Connect with us

Berita Utama

Anggota DPRD Lebak Marah, Orangtuanya Idap Diabetes dan Maag Malah Dirawat di Ruang Isolasi Covid-19 RSUD dr. Adjidarmo

Published

on

RSUD dr. Adjidarmo Rangkasbitung (Banten Hits)

FOTO ILUSTRASI. RSUD dr. Adjidarmo Rangkasbitung (Banten Hits)

Lebak- Anggota DPRD Kabupaten Lebak, Bangbang SP dibuat gusar oleh pelayanan RSUD dr. Adjidarmo. Bagaimana tidak, orang tuanya yang disebut sedang sakit diabetes dan maag tiba-tiba harus menjalani perawatan di ruang isolasi.

Hal tersebut membuat politisi Gerindra ini naik pitam hingga berencana melaporkan RSUD dr. Adjidarmo ke pihak kepolisian. Ia menduga ada penggiringan pasien berstatus menjadi pasien virus Corona atau Covid-19.

“Saya menyimpulkan ada kecenderungan RSU menggiring pasien Corona dan membunuh orang secara sistematis dengan alasan medis,” kata Bangbang kepada wartawan, di Rangkasbitung, Kamis, 1 Oktober 2020.

Bangbang bercerita, Minggu, 27 September 2020 malam terpaksa membawa ibunya ke RSUD dr. Adjidarmo lantaran kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan.

“Sudah lama diabet jadi sudah enggak aneh lah keluar-masuk rumah sakit, diabet dan maag juga. Sampai suatu hari harus dirawat di RS Misi dan menjalani operasi kecil, tetapi kemudian diperbolehkan pulang untuk penyembuhan,” ujar Bangbang.

BACA :  HUT Polda Metro Jaya ke-66, Polres Metro Bersihkan Tempat Ibadah

Selang beberapa hari, Bangbang mau tidak mau membawa ibunya ke RSUD karena kondisi yang mengkhawatirkan lantaran sulit mencerna makanan akibat maag kronis.

“Karena enggak mau makan, kondisinya kritis lah makanya saya langsung bawa ke RSUD. Sampai di RS ada skrining segala macam termasuk rapid test, nah yang aneh hasil rapidnya non reaktif tapi ibu saya dibawa ke ruangan zona merah dan katanya harus diisolasi,”ungkapnya.

Kata Bangbang, dari keterangan dokter jaga dan berdasarkan rekam medik dokter spesialis paru sang ibunda diduga mengarah pada Covid-19.

Pihak Rumah sakit, lanjut Bangbang kemudian meminta keluarga untuk menandatangani surat pernyataan agar pasien diisolasi dengan poin-poin yang menurutnya aneh.

BACA :  Setelah Ganjar dan Ridwan Kamil, Giliran Rano Datangi Ahok

“Contohnya, kalau pasien mengalami perburukan tidak akan dirawat di ICU, belum lagi tidak ada fasilitas dan kondisi ruangan isolasi yang tidak memadai, hanya kipas angin di ruang itu, bayangkan gimana panasnya,”tuturnya.

“Ada yang bareng masuk dengan ibu saya, posisinya kritis dan meninggal semalam. Yang kritis dimasukin ke ruang isolasi, mati orang Pak karena tidak ada perlengkapan ICU dan lain-lain. Ini yang akan saya tuntut pihak rumah sakit atau direktur Adjidarmo supaya saya tahu apakah yang dilakukan rumah sakit sudah benar atau tidak di mata hukum karena kami merasa keberatan dan janggal,”tegasnya.

Terpisah Humas RS Adjidarmo, Budi Kuswandi menerangkan ibunda anggota DPRD Lebak pernah menjalani perawatan di RS Misi. Setelah dilakukan rontgen ulang dan dibandingkan oleh dokter ahli hasilnya lebih cenderung ke arah Covid-19.

Untuk memastikannya, pihak rumah sakit telah melakukan swab tes kepada pasien. Meskipun hasil rapid tes menunjukan non reaktif.

BACA :  Stok Makanan Habis, Tagana Pandeglang Kena Marah Warga

“Terkait masalah ini, untuk hasil Rapid tes kan non reaktif, tapi masih banyak yang bisa dijadikan untuk rujukan tes lainnya,”ujarnya.

“Kamipun belum bisa memastikan, karena yang menjadi kunci adalah hasil tes swab PCR. Kamipun sudah melakukan itu, pengambilan sample swab,”tambahnya.

Untuk persoalan fasilitas ruang isolasi, menurut Budi, RSUD dr. Adjidarmo sebenarnya bukan RS rujukan pasien Covid-19. Terlebih ruangan tersebut merupakan ruang isolasi darurat.

Ia juga menyebut masih banyak rumah sakit diluar sana yang memang tempat isolasinya tidak standar.

“Kita hanya rawat inap dan rawat sedang sebetulnya. Ibu (pasien-red) inipun sebenarnya kita ingin segera rujuk, tapi setelah kita coba ternyata masih penuh semua, tidak semudah itu untuk mencari rujukan untuk sekarang karena trendnya sedang naik lagi,”tukasnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Terpopuler