Connect with us

Berita Utama

Deretan Raport Merah WH-Andika yang Hampir Empat Tahun Pimpin Banten versi Keluarga Mahasiswa Lebak

Published

on

Keluarga Mahasiswa Lebak atau Kumala menggelar aksi sebagai refleksi empat tahun kepemimpinan WH-Andika. Kumala menilai WH-Andika gagal. (BantenHits.com/ Tolib)

Serang – Duet kepemimpinan Wahidin Halim alias WH – Andika Hazrumy yang hampir empat tahun memimpin Banten, dinilai gagal oleh Keluarga Mahasiswa Lebak atau Kumala.

Menurut Kumala, gagalnya kepemimpinan WH-Andika karena masih menyisakan persoalan mendasar, seperti tata kelola pemerintahan, insfraktuktur jalan, pendidikan, kesehatan, pengangguran, dan kemiskinan.

Hal tersebut disampaikan Kumala saat melakukan aksi unjuk rasa di Jalan Syekh Moh. Nawawi Albantani, Perempatan Lampu Merah Boru, Kecamatan Curug, Kota Serang, Senin 26 Oktober 2020.

Wartawan BantenHits.com Tolib melaporkan, aksi Kumala digelar sebagai evaluasi kinerja kepemimpinan WH – Andika Hazrumy yang dilantik 12 Mei 2017 lalu sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten.

BACA :  Lurah Medang Berharap Tak Ada Lagi Balita Kurang Gizi

Ketua Kumala Pw Serang Misbahudin mengatakan, sampai dengan saat ini kurang lebih di usia 42 bulan atau hampir 4 tahun masih banyak persoalan yang sangat mendasar.

Persoalan itu di antaranya tata kelola pemerintahan, insfraktuktur jalan, pendidikan, kesehatan, pengangguran, kemiskinan, ketimpangan, pertanian, maritim, sampah, lingkungan, permukiman, trsnsportasi, kependudukan, keagamaan, daya saing, korupsi, birokrasi, banjir, pariwisata, tata ruang dan pertanahan, dan perekonomian.

“Beberapa kondisi yang terjadi saat ini, tentu tidak lain dan tidak bukan (persoalan ini) hasil dari pada kebijakan yang dibuat oleh Gubernur Banten, sehingga ini menjadi pengaruh besar terhadap masyarakat Banten,” kata Misbah dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, Provinsi Banten selama dipimpin Wahidin Halim dan Andika Hazrumy “berhasil” menjadikan angka pengangguran di Banten tertinggi di Indonesia.

BACA :  Supaya Tidak Terulang, UN SMP di Tangsel Jadi Bahan Evaluasi

“Tepatnya pada tahun 2018 Agustus 8,52 persen Banten masuk dalam kategori jumlah penganguran no 1 se-Indonesia bahkan yang lebih miris lagi 2019 Agustus 8,11 persen menyusul kembali tingkat satu, sampai 2020 Februari tingkat pengangguran terbuka (TPT) menjadi 8,01 persen,” ujarnya.

Kemudian disusul dengan adanya angka kemiskinan di Banten yang mengalami kenaikan. Hasil survai ekonomi nasional pada bulan Maret 2020 sebesar 5,92 persen. Hal itu kata dia mengalami peningkatan 0,98 poin dibanding tahun sebelumnya 2019 sebesar 4,94 persen.

“Lagi-lagi janji WH-Andika untuk mengentaskan kemiskinan Banten ternyata belum mampu dan belum maksimal dengan apa yang direncanakan saat janji kampanye politiknya,” imbuhnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

BACA :  Buntut Kisah Guru Honorer di Pandeglang Tinggal di Toilet Sekolah, Bupati Irna Minta Pemerintah Pusat Perhatikan Nasib Honorer



Pernah menjadi tokoh mahasiswa selama kurun perkuliahan 2015-2019, pria asal Banten Selatan ini memutuskan pilihan hidup menjadi jurnalis setelah lulus kuliah. Tolib memiliki ketertarikan pada dunia kepenulisan.

Terpopuler