Connect with us

Berita Utama

Banten Hanya “Selangkah” ke Jakarta, Kok untuk Dapatin Sinyal Warganya Harus Naik ke Atap Rumah?

Published

on

Warga Kampung Lebak Pari III, Desa Lebak Peundeuy, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten naik ke atap rumah untuk mendapatkan sinyal komunikasi. (BantenHits.com/ Mursyid)

Lebak – Banten merupakan provinsi terdekat dengan ibukota Jakarta. Saking dekatnya, jarak Banten dengan Jakarta hanya “selangkah”.

Namun, dekat dengan Jakarta tak lantas membuat Banten berkembang pesat seperti Jakarta. Bahkan, hingga memasuki usia 20 tahun Provinsi Banten, nampaknya masih banyak pekerjaan rumah pemerintah.

PR yang utama adalah soal pemenuhan hak-hak kehidupan sosial, salah satunya pemenuhan hak mendapatkan akses jaringan komunikasi bagi warga yang bermukim di pelosok desa.

Dari informasi yang dihimpun wartawan BantenHits.com, empat desa di wilayah pelosok di Kabupaten Lebak susah mendapatkan akses jaringan internet atau jaringan komunikasi. Keempat desa itu di antaranya, Desa Lebak Peundeuy, Ciparahu, Citeupuseun, Kecamatan Cihara dan Desa Cikaret, Kecamatan Cigemblong.

Padahal, di era digital seperti sekarang ini jaringan internet maupun jaringan komunikasi sudah menjadi bagian dari kebutuhan dalam kehidupan masyarakat, baik untuk berkomunikasi, mengakses informasi, dan sebagainya.

BACA :  Pakai Modus Ini, Pemuda Asal Aceh Kepergok Polisi Edarkan 857 Butir Obat Terlarang di Wilayah Kota Serang

Saat ini masyarakat yang bertempat tinggal di empat desa tersebut, ketika ingin melakukan komunikasi dengan keluarga, teman, atau rekan kerja maupun mencari informasi terkini harus rela keluar rumah. Itupun hanya berada di titik-titk tertentu saja, misalnya di dataran yang tinggi. Sedangkan ketika memasuki dataran rendah secara otomatis handphone milik mereka berada di luar jangkauan alias blank spot.

Keluhan tersebut muncul dari masyarakat Desa Cikaret, Kecamatan Cigemblong. Bagi pengguna android jaringan komunikasi atau internet sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena hal itu merupakan tuntutan dari perkembangan jaman.

“Di sini mah susah sinyal. Kalau mau ada sinyal harus keluar rumah atau pergi ke tempat tertentu. Misal, ke daerah dataran tinggi. Ya, emang butuh perjuangan,” keluh Asep, warga Desa Cikaret belum lama ini.

Ketua Ikatan Remaja Aktif (IKRA) Lebak Pari, Desa Lebak Peundeuy, Kecamatan Cihara, Dede Ilyana mengatakan, Provinsi Banten saja sudah menginjak usia ke-20 tahun, tentu ini bukanlah usia kanak-kanak.

BACA :  Polisi Pastikan Ayu Balita Perempuan yang Ditemukan di Tembong Serang Dibuang Ibunya Sendiri

Namun, sangat disayangkan masyarakat masih kesulitan untuk berkomunikasi dan mengakses informasi maupun memberikan informasi seputar perkembangan daerahnya. Sehingga sering kali ketinggalan informasi-informasi yang seyogyanya diketahui oleh khalayak umum sebagai pemenuhan hak mendapatkan informasi.

“Tapi faktanya masyarakat pedesaan masih saja serba keterbatasan dalam segala bidang, salah satunya untuk mendapatkan hak informasi. Kami heran, untuk pemenuhan hak-hak warga selama ini masih ketimpangan khususnya bagi warga yang tinggal di desa? Ini kado terindah dalam HUT Banten ke- 20 yang kami berikan dari pemuda kampung,” kata Dede.

Hal yang sama dirasakan warga Desa Citeupuseun. Keterbatasan jaringan komunikasi membuat masyarakat buntu dalam mengakses informasi, atau berkarya melalui dunia maya. Apalagi, situasi saat ini anak-anak pelajar yang dituntut harus mengikuti pembelajaran jarak jauh atau daring di tengah pandemi Covid-19. Sebab, menurut dia, di era teknologi ini hampir sebagian besar serba online.

BACA :  DPRD Tak Tahu Rencana Wali Kota Tangerang Bangun Sport Center di Pinang

“Kami meminta kepada pemangku kebijakan, agar memperhatikan warganya terutama yang ada di daerah pelosok desa. Pemerintah pusat sempat menggembar-gemborkan program internet masuk desa, tapi kok heran desa kami masih gelap dari informasi?,” tanya Hilmi Fahmi warga Desa Citeupuseun, juga mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL).

Begitu juga di Desa Ciparahu, kondisinya masih gelap gulita dari penerangan informasi atau akses jaringan internet. Tak heran, jika banyak warga yang selalu ketinggalan atau kesulitan mendapatkan informasi. Sebetulnya, ini kritikan bagi pemerintah tetapi peluang juga bagi para pengusaha penyedia jasa telekomunikasi.

“Bagi kami, mau itu datangnya dari pemerintah atau pengusaha yang terpenting jaringan komunikasi ada dan bisa memberikan pelayanan dan kenyamanan bagi warga yang menggunakan nantinya,” pungkas Ahmad Daerobi warga Desa Ciparahu.

Diketahui, setiap 4 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Provinsi Banten atau HUT Banten merupakan hari amat bersejarah bagi semua kalangan masyarakat. Bertepatan pada 4 Oktober 2000 Provinsi Banten menjadi provinsi baru, terpisah dari Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Pria kelahiran Cihara, Kabupaten Lebak ini, dikenal aktif berorganisasi. Sejak sekolah hingga kuliah, jabatan strategis dalam organisasi pernah diembannya. Mursyid dikenal memiliki daya juang dan dedikasi tinggi dalam pekerjaannya.

Terpopuler