Connect with us

Advertorial

Kasus Covid-19 Aktif Indonesia Lebih Baik dari Rata-rata Dunia

Published

on

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito saat menjelaskan kasus Covid-19 aktif di Indonesia lebih baik dari rata-rata dunia. (Foto: covid19.go.id)

Jakarta – Tantangan kenaikan kasus positif Covid-19 saat ini dialami berbagai negara di dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, Indonesia sebelumnya sudah mampu mengendalikan kasus positif nasional.

Dari data per 30 November 2020, kasus aktif di Indonesia sempat ada tren penurunan. Namun kembali mengalami kenaikan kasus pada minggu kedua November. 

Hal tersebut disampaikan Wiku saat memberikan keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Graha BNPB, sebagaimana juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa, 1 Desember 2020.

BACA :  Cegah Penyebaran COVID-19 di Tempat Wisata dan Kegiatan Keagamaan, Bupati Tangerang Instruksikan Jajaran Antisipasi Ini

“Meski demikian, saat ini angka kasus aktif di Indonesia masih berada di bawah rata-rata dunia dengan selisih sebesar 15,27%. Selain melihat masalah Covid-19 dari tingkat nasional, kita perlu melihat dengan kacamata elang, lebih luas, dan komprehensif yaitu dengan melihat kondisi terkini di negara-negara lainnya,” ungkapnya.

Melihat data perbandingan, kasus aktif Indonesia berada di kisaran 13,25%. Angka itu lebih rendah jika dibandingkan negara-negara di Eropa seperti Belgia (90,64%) dan Perancis (90,36%), yang sedang berada pada puncak kenaikan kasus. Yang mana, kedua negara itu persentase kasus aktifnya sudah melebihi 90%.

Bahkan membandingkan dengan negara besar lainnya, dan memiliki kesamaan karakteristik dengan Indonesia, yakni Amerika Serikat berada di kisaran 39,06%.

BACA :  Demokrat Mulai Panaskan Mesin Partai Bersiap Lawan Trah Rau di Pilkada Kabupaten Serang

“Atau (Amerika Serikat) 3 kali lipat dari angka kasus aktif di Indonesia,” imbuh Wiku.  

Lalu, membandingkan sejumlah negara di Asia Timur, seperti Korea Selatan (17,60%), Jepang (14,44%) dan Hongkong (13,65%) yang tengah mengalami tren kenaikan kasus. Jika melihat grafiknya, terlihat jelas di 3 negara itu ada fluktuasi dalam tren kasus aktif.

“Hal ini membuktikan bahwa negara-negara tersebut masuk dalam second wave , yang banyak terjadi di beberapa negara di benua Eropa dan sebagian Asia,” lanjutnya. 

Terakhir, jika melihat kasus aktif di Meksiko, terlihat pada grafiknya, ada tren kenaikan kasus yang cukup tajam dilihat dari ujung grafik yang menukik. Data perbandingan ini, kata Wiku sebagai pembelajaran bagi masyarakat. Bahwa pandemi Covid-19 masih terus berlangsung. Dan masyarakat diminta tidak lengah. 

BACA :  Ditjen Cipta Karya Serahkan 53 Aset BMN ke Pemkab Pandeglang

“Dari data nasional dan dunia, bisa kita ambil pelajaran, bahwa pandemi Covid-19 masih ada, dan ada dimana-mana. Tidak kenal umur, tidak kenal orang, cepat atau lambat, jika seseorang lengah maka akan menjadi penderita selanjutnya,” tegas Wiku. 

Menurutnya, pemerintah memahami bahwa masyarakat sudah jenuh dan lelah menghadapi pandemi ini. “Namun bukan berarti kita harus kalah. Tetap jaga semangat untuk terus memutus rantai penularan,” pesan Wiku. (Advertorial)



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler