asumsi harga vaksin sekitar 5-10 USD per dosis untuk 170 juta dosis. Dibanding total anggaran yang besar itu, alokasi untuk keperluan riset vaksin yang hanya Rp 5 miliar, sungguh seperti bumi dan langit,” sindir Mulyanto.

Menurut Mulyanto, ketimbang membelanjakan anggaran untuk mengimpor vaksin, sebaiknya anggaran yang besar itu dipakai untuk membiayai riset vaksin Merah Putih ini secara lebih serius. Harapannya dengan anggaran yang cukup itu vaksin buatan anak bangsa ini dapat lebih cepat beredar ke pasar.

BACA :  MUI Banten Segera Keluarkan Sikap soal Video Abraham Ben Moses

Mulyanto mengaku prihatin dengan tantangan yang dihadapi para peneliti. Di satu sisi peneliti diminta bekerja cepat menemukan vaksin Covid 19 tapi di sisi lain Pemerintah tidak menyediakan anggaram yang cukup.

Mulyanto menceritakan, dalam salah satu kesempatan rapat dengar pendapat, Kepala LBM Eijkmen bilang, anggaran penelitian yang dialokasikan sangat kecil. Ibarat kran air, yang keluar hanya tetesan.

“Ini perlu mendapat perhatian Presiden Jokowi, agar kita tidak sekedar menjadi Negara pengguna dan pembeli, tetapi mari kita dorong Indonesia menjadi Negara pembuat. Kita bisa kalau kita mau,” tandas Mulyanto.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler