Connect with us

Berita Terbaru

Beda Jagoan dengan Tetangga saat Pilkades, Rumah di Kab. Tangerang Ini Malah Dikepung Tembok

Published

on

Rumah milik Sukiman dikelilingi tembok milik tetangganya. Hal itu terjadi lantaran adanya perbedaan pilihan saat Pilkades 2019. (BantenHits.com/Rifat Alhamidi)

Tangerang- Perbedaan politik seharusnya menjadi hal yang lumrah untuk iklim demokrasi di Indonesia. Masyarakat, pun tidak perlu merasa khawatir untuk menentukan pilihannya karena sudah dijamin dan dilindungi oleh hukum melalui undang-undang.

Namun, kondisi tersebut rupanya berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh seorang warga Kampung Karang Anyar, RT 01/01, Desa Karang Anyar, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang bernama Sukiman. Ia mengaku, menjadi korban atas dampak Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) 2019 lalu.

Bagaimana tidak, saat bercerita kepada wartawan, Sukiman hanya bisa pasrah saat rumahnya harus dikelilingi tembok tinggi yang terbuat dari hebel. Pemagaran ini, disebut-sebut merupakan buntut perbedaan pilihan dirinya saat Pilkades Karang Anyar.

BACA :  Bus ALS Terbalik, Belasan Korban Dirawat di RSKM Cilegon

“Ya, saya sama tetangga pas pilkades lalu memang berbeda pilihan. Calon yang kita dukung berbeda,”kata Sukiman mengawali cerita pemagaran tersebut saat ditemui wartawan di kediamannya, Selasa 24 November 2020.

Sukirman menuturkan, aksi pemagaran oleh tetangganya itu pertama kali dilakukan sejak dua hari setelah Pilkades 2019. Tadinya, Sukirman masih tak berprasangka apapun lantaran ia masih memiliki akses jalan menuju rumahnya karena pagar tersebut masih berada di belakang rumahnya.

Namun sebulan kemarin, Sukiman dikagetkan oleh aksi tetangganya lagi. Rupanya, pagar di belakang rumahnya kini ditambah dengan tembok tinggi lebih dari satu meter di depan kediamannya.

“Awalnya kan jalan di belakang doang yang dipagarin, tapi sebulan kemarin jalan depan rumah saya sekarang juga ikut dipagar,”ujar Sukiman.

BACA :  Wali Kota Cilegon Ditetapkan sebagai Tersangka Kasus Suap

Akibat pemagaran itu, Sukiman khawatir jika datang hujan maka akan membanjiri rumahnya. Untuk itu, ia berinisiatif menggali tanah supaya bisa difungsikan sebagai tempat penampungan air yang kemudian disedot dan dibuang ke kali yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya.

Meski demikian, Sukiman merasa beruntung masih memiliki akses jalan di sebelah barat rumahnya. Sebab lahan tersebut masih milik keluarganya yang ternyata satu pilihan politik dengannya pada Pilkades lalu.

“Kalau akses jalan di sebelah utara, timur dan selatan rumah saya sudah dipagar. Jadi satu-satunya akses saya dan keluarga keluar-masuk hanya lewat sebelah barat lewat lahan milik keluarga saya,”tururnya.

Hingga berita ini diturunkan, Bantenhits.com masih berusaha meminta keterangan dari pihak terkait atas perkara ini. Termasuk, kepada tetangga Sukiman yang disebut berbeda pandangan politik dengannya pada Pilkades 2019.

BACA :  Bandel Sih! Belasan Masyarakat Kena Sanksi Sosial Gegara Tak Pakai Masker

Editor: Fariz Abdullah



Rifat Alhamidi memulai karir sebagai jurnalis pada sejumlah media massa di Banten. Di masa kuliahnya, pria kelahiran Pandeglang ini dikenal sebagai aktivis mahasiswa. Dia memiliki ketertarikan pada dunia sosial dan politik.

Terpopuler