Connect with us

Berita Terbaru

Gawat! 1.500 Buruh di Tangerang Tak Lagi Takut Covid-19, Keukeuh Mogok Kerja dan Unras Selama Tiga Hari

Published

on

FOTO ILUSTRASI. Ratusan massa buruh menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Cilegon. (Banten Hits/ Iyus Lesmana)

Tangerang- Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPSI) mengaku akan mengerahkan 1.500 buruh untuk melakukan mogok massal menentang pengesahan RUU Omnibuslaw. Rencananya, mereka akan turun menggelar unjuk rasa pada 6-8 Oktober 2020 yang dipusatkan di Kantor Bupati Tangerang hingga ke DPR RI.

Mereka keukeuh akan menggelar aksi meski di tengah Pandemi Covid-19 lantaran para buruh menilai RUU Omnimbus Law Cipta Kerja jauh lebih menakutkan dari penyebaran virus corona.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPSI) Kabupaten Tangerang Ahmad Supriyadi mengatakan, sejumlah poin di RUU Omnibus Law yang akan disahkan DPR banyak merugikan kaum buruh. Terutama, tentang poin yang bakal menghilangkan pesangon dan melegalkan sistem outsourcing atau sistem kontrak di semua bidang pekerjaan.

BACA :  Imigrasi Soetta Ungkap Penyelundupan WNA

“Upah minimum berdasarkan rancangan undang-undang tersebut tidak akan mengalami kenaikan setiap tahun, terus pekerja kontrak juga tidak berbatas oleh waktu. Tentu RUU ini kami nilai lebih kejam dari pada penyebaran virus corona di Indonesia,” katanya kepada wartawan, Senin 5 Oktober 2020.

“Kalau pertanyaannya seperti itu (unjuk rasa saat pandemi), saya ingin membalik pertanyaannya kenapa DPR RI menciptakan suasana seperti ini (mengusulkan secara kilat pengesahan RUU Omnibuslaw). Padahal semua sudah tahu, draf rancangan undang-undang ini tidak ada keberpihakan sama sekali terhadap kaum buruh,”tambahnya.

Meskipun demikian, Supriyadi memastikan aksi buruh dari serikat pekerja yang dia pimpin akan tetap mengedepankan protokol kesehatan dengan ketat. Terlebih, para buruh yang akan berunjuk rasa juga dianjurkan untuk membawa handsanitizer. 

BACA :  Pengojek Online yang Juga Mahasiswa UMT Korban Tabrak Lari Masih Kritis

“Bahkan di organisasi saya (KSPSI) sebelum berangkat akan di cek suhu tubuhnya dulu. Karena kami sadar, dengan kekuatan massa sekitar 1.500 itu pasti butuh hamparan yang lebih luas karena masing-masing saling mengatur jarak,” pungkasnya.

Editor: Fariz Abdullah



Rifat Alhamidi memulai karir sebagai jurnalis pada sejumlah media massa di Banten. Di masa kuliahnya, pria kelahiran Pandeglang ini dikenal sebagai aktivis mahasiswa. Dia memiliki ketertarikan pada dunia sosial dan politik.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler