Connect with us

Berita Terbaru

Protes Banten Heritage soal Rencana Kemendikbud Hilangkan Pelajaran Sejarah; Justru Harusnya Jam Sejarah Ditambah! 

Published

on

FOTO ILUSTRASI: Rombongan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Banten berfoto di salah satu objek bersejarah di Palembang. (Dok.AGSI Banten)

Serang – Asosiasi Guru Sejarah Indonesia atau AGSI Banten telah menyatakan dukungan terhadap petisi ‘Kembalikan Posisi Mata Pelajaran Sejarah sebagai Mapel Wajib bagi Seluruh Anak Bangsa,” yang digulirkan AGSI pusat.

AGSI Banten berkeyakinan, mata pelajaran Sejarah adalah media yang paling ampuh
untuk memperkuat jati diri dan karakter manusia, ia juga merupakan alat pemersatu bangsa Indonesia.

Petisi yang ditujukan kepada Presiden Jokowi ini digulirkan menyusul beredarnya dokumen digital Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum Asesmen Nasional berkop Kemendikbud yang sudah beredar di masyarakat.

Harusnya Jam Sejarah Ditambah

BACA :  Tiga Wakil Rakyat di Banten Turun ke Tengah Aksi Mahasiswa yang Tolak UU Cipta Kerja; "Kami Telah Surati Pemerintah Pusat"

Anggota Banten Heritage, Dadan Sujana, turut bereaksi atas rencana Kemendikbud tersebut. Dadan mengaku tak sepakat dengan kebijakan Kemendikbud tersebut. 

“Tentu (tidak sepakat), di semua negara pun, pembelajaran sejarah dipelajari,” kata anggota Banten Heritage, Dadan Sujana kepada BantenHits.com, Senin 21 September 2020.

Dadan meminta Kemendikbud tetap mewajibkan mata pelajaran sejarah bagi pelajar SMA sederajat. Ia juga mendorong Kemendikbud menambah jam pelajaran sejarah.

“Saya malah ingin Kemendikbud menambah jam pelajaran sejarah. Tapi pembelajarannya, tetap berisi masa lalu namun harus disertai apa yang harus dilakukan masa depan,” ujarnya.

Menurut Dadan, banyak manfaat ketika para pelajar mendapa pembelajaran tentang sejarah bangsa Indonesia. Seperti menjadikan banga indonesia menjadi bangsa yang jujur, karena sejarah bisa mengajarkan kejujuran.

BACA :  Polisi Tambal Jalan Berlubang Dekat Kantor Bupati Pandeglang

“Kedua menjadikan bangsa Indonesia mengerti apa yang salah pada masa lalu, sehingga kelak di masa depan bisa lebih baik,” pungkasnya.

Sementara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno mengatakan, pelajaran sejarah tetap akan diajarkan dan diterapkan di setiap generasi.

“Kemendikbud mengutamakan sejarah sebagai bagian penting dari keragaman dan kemajemukan serta perjalanan hidup bangsa Indonesia, pada saat ini dan yang akan datang,” demikian tertuang dalam keterangan tertulis di laman Kemendikbud.

Dokumen Sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum Asesmen Nasional ini menyebutkan, mata pelajaran sejarah yang tercantum dalam kurikulum 2013 akan hilang dari kurikulum yang disederhanakan di masa pandemi COVID-19.

Dalam kurikulum yang disederhanakan, pelajaran sejarah hilang di Kelas 10 SMA sederajat. Pelajaran sejarah hanya tampil sebagai mata pelajaran pilihan kelompok ilmu sosial di kelas 11 dan 12, bukan mata pelajaran dasar.

BACA :  Warga Pandeglang Mulai Ogah Ngadu ke SMS Center?

Sementara di SMK, kurikulum yang dipakai saat ini adalah kurikulum 2013 hasil penyempurnaan tahun 2018. Ada mata pelajaran sejarah Indonesia di dalamnya. Pada kurikulum yang disederhanakan yang tercantum dalam dokumen yang beredar itu, pelajaran sejarah tidak ada lagi.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler