Connect with us

Berita Utama

Mahasiwa Untirta Pilih Tinggalin Ali Mochtar Ngabalin saat Acara KSP Mendengar

Published

on

Aktivis mahasiswa Untirta saat membentangkan spanduk “Awas!!! Ada Pelemahan Gerakan Mahasiswa” saat acara KSP Mendengar. Mereka juga memilih pergi ninggalin Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin. (BantenHits.com/Mursyid Arifin)

Serang – Kantor Staf Presiden mengadakan sebuah forum publik yaitu KSP Mendengar di salah satu hotel di Kabupaten Serang, Banten, Selasa, 10 November 2020.

Tujuannya, untuk menyerap aspirasi dan mendengarkan keresahan masyarakat terhadap Undang-undang Cipta Kerja atau UU Ciptaker yang telah disahkan dan ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo beberapa hari lalu.

Dalam acara tersebut turut hadir Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin. Ia memaparkan UU Ciptaker sangat penting bagi semua kalangan masyarakat, terutama dalam hal menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia.

BACA :  Truk Pengangkut Pipa dari Kawasan KIEC Tabrak Pengendara Motor Hingga Tewas

Ada hal yang menarik saat sesi tanya jawab digelar di acara itu. Selang beberapa menit saat sesi dibuka, tiba-tiba tiga aktivis mahasiswa yang mengaku asal kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) meninggalkan ruangan atau walk out dari forum ‘KSP Mendengar’.

Sebelum pergi ninggalin Ngabalin, para mahasiswa itu menyampaikan pendapatnya sembari membentangkan banner yang bertuliskan “Awas!!! Ada Pelemahan Gerakan Mahasiswa”.

“Kita hanya menjadi korban stempel aja dan itu sudah terjadi sama serikat-serikat buruh yang diajak ke istana negara suruh menyampaikan aspirasi dan pendapatnya, tapi aspirasinya nggak pernah diaplikasikan, nggak pernah diimplementasikan,” kata aktivis mahasiswa yang mengaku Boy itu di hadapan Ali Mochtar Ngabalin dan sejumlah aktivis mahasiswa Cipayung Plus sebelum meninggalkan forum.

BACA :  Dinkes Kota Tangerang Uji Makanan Takjil di Pasar Lama

Sebelum membentang banner, pria itu kembali mengatakan, tidak perlu juga lama-lama berdiskusi di siang ini karena sejatinya sudah banyak aspirasi yang disampaikan tapi intinya menolak Undang-undang Cipta kerja.

Ia juga menegaskan, tidak perlu lagi direvisi UU tersebut namun yang terpenting ialah membangun reforma agraria dan menciptakan industrialisasi nasional.

Itulah satu-satunya jalan yang bisa menyerap lapangan pekerjaan yang sejati bagi rakyat tanpa ada berbagai macam alasan dan skema busuk yang dilakukan pemerintah.

“Saya ingin mengingatkan kepada rekan-rekan mahasiswa Pemuda tentang tagline mosi tidak percaya yang sudah kita kembangkan di 18 provinsi. Sudah banyak keringat darah yang lahir yang bisa mengembangkan tagline tersebut. Jangan ada lagi harapan dan cita-cita, asa dan asih kepada pemerintah yang telah mengangkangi,” tegasnya.

BACA :  Bupati Serang Gratiskan Biaya Pengobatan Korban Keracunan Ikan Pindang di Mancak

Hal senada ditegaskan Fairuz Lazuardi, mahasiswa tidak perlu lagi panjang lebar membahas Undang-Undang Cipta Kerja. Bagi mereka, hal ini salah satu metode rezim untuk mendapat dukungan masyarakat. Tapi hari ini mahasiswa dan masyarakat lainnya tidak bodoh dan sudah bisa melihat isinya bahwa secara substansi tidak pro terhadap rakyat.

“Maka sudah tidak ada alasan lagi untuk kita terima. Jadi eksklusivitas kita hari ini Kita diundang ditempatkan meja ini sudah tidak harus terjadi lagi, saya rasa pemerintah lebih baik buka gerbang istana,” tegas pria yang mengenakan almamater Untirta itu sembari meninggalkan ruangan forum tersebut. 

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

 



Pria kelahiran Cihara, Kabupaten Lebak ini, dikenal aktif berorganisasi. Sejak sekolah hingga kuliah, jabatan strategis dalam organisasi pernah diembannya. Mursyid dikenal memiliki daya juang dan dedikasi tinggi dalam pekerjaannya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler