Connect with us

Berita Terbaru

Pendapatan Pengrajin Kendang di Kota Serang Anjlok Dihantam Pandemi

Published

on

Sayuti salah satu pengrajin kendang di ibu kota Provinsi Banten. (Dok. BantenHits.com)

Serang – Pengrajin kendang asal Kamalaka, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Banten pernah meraup omset jutaan rupiah. Namun, akibat dampak pandemi Covid-19 membuat pendapatannya anjlok.

Pria asal ibu kota Provinsi Banten ini adalah Sayuti. Ia bercerita awal mendirikan usahanya itu sejak 2007-an lalu yang diawali dari usaha kecil-kecilan dengan fasilitas seadanya.

Sayuti awal merintis kerajinan tersebut hanya dengan bermodalkan satu buah golok. Begitupun dengan omsetnya yang belum mencapai jutaan rupiah.

Badai pandemi ini ternyata semakin membuat suram produksi hingga menurunnya pemesanan alat secara drastis. Ia diketahui menerima pesanan membuat alat musik rebana, kendang, dan berbagai macam ukuran terbang gede.

“Selama pandemi ini, omset itu bukannya turun lagi, tapi anjlok dan nggak ada pemasukan sama sekali. Tapi produksi terus (berjalan), tapi untuk peminat itu susah sekali,” kata Sayuti mengeluhkan kepada wartawan belum lama ini.

BACA :  Beri Izin Mobil Plat Merah Dipakai Mudik, Wali Kota Serang: Ada Syaratnya

Ia menyebutkan, hasil dari kerajinannya ini baru saja mendapatkan pesanan dari luar Banten seperti Palembang dan Lampung. Karena sebelumnya, untuk pemasaran sendiri hanya mendapatkan pesanan dari wilayah Banten saja.

“Insya Allah kalau masalah kualitas bisa saya jamin, apalagi yang peminatnya itu orang-orang Banten juga, dekat. Kalau ada apa-apa bisa menghubungi kembali,” ujarnya.

Menurutnya, peminat lebih melihat dari kualitas. Namun begitu, saat pandemi ini mungkin para peminat yang mau membeli alat, biayanya kewalahan sulit. Karena sebelumnya tidak seperti ini.

Sedangkan permintaan masih banyak, alat-alatnya masih ada. Pesanan-pesanan pun masih ada, karena pengiriman dipending alias dibatalkan lantaran pandemi.

“Kita juga modal tertunda, macet. Barang sudah ada, tapi belum dibawa,” katanya.

BACA :  Rano Akan Tetapkan Brigjen KH Syam'un sebagai Pahlawan Banten

Sementara untuk harga rebana satu set, hadroh dan rudat yang berkualitas harganya sama sekitar Rp400 ribu. Karena bahan yang digunakan berasal dari kayu mahoni dan kayu nangka.

“Kalau kendang, tergantung kayunya. Ada kayu nangka, bisa Rp4 juta. Kayu ambon, bisa kena Rp3 juta,” jelasnya.

“Untuk terbang gede tergantung diameter, ada diameter yang 50 centimeter bisa kena Rp2,5 juta. Kalau yang lebih dari 60 sentimeter itu bisa kena Rp4 juta,” sambungnya.

Meski sudah selama 16 tahun-an menekuni bidang tersebut, ia mengaku sama sekali tak pernah merasakan bantuan dari pemerintah. Pelaku UMKM ini mengaku tidak pernah didaftarkan ataupun mendaftar untuk mendapatkan bantuan baik permodalan maupun pemasaran.

BACA :  Dugaan Warga Baduy Luar Jadi Korban Pemerkosaan dan Pembunuhan Menguat, Polisi Temukan Ini di Alat Vital Korban

“Selama pandemi ini, memang belum dapat bantuan (modal). Sebelum pandemi juga belum pernah sama sekali seperakpun (dapat) bantuan dari Pemerintah,” ungkapnya.

Alasan Sayuti tidak mendaftar dalam perbantuan modal bagi pelaku UMKM terdampak pandemi ini. Karena kata dia, mungkin lebih banyak orang yang lebih membutuhkan.

“Makanya saya nggak daftar. Saya pikir kalau daftar, mungkin PNS yang punya mobil juga daftar,” ucap dia.

Sebab, ia melihat di kelurahannya sendiri banyak juga masyarakat yang mendapat bantuan. Namun ia menyebut yang menerima bantuan itu tidak tepat sasaran.

“Banyak yang nggak perlu bantuan, tapi kan daftar, dapat. Intinya nggak tepat sasaran,” tuturnya.

“Makanya kalau bisa pemerintah itu turun sekali-kali. Biar tau di lapangan seperti apa,” kata Sayuti menyarankan.

Editor: Mursyid Arifin



Pria kelahiran Cihara, Kabupaten Lebak ini, dikenal aktif berorganisasi. Sejak sekolah hingga kuliah, jabatan strategis dalam organisasi pernah diembannya. Mursyid dikenal memiliki daya juang dan dedikasi tinggi dalam pekerjaannya.

Terpopuler