Connect with us

Berita Utama

Bidan dan Perawat di Cipacing Pandeglang Buka Klinik Abrosi sejak 2006 Tarifnya Rp 2,5 Juta

Published

on

FOTO ILUSTRASI : Bidan dan Perawat di Pandeglang Buka Praktik Aborsi, Kini Diamankan Polda Banten (Google)

Serang – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten mengamankan seorang bidan berinisial NN (47). Dia diamankan terkait praktik aborsi.

Selain mengamankan NN, Polisi juga mengamankan seorang perawat berinisial ER (38) dan seorang warga RY (26) pelaku yang diduga tengah mengaborsi janin.

Mereka diamankan di sebuah klinik yang terletak di Kampung Cipacing, Desa Ciputri, Kecamatan Kaduhejo, Pandeglang, Senin 26 Oktober 2020 lalu.

NN dan ER membuka praktik klinik aborsi di lokasi tersebut sekitar 14 tahun.

“Sudah beberapa hari lalu kita amankan. Praktek mereka itu sudah dari 2006 atau 2007 lalu,” kata Direktur Kriminal Khusus Polda Banten, Kombes Pol Nunung Saefudin, Selasa 3 November 2020.

BACA :  100 Surat Tilang Dikeluarkan Satlantas Polres Lebak Pada Hari Pertama¬†Operasi Zebra Kalimaya 2019

Kasubdit IV Tipiter Ditreskrimsus Polda Banten, Kompol Feria Kurniawan menambahkan, praktik aborsi terbongkar awalnya berdasarkan laporan masyarakat.

Anggota saat itu mendapat laporan bahwa pelaku RY bersama rekannya datang ke klinik milik NN untuk menggugurkan kandungan. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti anggota.

“Dilakukan klarifikasi terhadap NN dan yang bersangkutan membenarkan bahwa perempuan yg bernama RY baru saja mendatangi klinik dan menggugurkan kandungannya yang sudah berumur kurang lebih 1 bulan,” jelasnya.

Ditarif Rp 2,5 Juta Sekali Aborsi Janin

Parktik aborsi yang dilakukan NN ditarif sekitar Rp 2,5 juta. Itu diketahui pasca NN dan RY melakukan negosiasi untuk aborsi kandungan. Namun setelah itu, para pelaku ditangkap.

BACA :  Bupati Tangerang Minta Dukungan DPRD soal Pembatasan Operasional Angkutan Barang

Saat penangkapan, Polisi juga turut mengamankan sejumlah barang bukti peralatan aborsi yakni baskom alumunium, gunting, penjepit, buku catatan pasien, 2 botol kecil obat injeksi, 1 alat suntik dan uang tunai Rp 2,5 juta.

Feria menyatakan, pelaku atas perbuatannya dijerat dengan KUHP dan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan terancam diatas 5 tahun penjara.

“Tersangka diduga telah melanggar pasal 194 Jo pasal 75 (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan atau pasal 346 dan atau pasal 348 (1) KUHP junto pasal 55 (1) ke 1,” pungkasnya.

Editor : Engkos Kosasih



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler