Connect with us

Advertorial

Ketika Hobi Anak Justru Jadi Tersalurkan Selama Masa Pandemi

Published

on

Talk show bertajuk “Mengajak Anak-anak Bergembira di Masa Pandemi” yang digelar Satgas Covid-19 di Media Center Satgas Covid-19, Graha BNPB, Minggu, 4 Oktober 2020.(tangkap layar YouTube BNPB Indonesia)

Jakarta – Pandemi Covid-19 memaksa semua orang untuk tetap di rumah saja. Namun, berada di rumah saja bukan berarti menyerah. Justru dari rumah kreativitas-kreativitas lahir.

Yang luar biasanya lagi, kreativitas dari satu rumah ke rumah lainnya bisa terhubung. Akhirnya berada di rumah saja menjadi jauh lebih menyenangkan karena bisa terus berkreasi.

Gambaran itu diperoleh dalam talk show bertajuk “Mengajak Anak-anak Bergembira di Masa Pandemi” yang digelar Satgas Covid-19 di Media Center Satgas Covid-19, Graha BNPB, Minggu, 4 Oktober 2020.

Acara tersebut dipandu Andromeda Mercury, dengan menghadirkan narasumber Psikolog yang juga Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi; Roedyanto, Bassist Emerald BEX yang juga Produser Musical “Cerita dalam Lagu”; penyanyi anak, Anabelle, dan Dewi Alfian, salah satu orangtua.

BACA :  Bupati Iti Surati Kemenhub; Minta KRL Rangkasbitung-Tanah Abang Disetop Selama Larangan Mudik

Dewi Alfian mengungkapkan, saat awal-awal masa pandemi Corona, anak-anaknya di rumah sempat merasakan bosan.

“Tapi kemudian saya membebaskan mereka. Terserah mereka mau melakukan apa saja yang penting positif,” ungkapnya.

Dewi menjelaskan, karena Anabelle, anaknya, memiliki hobi bernyanyi, maka dia memberikan keluasaan supaya dia terus menyalurkan hobinya.

“Dia ikut challenge. Nah itu membuat dia semangat lagi. Anak-anak suka tantangan,” terangnya.

Challenge yang dimaksud Dewi, digelar oleh Roedyanto, Bassist Emerald BEX yang juga Produser Musical “Cerita dalam Lagu”. Challenge tersebut mengajak para remaja menyanyikan lagu anak yang belum pernah dipublikasikan.

Roedyanto, sang penggagas challenge itu menuturkan, dia terinspirasi membuat challenge ketika menangkap kebatinan anak-anak pada awal-awal masa pandemi, di mana mereka tercerabut dari lingkungan teman-teman dan sekolahnya.

BACA :  Cerita 'Horor' Pemudik dari Tangerang-Palembang; Berangkat Sore, Jam 12 Malam Masih Antre di Pelabuhan Merak

Menurut Roedyanto, anak-anak yang memiliki hobi menyanyi dan tertarik ikut challenge kemudian diberikan lagu anak. Si anak kemudian menyanyikan lagi tersebut dan merekamnya, kemudian mengedit dan mengirimkan hasilnya.

“Proses selama tiga bulan dan produksinya dari rumah masing-masing. Anak-anak (yang ikut challenge) juga (menyanyi, merekam dan memgedit) dari rumah masing-masing juga,” ungkapnya.

Tak sekadar hanya menyalurkan hobi, Roedyanto juga lewat challenge itu ingin memberikan edukasi kepada anak-anaknya tentang pentingnya menghargai karya orang.

“(Anak-anak) yang ikut challenge rata-rata semua bisa ngerti. Kalau mengcover lagu orang harus menyertakan copyright,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, challenge itu juga merupakan keprihatinan dirinya terhadap fenomena anak-anak yang membawakan lagu-lagu orang dewasa.

BACA :  'Harga Mati' DPRD Pandeglang; Jadi Tempat Wisata Oke, Tambak Udang No

“Saya tidak bisa 100 persen menyalahkan anak-anak, juga tidak melulu menyalahkan orangtua. Karena input mereka juga kurang. Lagu-lagu anak sulit ditemukan,” bebernya.

Sementara itu, Seto Mulyadi, mengimbau orangtua mengapresiasi setiap hobi, bakat, dan potensi yang dimiliki anak, meski tak sesuai dengan mereka.

“Paling tidak yang perlu ditumbuhkan adalah apresiasi terhadap setiap bakat atau potensi anak. Sekarang ini anak ditumbuhkan rasa gembira dan percaya diri. Nah percaya diri itu harus diapresiasi,” jelas Seto.

Seto meminta, orangtua tak melulu harus mengarahkan anak-anak pada bidang-bidang akademik. Jika anak memiliki hobi tertentu, orangtua mengarahkan atau sederhananya cukup mengapresiasi.

“Anak-anak ditumbuhkan percaya diri, bangga menjadi diri sendiri karena ada apresiasi dari lingkungan keluarga. Jadi kalau anak-anak selalu diarahkan, digiring ke lingkungan akademik saja lama-lama anak frustasi,” paparnya.

“Jadi hargai. Setiap anak itu unik, otentik, dan tidak terbandingkan. Setiap anak itu istimewa. Di situ anak merasa nyaman dengan keluarga,” tutupnya. (Advertorial)



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler