Connect with us

OPINI

Endog Bebek dan Batas Kabupaten

Published

on

Anggota Komisi IV DPRD Lebak, Dian Wahyudi. (Dok. Pribadi)

BantenHits- Alhamdulillah, mendapat kabar dari salah seorang konstituen saya, paska banjir diakhir tahun 2020 yang lalu, bebek petelur miliknya, yang jumlahnya tidak seberapa (baru memulai lagi), sudah mulai bertelur. Pekan kemarin sudah mulai di asinkan, dan hari ini kata beliau sudah bisa di konsumsi.

Telur asin matengnya gurih legit kata saya ke beliau. Itu hanya direndam air garam saja jawab beliau. Kok bisa tanya saya. Bisalah, tukas beliau, kepo ikh. Rahasia perusahaanlah. Haha… saya hanya bisa ngakak kalau sudah keluar kata rahasia perusahaan, tapi asli memang enak. Tapi sayang produksinya masih terbatas.

Beliau memang aslinya peternak bebek dengan ratusan bebek petelur, namun sejak awal pandemi Covid-19 merebak, sempat berhenti karena berbagai pertimbangan. Dan itu tadi baru akhir 2020 mulai mencoba lagi, sempat terkena musibah banjir, dan sempat mengejar-ngejar bebeknya di tengah banjir.

Kita do’akan agar ternak bebeknya terus berkembang, dan kepercayaan dirinya tumbuh kembali untuk memulai usaha, apalagi ditengah pakan huut (dedak) yang agak susah dicari, harus leukeun (rajin) berkeliling ke beberapa penggilingan padi, kalau telat bisa-bisa didahului orang lain.

BACA :  Negeri Seribu Curug, di Balik Pesona Lebak yang Tersembunyi

Hari ini, saya juga bersilaturrahmi ke KH. Asep Saefullah, M.Pd, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) La Tahzan Citeras Rangkasbitung. Beliau juga Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Lebak serta Sekretaris Umum MUI Lebak.

Untuk menuju Ponpes beliau, patokannya setelah Puskesmas rawat inap Desa Mekarsari belok ke kiri, ke kampung Kalapa Tilu Desa Citeras (saya tidak akan bercerita tentang sejarah nama ini, pokokna kitu bae). Jalannya masih jalan batu, untungnya hanya berjarak 200 meter saja ke ponpes beliau. Persis setelah ponpes La Tahzan, terdapat gapura, ternyata sudah masuk perbatasan Kabupaten Serang.

Saya diterima disaung panjang yang tersedia di depan lapangan ponpes. Tampak lalu-lalang beberapa santri dan santriwati. Saya bertanya, mereka santri tingkatan apa kepada kiyai Asep. Mereka santri tingkat SMP yang baru datang lagi ke pondok, jawab beliau, kalau untuk tingkat SMA baru hari Rabu tukas beliau.

BACA :  Destinasi Wisata, Mimpi dan Harapan

Pondok pesantren La Tahzan, menurut beliau adalah pondok Takhasus Al Qur’an dan Kitab Kuning, jadi disamping menjadi seorang Qori atau Qurrāʾ “pembaca”, melantunkan bacaan Al-Quran dengan mentaati aturan-aturan (tajwīd) yang benar, lulusan SMP minimal memiliki hafal Al Qur’an 1 Juz (juz 30) sedangkan lulusan SMA minimal memiliki hafal Al Qur’an 2 Juz (juz 30 ditambah juz 1), serta dapat membaca Kitab Kuning.

Sambil ditemani kopi hitam pahit dan kacang tanah, kami ngobrol, utamanya tentang perkembangan pendidikan ditengah pandemi covid-19, kondisi kedaerahan sampai nasional (siga nu heueuh nyah), tapi apapun kondisinya kita memang harus terus peduli dan terus menjaga kondusifitas bangsa.

Disamping itu, kiyai Asep atau sebenarnya mungkin juga harapan warga kampung kalapa tilu serta yang sering melintas menuju perbatasan kabupaten Serang, lewat kampung Lalay Pagintungan Jawilan ini, berharap agar jalan desa dapat ditingkatkan menjadi jalan kabupaten, karena jalan yang masuk ke Serang sudah dicor, sedangkan jalan yang masuk ke Lebak masih jalan batu. Sangat terasa, ada anekdot, lamun jalan na ngagejlug berarti sudah masuk ka Lebak (kalau jalannya bergelombang berarti sudah masuk ke Lebak). Waduh…

BACA :  Bercermin dari Terancam Bangkrutnya Saung Angklung Udjo

Ba’da sholat Ashar, saya diminta untuk menyampaikan motivasi kepada para santri dan santriwati. Sebenarnya agak sungkan, karena ilmu kiyai Asep tentunya lebih mumpuni. Namun sebagai bagian dari berbagi ilmu, saya menyampaikan beberapa hal tentang pentingnya membaca, berorganisasi dan menulis serta belajar banyak hal, termasuk belajar berbicara di depan umum. Seperti pepatah lama mengatakan, Alah bisa karena biasa.

Bahagia bisa berbagi dan saling memberi motivasi. Saya berikan pula beberapa buku, untuk disimpan di perpustakaan, agar dapat dibaca, mungkin saat ini belum begitu dapat dimengerti, masih selalu menggunakan kalimat pembuka pada suatu hari…, namun suatu saat, dengan terus belajar, semoga dapat mengingatkan mereka, tergerak untuk menulis, sehingga kemudian menjadi sebuah karya bermutu yang dibaca banyak orang. Aamiin.

Penulis: Dian Wahyudi
Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler