Connect with us

Berita Terbaru

Centeng Tanah di Mauk Tangerang Bisa Bebas Keluyuran Usai Cabuli Anak Tetangga, Ini Modus saat Pertama Kali Beraksi

Published

on

ILUSTRASI KORBAN PENCABULAN

Ilustrasi anak perempuan di Padarincang diperkosa empat remaja secara bergiliran. (Foto: liputan6.com)

Tangerang – J (50), pria yang dikenal centeng tanah di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, telah dilaporkan ke Polresta Tangerang pada 19 Agustus 2020, terkait dugaan pencabulan terhadap anak tetangganya yang masih ABG.

Untuk melakukan aksinya, J rupanya memiliki segudang cara untuk merayu korbannya, Mawar, agar mau melayani nasfu bejatnya.

Salah satunya, dilakukan dengan cara membujuk Mawar agar mau diramal tentang jodoh untuk gadis berusia 21 tahun ini. Meski sempat mendapat penolakan dari Mawar, sang centeng tanah itu ternyata tidak mau menyerah.

“Saya memang sering dikasih tahu sama warga sini, hati-hati sama dia. Tapi kan saya enggak punya bukti apa-apa buat sekedar negurnya aja,” kata orang tua mawar, D, saat berbincang dengan BantenHits.com di kediamannya.

Meski sempat menolak, Mawar tidak bisa lepas dari jerat rayuan pelaku. Sebab, J mengancam korban jika tidak mau menuruti permintaannya maka dia akan sulit mendapatkan jodoh.

BACA :  Petugas Bandara Soetta Amankan Wanita Diduga Ibu Pembuang Bayi di Pesawat Etihad

Setelah memastikan Mawar terkena rayuannya, J membawa korban ke sebuah kebun kosong yang tak jauh dari rumah pria paruh baya ini. Di sana, sang centeng tanah tersebut mulai melancarkan aksinya dengan seolah-olah meramal jodoh melalui telapak tangan Mawar.

Selain itu, J juga memberikan sebuah botol yang sudah diisi air putih. Air itu harus diminum oleh Mawar jika ia ingin segera mendapatkan jodoh.

“Jadi anak saya cerita bahwa dia diminta untuk minum air putih dari dia yang sudah dijampein. Katanya air itu diminum supaya cepat dapat jodoh,” ujar D.

Seolah tidak ingin menunggu waktu lama, J langsung mendekap Mawar agar mau melayani hawa nafsunya. Tubuh mungil Mawar pun tak bisa melawan lantaran Jaidil ini memiliki postur yang besar dengan kondisi perut yang lumayan buncit.

“Anak saya sempat nolak, tapi dipaksa terus sama dia. Kata anak saya, kalau enggak mau, nanti air yang sudah diminum tidak berkhasiat,” tutur D.

Aksi bejat ini terungkap setelah orang tua Mawar melihat ada gelagat aneh dari tingkah laku putrinya. D menyebut, Mawar sering tidak mau makan dan tidak mau segera tidur usai korban mengalami tindakan pencabulan.

BACA :  Lagi, Tabrakan Beruntun di MH Thamrin

“Ada satu minggu setelah kejadian itu, anak saya enggak bisa tidur. Dia bulak balik ke WC terus, itu posisinya sudah begitu (dicabuli). Sempet saya tanyain, tapi anaknya enggak mau ngaku,” ucap D.

Karena curiga dengan tingkah Mawar, D lalu mencoba menanyakan lagi mengenai kondisi anaknya tersebut pada Jumat 7 Agustus 2020 sekitar pukul 14.00 WIB. Akhirnya setelah dibujuk pamannya, Mawar mau bercerita bahwa dia sudah menjadi korban pencabulan centeng tanah di kampungnya.

Saat itu, Mawar juga bercerita sudah tiga kali menjadi korban aksi bejat J ini. Tangis D dan keluarganya yang saat itu sedang menemani korban, langsung pecah lantaran tak kuasa menahan kenyataan tersebut.

“Padahal waktu itu istri saya baru saja beres lahiran adiknya si Mawar. Kalau dibilang sakit mah, sakit kang. Orang pelakunya juga sering ketemu sama saya sehari-hari,” tutur D.

BACA :  BPBD Serang Gencar Sosialisasikan Pentingnya 3 M, Ade Ariyanto: Jika Ada yang Langgar Kami Akan Lebih Tegas

Setelah mendapatkan pengakuan dari Mawar, malam harinya D beserta Ketua RT dan Jaro setempat langsung mendatangi kediaman J yang tak jauh dari rumah korban. Ia bermaksud meminta pengakuan dari oknum centeng tanah ini telah berbuat bejat terhadap Mawar.

“Pas saya disamperin, tadinya dia enggak mau ngaku, padahal warga kampung sini udah pada banyak yang tahu masalah ini. Akhirnya saya bawa anak saya bertemu langsung dengan dia. Saya tanya anak saya, siapa yang melakukan itu, dijawab dia pak orangnya,” ujar D menirukan kembali ucapannya saat menginterogasi pelaku.

Meski akhirnya mengaku, D tidak puas dengan jawaban tersebut. Ia pun resmi membawa perkara ini ke kepolisian pada 20 Agustus 2020, lantaran J tak menunjukan itikad untuk meminta maaf kepada keluarga korban.

“Intinya, keluarga pengen supaya pelakunya bisa dihukum dengan seadil-adilnya. Soalnya sampai sekarang, enggak pernah ada itikad baik dari dia ke keluarga saya. Apalagi sampai ngomong minta maaf, itu enggak pernah ada semenjak kejadian kemarin,” pungkasnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Rifat Alhamidi memulai karir sebagai jurnalis pada sejumlah media massa di Banten. Di masa kuliahnya, pria kelahiran Pandeglang ini dikenal sebagai aktivis mahasiswa. Dia memiliki ketertarikan pada dunia sosial dan politik.

Terpopuler