Connect with us

Berita Terbaru

HET Pupuk Subsidi Naik, DPRD Banten Sebut Pemerintah Kurang Peduli pada Petani

Published

on

Pupuk Subsidi SP36. (FOTO harga.web.id)

Serang – Wakil Ketua DPRD Banten, M. Nawa Said Dimyati mengaku keberatan adanya kenaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi. Kenaikan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 49 Tahun 2020.

Dalam peraturan tersebut harga pupuk urea naik sejak awal tahun 2021, dari Rp 1.800 menjadi Rp 2.250. Pupuk ZA dari Rp1.400 menjadi Rp 1.700. Pupuk SP-36 dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.400. NPK phonska dari Rp 2.300 menjadi Rp 2,300. Dan Petroganik dari Rp 500 menjadi Rp 800 per-kilogram.

“Saya beberapa kali bertemu dengan petani, mereka sangat keberatan (HET Pupuk Subsidi naik). Apalagi petani muda, semangat mereka untuk bertani menjadi berkurang gara-gara kanaikan ini,” kata Nawa, Kamis 7 Januari 2021.

BACA :  Ramadan Berbagi', Hero Ajak Generasi Muda Lakukan Kegiatan Bermafaat Selama Bulan Puasa

Nawa mengaku sebelum adanya kenaikan pupuk, dia sempat mendengarkan keluhan dari para petani yang sulit mendapatkan pupuk subsidi di beberapa daerah seperti Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

“Menjelang akhir tahun kemarin itu pupuk langka, lagu lama dalam melakukan kenaikan harga hal itu sering terjadi,” ujarnya.

Politisi partai Demokrat Banten yang akrab disapa Cak Nawa itu merasa kepedulian Pemeritah terhadap petani semakin hari semakin berkurang.

“Para petani tercekik dengan adanya kenaikan harga pupuk, hasil pertanian mereka hampir tidak sebanding dengan harga pupuk subsidi,” ungkapnya.

Dia berharap, kebijakan itu bisa dievaluasi kembali oleh Kementerian Pertanian agar para petani tidak merasa keberatan.

“Jangan sampai para petani terutama petani muda enggak mau menjdi petani lagi, karena jantungnya Indonesia itu dari pertanian, tanpa ada petani mau makan apa?,” pungkasnya.

BACA :  SDN Kependilan Jadi Langganan Banjir, Dindik: Jangka Pendek Sudah Ditangani

Editor : Engkos Kosasih



Pernah menjadi tokoh mahasiswa selama kurun perkuliahan 2015-2019, pria asal Banten Selatan ini memutuskan pilihan hidup menjadi jurnalis setelah lulus kuliah. Tolib memiliki ketertarikan pada dunia kepenulisan.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler